Jerihku Semakin Tak Dihargai 


Oleh : Windi (Pelajar SMAN 1 Balong kab Ponorogo)


Guru adalah pembangun insan cendekia. Beliau-beliaulah pelita di negeri ini ditengah gelapnya hantu kebodohan. Bukan hanya di situ saja, guru juga menjadi pembangun pondasi pendidikan para generasi muda pada suatu negara. 

Namun sangat disayangkan, akhir-akhir ini banyak kasus yang membuktikan kurangnya penghargaan terhadap sang pelita bangsa. Seperti kasus penganiayaan yang dilakukan seorang siswa SMA di Jawa Timur yang bergelut sengit dengan guru mapel SB, dan berujung maut. Padahal jika kita berkaca pada Islam, apakah ini perilaku pemuda Islam yang sesungguhnya? Tentu saja bukan! Pemuda Islam harusnya menghormati guru, karena beliau telah sudi menularkan ilmunya kepada kita tanpa balas jasa. Tak dapat dipungkiri, inilah segelintir bukti minimnya kaca mata Islam pada pemuda Indonesia.

Kembali ke topik awal, guru memang sangatlah berjasa dalam kehidupan kita. Namun keberadaan perjuangannya justru dibalas teror ancaman di negeri kapitalis. Kebebasan dianggap tanpa batas aturan, ujung-ujungnya mengatasnamakan HAM dan memenjarakan. Guru menegur siswanya kini dianggap melakukan penghinaan dan kekerasan, namun ketika siswanya tega dengan sadisnya menganiaya gurunya hingga berujung maut justru kebal akan penjara, dengan alasan masih dibawah umur.

Miris memang. Bagaikan mimpi suram yang terealisasikan. Perkembangan zaman benar-benar mengubah sikap para pemuda menjadi generasi monster yang bermental koyak dengan perilaku sadis dan anarkis.

Perjuangan guru di era liberalime ini memang dituntut lebih dari masa sebelumnya. Lebih berhati-hati dan lebih berbesar hati. Namun apa yang mereka dapat tidak seimbang dengan apa yang mereka kerahkan. Bahkan harus siap berjuang kematian, seperti yang dialami Alm. Pak Budi. 


Mari kita melek fakta yang ada di lingkungan kita. Berapa sih gaji guru honorer pada umunya? Tidak lebih dari angka lima lembar seratus ribuan saja. Padahal jika kita menelusuri kembali ke belakang mengenai apa yang telah mereka perjuangkan hanya untuk mendapat kepercayaan mengampu sebagai seorang yang bergelar guru.
 
Ya, benar sekali. Pendidikan minimal S1. Jika kita teliti lebih detil lagi, berapa biaya yang mereka korbankan untuk mendapai ijazah S1 tersebut? Lebih dari angka lima puluh jutaan. Belum lagi pengorbanan waktu selama 4 hingga 5 tahunan. Sebuah nominal yang sangat tidak sebanding dengan apa yang para guru korbankan.

Angka pendapatan yang guru honorer terima tersebut menjadi bukti kurangnya penghargaan pemerintah terhadap para patriot pahlawan bangsa. Padahal ada banyak resiko yang harus mereka saguhkan. Bagaimana jika guru honorer tersebut sudah memiliki keluarga? Lagi-lagi, mereka harus memutar otak untuk menyukupi beragam kebutuhan keluarganya.

Pemerintah memang telah sejak lama melakukan program pengangkatan guru honorer menjadi PNS. Namun bagaimana pelaksanaannya? Apakah sesuai dengan yang diwacanakan? Jauh dari impian. Pencalonan yang erat akan uang telah membudaya. Hingga guru honorer semakin jauh terasingkan dari harapan. Pengabdian mereka hingga berpuluh tahun tak kunjung menemukan titik terang. Hal ini banyak menjadikan banyak guru honorer berguguran dalam melaksanakan tugas sucinya, karena tuntutan kebutuhan hidup yang semakin menyesakkan dada. Dan pada akhirnya mereka dengan terpaksa memutar profesi menjadi buruh kasar swasta hanya demi mengepulkan asap dapur keluarga.

Sangat disayangkan memang. Padahal apa yang mereka kerahkan sama dengan apa yang guru PNS kerjakan. Namun apa yang mereka dapatkan sangat jauh jika diselohkan. Ketika para guru honorer mendapat hanya tak lebih 5 lembar seratus ribuan, namun para guru PNS bisa meraup gaji lebih dari 5 jutaan. Perbedaan jumlah gaji yang sangat signifikan. Hal tersebut menjadikan wajah kehidupan guru honorer yang erat kaitannya dengan kesederhanaan. Karena lima lembar seratus ribuan hanya sampai di bahan bakar kendaraan saja. Tidak sampai ke perut apalagi harta. Di sini akan terjadi kesenjangan gaya hidup antara guru PNS dan guru honorer yang sangat ketara.

Padahal agama Islam memposisikan guru atau pendidik pada kedudukan yang mulia. Para pendidik diposisikan sebagai bapak rohani (spiritual father) bagi anak didiknya. Beliau memberikan santapan rohani dengan ilmu dan pembinaan akhlak mulia (akhlaqal karimah) dan meluruskannya. Oleh karena itu, pendidik mempunyai kedudukan yang sangat tinggi, bahkan tinta seorang alim (guru) lebih berharga dari pada darah para syuhada. Keutamaan seorang guru atau pendidik disebabkan oleh tugas mulia yang diembannya. Tugas yang diemban guru (dalam ajaran islam) hampir sama dengan tugas seorang Rasul. Hal ini, misalnya, tertera dalam sebuah syair karya Syauqi: Berdiri dan hormatilah guru dan berdirilah penghargaan, seorang guru itu hampir saja merupakan seorang Raasul (AlAbrasy, 1987: 135).

Namun di era ini yang terjadi justru sebaliknya. Banyak siswa yang tak memiliki etika, dan durhaka terhadap gurunya. Terlebih guru honorer, tak hanya kurangnya perhatian dari pemerintah namun ditambah perannya semakin tak dihargai oleh murid-muridnya.

Impian klise lama mengenai pengangkatan menjadi PNS hanya menjadi harapan yang sulit digapai. Berpuluh-puluh tahun mengabdi untuk negeri, tapi keberadaannya tetap sulit dihargai, bahkan nyawa merekapun juga terancam di tangan pemuda bangsa yang tegap menawan

Post a Comment

0 Comments