IBU RUMAH TANGGA “PLUS” (Menyongsong Kembalinya Peradaban Emas Islam)

Oleh : Fatiha Ummu Nasywah

Apa yang kita bayangkan dari aktivitas seorang ibu rumah tangga? wilayah kerjanya biasanya seputar sumur, dapur, kasur dan pasar. Ketika dirumah berpakaian khas daster buluk kesayangan, bergelut dengan pekerjaan rumah yang tidak ada habisnya, tumpukan piring, cucian, debu, masakan dan lain-lain.

Tidak hanya itu, tanggung jawab mengurusi anak termasuk membantu menyelesaikan tugas sekolah adalah rutinitas mainstream. Meski tidak melulu berdiam di rumah, beberapa aktivitas menuntut untuk keluar rumah seperti ke pasar, silaturahim serta menjalankan kewajiban sebagai seorang muslim.

Membuka Jendela Dunia
Seorang ibu rumah tangga “plus”, pastinya tidak ingin tenggelam dan menghabiskan 24 jam waktu setiap hari hanya di rumah saja, meski Allah telah menjanjikan pahala untuk tugas-tugas tersebut. Namun, lebih jauh, ada kewajiban yang juga tetap harus ditunaikan, yaitu Membuka Jendela Dunia dengan mengisi kelemahana akal dengan ilmu Al Quran dan As Sunnah, mengkaji makna-maknanya lalu dengan itu bisa membuka jendela dunia selebar-lebarnya.

Dalam tiap kesempatan, kita bisa melihat berbagai fakta yang terjadi bahkan dibelahan bumi lain.  Ilmu Islam yang komprehensif menggiring kita untuk tidak hanya sekedar mengindra fakta yang terjadi namun sampai pada pertanyaan ‘apa peran saya untuk dunia?’ Bagi beberapa orang mungkin hal tersebut terlalu muluk dan sulit. Padahal alatnya hanya 3 yakni pemikiran, lisan dan pena. Inilah yang bisa memberikan nilai plus dari sekedar menjadi seorang ibu rumah tangga, yang kelak akan menggoreskan tinta emas sejarah peradaban dunia.

Mengapa disebut peradaban dunia? Ya, karena dunia sekarang sedang sakit! diserang virus peradaban Kapitalisme yang membuat kaum Muslimin benci dan nyinyir dengan agamanya sendiri, lupa dengan sejarah peradaban Islam yang gemilang yang bahkan tidak pernah diraih sedikitpun oleh peradaban sekarang selain kemajuan materi.Virus itu menjangkiti politik, ekonomi, sosial dan budaya di dunia, hingga masuk ke dalam rumah-rumah kita.

Bagaimana kita sebagai muslim menjelaskan pembantaian di Palestina, Suriah, Rohingnya, Pattani? Tubuh mereka terpotong-potong, dicabik, dibakar, kepala dipenggal, hingga darah mengalir bagai sungai. Tidak puas dengan itu, wanita-wanita dijadikan budak nafsu syahwat. Sungguh membayangkannya saja sangat mengerikan. Korban yang paling banyak berasal dari kalangan wanita dan anak-anak. Namun kaum muslim sama sekali tak berdaya menghadapi semua itu. Lain lagi kasus di Afrika, yakni kekurangan makanan yang berkepanjangan hingga seorang wartawan barat menangis dalam ketidakberdaayannya untuk menolong tubuh-tubuh kelaparan.

Semua hanya menjadi tontonan warga dunia saja. Disisi lain LSM dari Barat ribut soal pembantaian anjing yang dipukul, dibakar dalam keadaan belum benar-benar mati, bahkan hewan lebih dikasihani dari pada nyawa manusia!

Bagaimana dengan rumah kita? rupanya budaya liberal, bebas selingkuh dan bebas berzina bagi remaja dengan leluasa masuk melalui tontonan. Anak-anak yang kesepian karena kesibukan orang tua atau karena broken home, mencari kesenangan diri melalui miras. Apa yang sedang terjadi di negeri kita? Kebodohan dalam mengarungi kehidupan yang mengakibatkan ketidaktahuan dalam menghadapi persoalan individu, keluarga dan bermasyarakat.

Diperparah dengan fakta penguasa yang seolah tidak memahami kewajibannya sebagai pelindung, pelayan dan pengurus urusan masyarakat. Hingga hak-hak masyarakat, seperti kekayaan alam negeri ini dirampas akibat neo-imperialisme.

