Keluarga Tangguh Sejak Pra Nikah

Oleh: Kholda Naajiyah*

Jember darurat Ketahanan Keluarga. Bagaimana tidak, kota yang dijuluki seribu kota santri ini tercatat ada 5.740 kasus perceraian yang ditangani oleh Pengadilan Agama Jember pada tahun 2017 kemarin. (Kabar24.id/23-01-2018).

Tidak hanya itu, Menteri Agama Lukman Hakim pun mengungkapkan kegalauannya, karena peningkatan angka perceraian rata-rata mencapai 10 hingga 15% di seluruh Indonesia. “Karena itu, laki-laki harus tahu fungsi suami dan perempuan paham fungsi istri,” tegasnya dalam situs Kemenag.go.id.

Nah, untuk mengatasi persoalan tersebut, solusi yang ditawarkan adalah mewajibkan pasangan yang akan nikah untuk mengantongi sertifikat pranikah. “Yang akan menikah harus memiliki sertifikat kursus pra-nikah,” kata Menag, (10/11/16) lalu dalam pembukaan Mukernas I MUI Pusat, di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta Utara.

Tentu saja, solusi ini hanya parsial. Tidak akan mampu mewujudkan ketahanan keluarga hanya dengan kursus singkat yang menjelaskan fungsi suami-istri. Karena, persoalan mendasar gagalnya kerumah-tanggaan, bukan sekadar gagal pahamnya suami-istri dalam memainkan peran. Lebih dari itu, ada campur tangan negara dengan sistem kehidupannya yang menyebabkan suami-isteri tak berdaya menjalankan fungsi idealnya.

|[ Keluarga Liberal = Keropos ]|

Perceraian bukan satu-satunya problem kerapuhan keluarga-keluarga Indonesia. Kondisi keluarga utuh pun, keropos di dalamnya. Bersatu memang, ayah-ibu ada, anak tampak baik-baik saja. Tetapi tiba-tiba meledak kasus-kasus seperti: suami menembak istri, istri bunuh diri, ibu bunuh anak, ayah-ibu mengajak anak bunuh diri, ayah memperkosa anak, anak memperkosa ibu, anak hamil di luar nikah, ibu jual anak, dan sebagainya. Keluarga macam apa ini?

Itu adalah keluarga sekuler yang cenderung liberal. Potret keluarga yang cenderung mengadopsi nilai-nilai liberal sebagai pondasi, hingga menghasilkan keluarga keropos. Kelihatannya utuh, ayah ada, ibu ada, anak-anak tampak baik-baik saja. Tetapi di dalamnya kering akan nilai-nilai kekeluargaan. Kerontang dari nilai-nilai keagamaan.

Keluarga liberal bercorak materialistis. Mengutamakan kebutuhan materi dibanding kebutuhan nonmateri. Keluarga liberal lebih banyak menghabiskan uang dan waktunya untuk memenuhi kesenangan jasmani. Merasa cukup dan bahagia jika materi tercukupi. Tetapi, batin tersiksa. Tidak pernah merasa puas. Jenuh. Stres. Selalu haus mencari kebahagiaan lain, pelampiasan lain dan berujung pada kehancuran.

|[ Pendidikan Berbasis Islam ]|

Perhatian pemerintah terhadap ketahanan dan ketangguhan keluarga baru dimulai setelah kasus perceraian merebak. Padahal perceraian itu hanya puncak dari kegagalan pemerintah dalam menerapkan sistem hidup yang menjamin ketahanan keluarga. Sistem yang komprehensif, mencakup aspek pendidikan, ekonomi, sosial, hukum dan pemerintahan.

Aspek  pendidikan misalnya, di mana kurikulum sekuler justru mendidik dengan pemahaman yang sesat tentang makna keluarga. Seperti menanamkan nilai-nilai emansipasi pada anak didik, sehingga kaum wanita terdorong mengejar karier, meskipun harus melawan suami dan fitrahnya sendiri.

Diajarkan pula kurikulum kesehatan reproduksi ala liberal, yang mengajarkan wanita berhak atas organ reproduksinya sendiri, berhak menolak hamil meski atas permintaan suami, dll. Padahal inilah pemicu liberalnya wanita, liberalnya keluarga dan berujung hancurnya rumah tangga. Anak didik yang dicekoki pemahaman liberal, kelak akan membentuk keluarga-keluarga liberal pula.

Idealnya, pembentukan keluarga yang kokoh, dimulai sejak dini, melalui proses pendidikan berbasis aqidah Islam. Dari pendidikan yang ditempuh, pola pikir dan pola sikap terbentuk. Kepribadian atau syakhsiah terwujud sehingga menjadi pribadi yang tangguh. Pribadi yang agamis, islami dan menomorsatukan nilai-nilai spirutual. Jauh dari nilai-nilai liberal.

