Guru Honorer, Honormu Seperti Namamu



Oleh : Sera Alfi Hayunda (Mahasiswi IAIN Ponorogo)


Ketika kita mengamati secara seksama sebuah institusi bernama sekolah maka akan temui di dalamnya dua jenis guru. Ada yang bernama guru tetap atau beliau adalah guru-guru yang telah di angkat menjadi Pegawai Negri Sipil (PNS) dan guru tidak tetap atau biasa di sebut dengan guru honorer, karena mereka belum diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Tidak hanya namanya saja yang berbeda, tapi kalimat kedua setelah kata guru ini juga mempengaruhi seberapa banyak honor yang akan diterimanya. Walau mungkin dari segi amanah yang di bebankan di pundaknya berberat sama atau mungkin malah lebih berat. Sungguh miris melihat nasib para guru honorer yang kerjanya seakan tidak di manusiakan.

Selain itu ada hal lain yang membuat lebih miris lagi, karena yang disebut guru honorer disini tidak hanya sebutan kepada mereka anak-anak fresh graduate yang mencari pengalaman mengajar. Tapi banyak diantara mereka yang dari segi umurnya sudah diatas angka kepala empat dengan pengambdian puluhan tahun bahkan sudah berumur di atas kepala kima. Yang tentu kita tahu mereka mempunyai keluarga yang saya kira honor rata-rata dua ratus ribu itu tidak mencukupi kebutuhan dalam seminggu. 

Honor yang minim ini sebenarya telah menjadi rahasia umum, ibarat guru honorer ini jatuh maka tidak hanya tertimpa satu tangga tapi banyak tangga. Sebab di daerah 3T (terluar, terdepan dan tertinggal) sekalipun mendapatkan nasib yang sama. Kondisi seperti ini tentu memberikan gambaran secara umum kepada benak orang-orang yang melihat secara seksama potret kehidupan negara, bahwa negara saat ini tidak memperhatikan betapa pihatinnya nasib seorang guru honorer. Padahal merekalah yang saya fikir layak menyandang pahlawan tanpa tanda jasa yang sebenarnya. Sungguh hal yang membuat banyak orang bergidik ngeri, sebuah negara yang sumber SDAnya melimpah ruah tapi abai terhadap guru hanya karena sebuah alasan dana APBN tidak mencukupi untuk memberikan gaji yang lebih tinggi. 

Hal yang berbeda memang ketika di komparasikan dengan zaman ketika Islam dijadikan landasan dalam semua lini kehidupan, contohnya saja pada masa Umar Ibn Khattab. Nurman Kholis, peneliti Pulitbang Lektur Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kemenag RI, menyatakan salah satu langkah yang diambil Khalifah Umar ialah menetapkan gaji bagi setiap pengajar sebanyak 15 dinar setiap bulan. Pernyataan itu disampaikan Kholis di laman Wakala Induk Nusantara.

Dinar merupakan mata uang yang terbuat dari bahan logam mulia emas. Satu dinar setara dengan 4,25 gram emas. Mata uang yang terbuat dari emas, sepanjang sejarah, merupakan mata uang yang tahan banting terhadap inflasi. Gaji pengajar/guru sebanyak 15 dinar merupakan angka yang luar biasa. Hari ini (10/09/2011) laman Wakala Induk Nusantara mencatat bahwa 1 dinar setara dengan Rp 2.258.000,-. Artinya, pada masa khalifah Umar, gaji guru mencapai Rp 33.870.000,-.

Sebagai perbandingan gaji guru negeri ini berada pada kisaran 2 juta. Jika dinyatakan dalam dinar, gaji guru sekarang hanya berkisar 1 dinar saja. Ini sama saja menyatakan bahwa gaji guru sekarang hanya 1/15 dari gaji guru pada masa Khalifah Umar. Itu saja di hitung berdasarkan harga emas di tahun 2011, belum jika dihitung pada tahun 2018 ini. Dimana kita tau bahwa harga emas terus naik dan akan terus naik, coba kita renungkan jika dikomparasikan dengan guru PNS yang sekarang berapa jauh perbandingannya, lalu bagaimana jika disadingkan dengan gaji guru honorer ?

Maka dari itu sudah sepantasnya jika kita tidak ingin nasib guru khususnya para guru honorer terlunta-lunta maka ya hanya satu caranya yaitu, come back again with Islam. Perlu bagi kita kembali menggunakan aturan Islam kedalam semua aktivitas kehidupan, sebab telah terbukti dan tercatat dalam tinta emas peradaban kalau hukum Islam memang mendatangkan kemakmuran di seluruh aspek kehidupan. 



Post a Comment

0 Comments