Bendera yang Terjatuh

Oleh : Anggota Muslimah Karim - Ragil Rahayu

Pernahkah smartphone anda terjatuh?  Apa yang anda lakukan?  Tentu mengambilnya. Bagaimana jika smartphone itu jatuh di got yang kotor dan basah? Anda tentu mengambilnya. Karena nilai smartphone itu setara dengan pengorbanan anda berupa tangan yang kotor dan bau busuk.

Bagaimana jika smartphone itu jatuh di jalan raya yang sangat ramai, kendaraan berseliweran, sehingga bisa bahaya jika anda mengambilnya. Mungkin anda mulai pikir-pikir untuk mengambilnya. Bagaimana jika suatu saat anda berwisata menyaksikan atraksi buaya, lalu tanpa sengaja smartphone itu jatuh ke mulut buaya. Akankah anda mengambilnya? Wah,  opsi mengambil smartphone makin sulit diambil. Karena resikonya nyawa.

Bagaimana juga jika seandainya smartphone itu dijambret orang. Jika anda mengambilnya, dia akan menyabetkan senjata tajamnya ke anda. Atau menembakkan pistolnya ke tubuh anda. Dalam kondisi ini,  rasa-rasanya orang akan lebih memilih kehilangan smartphone daripada kehilangan nyawa. Meski mahal harganya, smartphone masih bisa dibeli lagi. Tapi nyawa, tidak ada tokonya. Maka nyawa lebih berharga dari pada smartphone atau harta apapun. Demi mempertahankan nyawa,orang akan melakukan apa saja.

Namun tahukah anda, nyawa ternyata bisa kalah berharga dibanding selembar kain. Ya selembar kain.

Kisahnya terjadi di tahun ke 8 hijriyah. Rasulullah mengirim ekspedisi perang Mu'tah di timur Yordania. Jumlah kaum muslimin 3.000 orang. Sementara pasukan musuh 200.000 orang. Sungguh banyaknya jumlah kaum muslimin dan betapa sedikitnya jumlah musuh. Karena Allah swt bersama orang-orang yang mukmin.

Peperangan berlangsung dahsyat. Bendera umat Islam (liwa')  dipegang oleh Zaid bin Haritsah ra selaku komandan perang. Maka Zaid bin Haritsah ra berperang mengorbankan nyawanya demi menjaga bendera, hingga syahid.

Bendera kemudian diambil alih oleh komandan kedua, Ja’far bin Abi Thalib ra. Beliau berperang habis-habisan hingga tangan kanannya terputus. Lalu bendera dibawa dengan tangannya kirinya hingga terputus pula dan merangkul bendera dengan dadanya hingga syahid.

Bendera selanjutnya dibawa komandan ketiga. Abdullah bin Rawahah ra. Beliau pun berperang hingga mati syahid.

Agar bendera tidak jatuh maka kaum muslimin  menyerahkannya kepada Khalid bin Walid ra, maka beliau membawanya. Khalid berhasil memimpin perang mu'tah dengan membawa kemenangan.

Para komandan perang Mu'tah merelakan tangannya putus dan bahkan nyawanya melayang. Demi apa?  Demi selembar bendera. Tapi bukan sekadar bendera.

Bendera itu adalah amanat dari Rasulullah saw. Di kainnya tertulis kalimat tauhid laa ilaaha illallah. Kalimat yang dijunjung seorang muslim selama hidupnya. Bendera itu pulalah yang akan kita cari di hari akhir nanti. Bendera yang dibawa oleh Rasulullah, tempat kita bernaung di bawah kibarannya.

Maka nyawa lebih rendah nilainya jika dibandingkan dengan meninggikan kalimat tauhid. Karena nyawa pasti hilang dengan kematian, entah sekarang atau nanti. Namun kematian membela bendera tauhid adalah kematian yang mengantarkan ke surga.

Zaid bin haritsah sudah dikabarkan masuk surga.  Ja'far bin Abi Thalib yang putus kedua tangannya karena membela bendera tauhid, maka Allah swt memberinya sepasang sayap di surga. Abdullah bin Rawahah memiliki singgasana di surga.

Maka setiap muslim harusnya bangga terhadap bendera tauhid. Karena bendera itu amanat Rasulullah saw. Bendera itu pula yang dibawa Rasulullah kelak. Tentu di hari akhir nanti kita ingin menemui Rasulullah saw dan mendapat syafaat beliau. Maka carilah bendera itu di padang mahsyar.

Jika saat ini ada pihak-pihak yang mengkriminalisasi bendera Rasulullah maka kita patut bertanya. Apa yang mereka dapat?  Uang, jabatan, kekuasaan?  Jika demikian, berarti hal-hal duniawi nan fana tadi mereka anggap lebih berharga dari bendera Rasulullah saw. Maka kelak, jika dikumpulkan di padang mahsyar, masih beranikah mereka meminta syafaat Rasulullah saw dan bernaung di bawah bendera Beliau?  Apa tidak malu?

Bendera tauhid ini disebut oleh Rasulullah saw. sebagai Liwa‘ al-Hamdi (Bendera Pujian kepada Allah). Rasulullah saw. bersabda, “Aku adalah pemimpin anak Adam pada Hari Kiamat dan aku tidak sombong. Di tanganku ada Liwa‘ al-Hamdi dan aku tidak sombong.” (HR at-Tirmidzi).

Post a Comment

0 Comments