Islam Politik dan Jalan Pembebasan Indonesia



Oleh: Rahmadinda Siregar (Aktivis BMI Caomunity Yogyakarta, Mahasiswi Sejarah Kebudayaan Islam)


Islam adalah sebuah pandangan hidup (world view of life) yang unik, yang dibangun atas landasan akidah yang unik pula. Sebagai sebuah sudut pandangan kehidupan, Islam diturunkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam. Hal ini dijelaskan Allah di dalam al-Qur'an

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman: 

Artinya: Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. – (QS.21:107)

Karakteristik Islam yang unik tersebut, tidak hanya sesuai dengan fitrah manusia, akan tetapi juga sesuai dengan fitrah pengaturan alam semesta dan kehidupan. 

Oleh karena itu, hanya Islamlah satu-satunya yang mampu membebaskan umat manusia dari penghambaan sesama manusia menuju penghambaan kepada Allah subhanahu wa ta'ala semata di manapun dan kapanpun. 

Sejak awal, Indonesia dikenal sebagai bangsa Muslim terbesar di dunia. Menurut data BPS tahun 2000, Populasi penduduk Muslim sekitar 87,55%. Sekalipun posisi Islam tidak disebut dalam konstitusi sebagai agama negara, akan tetapi kuantitas umat Islam di Indonesia menjadi perhatian besar dunia termasuk negara-negara Barat. 

Posisi Islam begitu melekat erat dalam sejarah perjuangan negeri ini berdiri. Islam di Indonesia merupakan sebuah agama yang hidup dan vital dalam masyarakatnya. 

Dalam proses awal pembentukan negeri Indonesia, persoalan paling krusial adalah menyepakati dasar negara. Dalam sidang-sidang BPUPKI persoalan pokok yang dibicarakan adalah persoalan bentuk negara, batas negara, dasar filsafat negara dan hal-hal lain yang bertalian dengan pembuatan suatu konstitusi. (Suhelmi, 2012: V)

Wacana pembahasan Islam sebagai dasar negara telah lama bergulir di kalangan tokoh-tokoh representatif Islam, sejak Indonesia di bawah kekuasaan Jepang. 

Di saat itu, organisasi politik Islam yang memiliki pengaruh adalah Sarekat Islam (SI) di bawah pimpinan H.O.S Tjokroaminoto.

Sejak tahun 1920-an, istilah negara Islam telah bergulir. Meski masih terasa begitu asing di sebagian telinga masyarakat. Saat itu, pimpinan Sarekat Islam (SI) seperti Surjopranoto dan Dr. Sukiman Wirjisandjojo telah berbicara tentang suatu kekuasaan atau pemerintahan Islam.

Surjopranoto menggunakan tema Een Islamietische regeering (suatu pemerintahan Islam) sementara Sukiman memakai istilah Een eigen Islamietisch bestuur onder Een eigen vlag (suatu kekuasaan Islam di bawah benderanya sendiri).

Lebih jauh, menurut Sukiman bahwa untuk menciptakan kekuasaan Islam di Indonesia, merupakan tujuan kemerdekaan.

Satu-satunya tujuan kemerdekaan yang ingin diraih oleh para pejuang adalah membebaskan negeri Indonesia dari penjajahan bangsa Imperialis. Dan posisi Islam sebagai agama dan ideologi telah lama dilirik oleh para pejuang Islam.

Hal inipun terlihat dalam artikel yang ditulis oleh M. Natsir. Tulisan-tulisan Natsir mengimbau dan membangkitkan kesadaran umat Islam akan bahaya yang sedang mereka hadapi (red:penjajahan)

Dalam salah satu artikelnya ia menggambarkan ancaman tersebut:

"Sesungguhnya sudah cukup lama kita kaum Islam mendengarkan, dan membiarkan segala macam serangan kepada Islam. Ada cara yang "halus" dan ada yang "kasar"; dari pihak politik sebagai Snouck Hurgronye, sampai kepada Kristen Protestan Kraemer dan Ds. Kristoffer; dari Khatoliek Tan Berg, belum lagi dari murid-murid politikus Protestan dan Khatoliek itu menamakan diri mereka "netral agama".

Dalam menghadapi kekuasaan kolonial serta zending Kristen, sikap kalangan Muslimin tersebut tegas, tidak kompromistis. Pemerintahan kolonial dalam pandangan umat Islam saat itu, "seperti sering dikemukan C. Snouck Hurgronye, adalah sebuah pemerintahan orang kafir yang pada hakikatnya tidak sah di mata Islam" (Maarif, 1985: 53)

Kalangan Islam menghendaki agar Islamlah yang dijadikan dasar ideologi perjuangan menghadapi kolonial, sedangkan Nasionalis sekuler sebaliknya menginginkan Nasionalisme yang harus dijadikan landasan yang lepas dari Islam. (Suhemi, 2012: 41)

Keadaan tersebut terus seperti itu hingga menjelang kemerdekaan Indonesia. Dalam sidang BPUPKI pada 1945, gagasan tentang suatu negara Islam muncul ke permukaan secara resmi di panggung politik Indonesia pertama kalinya. Namun sayang, menjadikan Islam sebagai dasar negara seperti yang diusung oleh kelompok Islam politik tentu tidak dapat diterima begitu saja oleh kalangan nasionalis sekuler. Meskipun perjuangan itu telah ditempuh bahkan dipertahankan oleh Ki Bagus Hadikusumo, pada akhirnya Islam politik tetap tidak berhasil dipertahankan oleh kelompok Islam.

Dengan demikian, perjalanan Islam politik di Indonesia telah lama menjadi mainstream perjuangan para pejuang negeri ini. Hanya saja, upaya pelemahan Islam politik dan pengaburan fakta sejarah menjadikan umat Islam hari ini menjadi takut untuk memperjuangkan. Oleh sebab itu, umat Islam harus senantiasa menyuarakan kembalinya penerapan syariat Islam di negeri ini sebagai bukti kecintaan terhadap tanah air. 

Sesungguhnya hanya Islamlah satu-satunya ideologi yang mampu membebaskan negeri ini dari penjajahan Kapitalisme yang rakus, seraya membawa rahmat bagi alam semesta.[]

Post a Comment

0 Comments