Mengukir Sejarah Peradaban
Sejarah apa yang akan kita torehkan dalam kehidupan, sesungguhnya pilihannya ada dihadapan kita. Menjadi perubah sejarah peradaban yang memanusiakan manusia ataukah hanya meringkuk di dalam rumah dengan kesibukan mengurusi urusan pribadi dan menutup mata terhadap dunia.

Ingat, peradaban bisa dirubah, sebagaimana peradaban Islam yang gemilang 13 abad lamanya. Barat mampu merubahnya menjadi peradaban Kapitalisme dengan sistemnya yang menurunkan harkat manusia yakni menjadikan materi diatas segala-galanya. Begitu juga peradaban Sosialis mampu bangkit ditengah peradaban Kapitalisme dengan sistem yang sama rusaknya bagi kehidupan manusia. Wajar jika negara penganutnya memilih untuk meninggalkannya akibat ketidakadilan yang diraskan.

Mengembalikan peradaban Islam, memang sesuatu yang sangat besar. Apakah dengan cara berdarah-darah dan mengorbankan jiwa orang lain? (sebagaimana opini palsu barat saat ini, da’wah Islam di-identikkan dengan radikalisme), tentu saja “Tidak”. Kaum muslim harusnya belajar dari Rasulullah Muhammad SAW ketika merubah peradaban jahiliah menjadi peradaban Islam yang mulia hingga tersebar keseluruh penjuru dunia.

Semua itu di awali dengan menyeru, merubah pemikiran berupa paham-paham jahiliyah kepemikiran yang cemerlang dalam menjalani kehidupan. Fase Da’wah di Madinah hanya mengandalkan lisan yang dibimbing wahyu, tanpa peperangan sekalipun para sahabat banyak yang disiksa.

Hanya dengan mengandalkan pertarungan antara pemikiran Islam dengan pemikiran jahiliyah, hingga akhirnya suku Aus dan Khozroj yang menyambut pemikiran Islam kemudian disebut dengan kota Madinah yang menyerahkan kotanya sebagai tonggak tegaknya Syariat Islam. Disinilah awal sejarah kegemilangan Islam mulai terukir.
Ibu Rumah Tangga Cerdas
Siapapun kita asalkan berakal maka kita bisa menjadi pemikir yang cerdas.

Kecerdasan tidak dilihat dari apakah kita miskin, kaya, hanya tamat SD, atau yang berprofesi hanya seorang Ibu rumah tangga, semuanya bisa memaksimalkan potensi akal untuk memahami ide-ide Islam yang sempurna. Dengan akal pula kita bisa melihat kekeliruan ide-ide Kapitalisme, mempelajari metode da’wah Nabi untuk menjadi pedoman dalam perjuangan menyongsong peradaban mulia.

Bukan dengan cara yang lain apalagi dengan memakai ide dan sistem yang lahir dari induk Kapitalisme. Karena sesungguhnya halangan paling besar yang menantang dihadapan kita adalah “Pemikiran Barat” dengan ide-idenya yang mampu memutarbalikkan dan mengaburkan pemikiran Islam yang jernih sehingga dengan pemikiran itu kaum muslimin tidak bisa memahami Syariat Islam. Semisal ide menafsirkan Al Quran dengan Tafsir Haermeneutika, Feminisme, Islammoderat, Islam Liberal dll. Ini adalah sekumpulan ide, pemikiran, pemahaman yang harus dilawan pula dengan ide, pemikiran dan pemahaman yang lebih cemerlang.


Seorang Ibu, yang bertekad menjadi muslimah pejuang, sekalipun tugas utamanya adalah Ummun Wa Robbatul Bait, harus mau mengasah akalnya, meningkatkan taraf berfikir sehingga bisa tertunjuki kebenaran, kemudian bisa berkontribusi mencerdaskan ummat. Dengan begitu segala bentuk kedzholiman yang dialami oleh kaum muslim, termasuk penderitaan yang menimpa para wanita, anak-anak terlantar, tindak kriminal yang bahkan melebihi prilaku hewan bisa diselesaikan dengan kembalinya instistusi payung kaum Muslimin yaitu Daulah Khilafah‘ala Minhajin Nubuwwah.
WallahuA’lam bish Showab.

Post a Comment

0 Comments