Membangun Solusi Maraknya Pembuangan Bayi

Oleh: dr. Sinta Prima Wulansari [Dokter Cinta Islam Peduli Umat]

Indonesia Police Watch (IPW) mencatat, selama bulan Januari 2018 sebanyak 54 bayi dibuang di jalan. Diantaranya 27 bayi selamat dan 27 bayi meninggal. Pelakunya adalah wanita usia 15-21 tahun. (Hidayatullah.com)

Komentar :

Angka kasus pembuangan bayi semakin meningkat. Alasan utama pembuangan bayi adalah karena kehamilan yang tidak diinginkan (KTD), dimana berawal dari pergaulan bebas yang dilakukan para remaja. Pergaulan bebas ini semakin marak terjadi akibat beberapa hal, diantaranya :

1. Pendidikan sekuler. Proses pendidikan paling utama yaitu pendidikan di rumah oleh orang tua. Orang tua yang tidak menjadikan agama sebagai prioritas dalam proses tumbuh kembang anak, minim pengetahuan agama, atau bahkan hanya mendorong anaknya dengan motivasi materi, akan melahirkan generasi yang imannya minimalis. Ditambah lagi kurikulum sekolah yang pelajaran agama porsinya hanya sedikit, penilaiannya hanya diukur secara nominal dan tidak mempengaruhi perbuatan dan tingkah laku, semakin menjauhkan remaja dari kesadaran beragama.

2. Pergaulan. Interaksi lelaki dan perempuan yang tanpa batas, kebiasaan bersolek dan mengumbar aurat, akan membuat naluri seksual/syahwat kepada lawan jenis menjadi liar. Ditambah lagi dengan lingkungan yang memaklumkan  pacaran, laki perempuan boncengan, berduaan, dan bercampur baur, maka pintu perzinaan makin terbuka.

3. Media porno, juga turut mengedukasi remaja bagaimana melakukan hubungan intim dan membangkitkan pikiran porno sehingga menyebarkan opini di tengah masyarakat bahwa wanita sebagai objek seksual dan interaksi manusia didominasi oleh kepentingan syahwat.

4. Ekonomi. Tuntutan ekonomi dan gaya hidup tak jarang mendorong remaja putri menghalalkan segala cara, termasuk menggadaikan kehormatannya demi rupiah. Ini juga turut meningkatkan kejadian KTD.

5. Sanksi yang relatif longgar. Misalnya, pasal 484 KUHP tahun 2015 menyatakan bahwa hukuman bagi zina maksimal lima tahun. Artinya hukumannya bisa lebih ringan lagi. Berlakunya hukum ini pun terbukti tidak membuat jera pelakunya, karena faktanya angka perzinaan terus meningkat, bahkan dianggap legal dengan adanya lokalisasi prostitusi.

Oleh karena itu, solusi bagi maraknya kasus pembuangan bayi tidak hanya dari satu aspek saja, namun butuh upaya pada diri individu, masyarakat, dan negara. Mari kita kikis sekulerisme, yang menjadi biang kemaksiatan.

Mari kita sadari bahwa kita adalah makhluk Allah yang sepatutnya tunduk pada aturan hidup yang sudah digariskanNya, tunduk kepada syariah secara sempurna. Setiap pribadi hendaknya menyadari bahwa setiap perbuatannya akan dipertanggungjawabkan di akhirat. Mereka akan mengingat firman Allah, "Dan janganlah kalian mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk" (QS Al Israa' : 32).

Setiap lelaki dan perempuan seharusnya menutup aurat, menjaga pandangan dan kehormatannya, para orang tua berperan aktif mendidik anaknya sesuai ajaran Rasulullah, masyarakat diharapkan saling peduli dan kompak dalam mencegah kemaksiatan, pornografi, pornoaksi, dan apapun yang mengarah pada zina. Negara sungguh punya peranan yang besar. Negara wajib menyelenggarakan pendidikan berbasis aqidah Islam, mengontrol media, menegakkan ekonomi Islam yang menjamin kesejahteraan, serta sanksi islam (uqubat) yang adil dan membuat jera. Untuk mewujudkannya tidak mungkin di dalam iklim demokrasi sekuler, dimana agama tidak dianggap penting. Hanya dalam khilafah, syariat Islam secara sempurna dapat terlaksana. Dengan izin Allah, rahmat Islam akan dirasakan oleh seluruh makhluk alam.

Allah Swt telah memperingatkan kita, "Maka jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, lalu barangsiapa  yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka" (QS Thoha : 123). Maka marilah kita berupaya melaksanakan perintah Allah secara kaffah.

Post a Comment

0 Comments