Bahaya! ‘Virus’ Dilan Menjangkiti Remaja




Oleh : Vivi Avianti – Pamoyanan Bogor
(Komunitas Peduli Generasi)

Semenjak ditayangkan di akhir bulan Januari 2018, wabah Dilan menjangkiti remaja ibarat virus yang terus menjadi bahan pembicaraan. Mulai dari upload foto, meme, kutipan kata Dilan sampai parodi terus menyebar, memenuhi halaman setiap media sosial. 

Film Dilan ternyata tak lebih dari sebuah drama percintaan dua remaja putih abu-abu. Efek ketika menontonnya akan memberikan sugesti untuk mendapatkan pasangan seperti Dilan atau Milea dan merasakan gaya pacaran masa kini yang romantis. 

Pengaruh film itu sangatlah kuat bagi penontonnya. Apalagi untuk usia remaja, karena sasaran film Dilan adalah anak usia remaja. Masa remaja adalah masa terjadinya proses pencarian identitas diri. Disinilah remaja tersebut membutuhkan sosok yang akan dijadikan sebagai panutan.

Disadari atau tidak fenomena Dilan ini menjangkiti remaja saat ini. Kita tidak ingin remaja saat ini terjangkit ‘virus’ pacaran dan pergaulan bebas. Namun dengan kita ikut menyebarkan meme ataupun mengutip kalimat dalam film tersebut menjadi lebih islami, justru membuat film Dilan menjadi populer dan membuat orang menjadi semakin penasaran.

Film dengan tema pacaran yang menjurus pada pergaulan bebas amat diminati remaja. Sosok dan  gaya kehidupan yang terdapat dalam film tersebut akan banyak ditiru. Dan ini akan membuat remaja semakin jauh dengan nilai-nilai Islam. Dengan sekularisme identitas keislaman yang semestinya melekat pada diri remaja menjadi hilang. Sekularisme adalah paham yang memisahkan agama dari kehidupan. Dan saat ini sekularisme telah merasuki kalangan remaja. Kondisi ini tentu merupakan bahaya bagi masa depan remaja.

Oleh karena itu remaja saat ini harus memiliki imunitas yang tinggi untuk tidak terjangkit ‘virus’ Dilan dan pengaruh budaya sekularisme. Kekebalan remaja akan terbentuk apabila remaja tetap memegang nilai-nilai keislaman dan mengamalkannya. Kontrol masyarakat pun perlu dilakukan untuk lebih selektif dalam hal-hal yang dapat merusak generasi. Terlebih remaja saat ini merupakan aset sebagai remaja harapan umat.

Post a Comment

0 Comments