Pribadi seperti ini juga akan melangsungkan pernikahan dan membentuk keluarga dengan visi akhirat, bukan duniawi semata. Mencari pasangan satu visi, satu aqidah. Maka ia akan membentuk keluarga ideologis yang tangguh.

Untuk itu, agar keluarga kokoh, tidak cukup dadakan dengan kursus pranikah singkat sebelum hari akad. Pernikahan adalah fase kehidupan yang harus dipersiapkan jauh-jauh hari

sejak manusia mulai baligh. Mulai menjelang dewasa, saat di mana usia pernikahan siap menghampirinya.

|[ Cegah Kerapuhan ]|

Upaya yang seharusnya dilakukan pemerintah untuk mencegah kerapuhan keluarga dan mewujudkan keluarga-keluarga yang tangguh antara lain:

Pertama, terapkan kurikulum pendidikan berbasis aqidah Islam untuk membentuk kepribadian mulia, jauh dari nilai liberal. Siapkan generasi muda agar kelak membangun keluarga dengan visi akhirat, yakni melahirkan generasi penerus yang berguna bagi umat, bangsa dan agama. Bukan sekadar membentuk keluarga untuk status sosial, menumpuk materi atau bersenang-senang semata.

Kedua, tegakkan sistem sosial yang memisahkan dengan tegas interaksi laki-laki dan perempuan. Banyak keluarga rapuh karena pernikahan didahului 'kecelakaan' alias hamil duluan. Ini karena tegaknya pergaulan bebas tanpa batas antara laki-laki dan perempuan yang dibiarkan negara. Karena itu, negara wajib melarang segala event berbentuk campur baur laki-laki perempuan. Misalnya konser musik, pertunjukan bioskop/layar tancap, dll.

Ketiga, haramkan dan larang pacaran. Beri sanksi tegas bagi pelakunya. Pacaran adalah pintu perzinaan. Banyak keluarga yang dibangun didahului pacaran malah bubar, karena kemesraan terlanjur diumbar saat belum halal.

Keempat, haramkan dan berangus hingga akarnya, segala bentuk pornografi dan rangsangan syahwat di ranah publik. Tegakkan regulasi ketat terhadap media massa yang dijadikan sarana penyebaran kemaksiatan. Keterbukaan informasi telah mengganggu keharmonisan keluarga, disebabkan besarnya godaan dari berbagai media.

Kelima, permudah lapangan pekerjaan bagi laki-laki baligh. Para suami sudah pasti wajib memiliki akses untuk mendapatkan nafkah. Anak laki-laki yang sudah baligh, harus didorong dan diberi kesempatan untuk bekerja dan mencari nafkah. Jangan dimanjakan dengan predikat “masih anak-anak” sehingga dianggap eksploitasi jika mempekerjakan anak-anak usia di bawah 18 tahun, padahal sudah baligh. Kerja keras sejak dini membentuk mental baja saat sudah berkeluarga.

Keenam, jamin kesejahteraan keluarga sehingga tidak ada alasan untuk bercerai karena persoalan ekonomi. Murahkan segala kebutuhan keluarga, seperti harga rumah, biaya pendidikan, kesehatan, dll. Supaya tidak ada alasan suami-istri terpisah karena masing-masing disibukkan mencari nafkah di tempat yang berbeda, seperti fenomena TKI/TKW yang membuat rapuh bangunan keluarga.

Ketujuh, permudah pernikahan dan persulit perceraian. Pintu pernikahan harus dipermudah agar tidak merajalela pergaulan bebas, sehingga ada yang menikah karena terpaksa pasca berzina. Sementara itu, perkuat pendidikan bagi keluarga-keluarga, baik pendidikan untuk ayah maupun ibu, agar terus terjadi keharmonisan sehingga tidak mudah ketok palu perceraian.

Tegakkan Sistem Islam

Mewujudkan ketahanan keluarga di tengah ketahanan nasional, masih jadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah. Karena, kehancuran keluarga melanda berbagai strata. Mulai kalangan bawah hingga atas, keluarga bubrah. Semua itu karena negara menerapkan pondasi sekulerisme yang salah. 

Padahal, negara adalah tiang penyangga (soko guru) tegaknya keluarga-keluarga tangguh. Maka tidak ada kata lain, negara harus merobohkan dulu pondasi sekulerisme dan diganti dengan pondasi Islam. Hanya dengan cara itu ketahanan keluarga akan siap menghadapi tantangan zaman, baik di dunia maupun akhirat.(*)

Post a Comment

0 Comments