Kartu Merah Untuk Jokowi

Oleh : L.M. Nur Rahmad (Wakil Ketua I Majelis Permusyawaratan Mahasiswa Universitas Halu Oleo)

Beberapa waktu lalu, Indonesia disuguhkan aksi heroik Mahasiswa UI yang benar-benar memukau para penonton disekelilingnya. Tak ayal aksi tersebut termuat pada beberapa akun sosmed hingga menuai banyak pujian,  secara pribadi saya pun salut kepada sdr. Mohammad Zaadit Taqwa (Ketua BEM UI). ya... sebuah tiupan pluit dan kartu kuning berhasil dilayangkan pada orang yang katanya No. 1 di negeri ini.

Dalam permainan sepakbola, pemain dengan sengaja melakukan pelanggaran “ringan” akan diganjar kartu kuning yang berarti sebuah “peringatan”. Lantas bagaimana dengan aksi Mahasiswa UI tersebut? Terkuak bahwa tindakan tersebut adalah pemberian peringatan kepada Bapak Ir. Joko Widodo bahwa masih banyak tugas yang belum terselesaikan serta untuk berhati-hati bahwa mahasiswa tidak tinggal diam. (detik.com, 02 Februari 2018).

Bila awam, tentu itu hal aneh.
Bila paham, itu justru sindiran pada mahasiswa yang kritiknya terninabobokan pada batas “Kuliah, Kamar, Kampung”

Tata kelola negeri yang katanya “baik-baik saja” seakan “putih” dimata Mahasiswa zaman now. Flashback janji kampanye nihil jadinya, semboyan “Kerja Kerja Kerja” hanyalah “gigitan jari” semata. Buy back Indosat? Tidak bagi-bagi kekuasaan? Tidak menaikkan harga BBM? Ciptakan 10 Jt lapangan pekerjaan? Tidak akan utang lagi? Persulit investor asing? Tidak akan hapus subsidi BBM? Tidak import pangan? Wkwkwkwkwland.... saya masih waras, bullshit semua. Tak ada yang terealisasi.

Tak terlupakan pula, hingga menyayat hati kaum muslim. Persekusi ulama, habaib, aktivis dakwah, pembubaran ormas islam tanpa adanya tindakan persuasif? Apakah bukan masalah? LGBT disanjung, wacana perwira aktif akan dijadikan Plt gubernur? Apakah ini waras?

Penguasa harus bertanggungjawab!!! Jika tidak, nantikanlah “Pluit Ke Dua” dan “Kartu Merah”.

Sejarah pernah bernari-nari, tumbangnya orde baru lahir dari diskusi kecil dimotori oleh mahasiswa lalu melahirkan sebuah “reformasi”. Oleh karenanya, perlu ada diskusi panjang bagi seluruh “aktivis” mahasiswa untuk melahirkan solusi bukan sekedar “reformasi” terhadap kemerosotan negeri yang tak kunjung ada habisnya.

Dihembuskannya pluit dan terlayangnya kartu kuning menjadi pemantik “api kemarahan” bagi seluruh “aktivis” kampus Indonesia yang masih tertanam rasa kritis pada organ “pergerakannya” untuk menuntut hak rakyat.

Saya, L.M. Nur Rahmad selaku Wakil Ketua I Majelis Permusyawaratan Mahasiswa Universitas Halu Oleo (MPM UHO) siap meniup “PLUIT KE DUA” dan siap melayangkan “KARTU MERAH” kepada Presiden RI Bapak Ir. JOKO WIDODO.

#SalamKartuMerah

Post a Comment

0 Comments