Ayah Cabuli Anak; Korban Penjajahan Syahwat

Oleh : Nurhayati, S.S.T (Anggota Komunitas Media Muslimah Kendari)

Ayah, apa yang ada dipikiran kita saat mendengar satu kata itu?. Tentu, kita akan membayangkan sosok lelaki yang tegar dan pribadi yang pastinya melindungi istri dan anak-anaknya. Namun, gambaran ini tidak berlaku bagi pria berinisial SY, seorang warga jalan Pendidikan, kelurahan Laloeha kecamatan Kolaka, Sulawesi Tenggara (Sultra) harus berurusan dengan polisi karena kasus yang menjerat dirinya.
Perbuatan SY terbongkar setelah korban yaitu anaknya sendiri mengadu ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Kolaka. Mendapat aduan Bunga, personel Unit PPA Satreskrim Polres Kolaka segera bergerak dan berhasil menciduk SY.(kendaripos.co.id).

Kasus ini bukanlah kasus yang pertama kalinya terjadi di Sulawesi Tenggara khususnya, namun sebelumnya telah banyak kasus pencabulan dan kekerasan seksual yang terjadi pada wanita dan anak. Untuk Sulawesi Tenggara sendiri ternyata menduduki urutan 13 dari 34 provinsi di Indonesia. .(zonasultra.com). Untuk kasus pelecehan seksual terhadap anak. Pernyataan itu di kemukakan oleh Aris Merdeka Sirait, Ketua Komisi Perlindungan Anak saat mengunjungi korban kekerasan seksual di Konsel tahun lalu.

Banyak pihak menyebut, negeri ini ada dalam kondisi darurat kekerasan seksual pada anak. Menurut catatan Komnas Perempuan, jumlah kasus perkosaan mengalami peningkatan. Data terakhir menunjukkan, kekerasan seksual naik ke peringkat kedua terbanyak dari seluruh kekerasan yang menimpa perempuan. Menurut Catatan Akhir Tahun 2015 Komnas Perempuan, bentuk kekerasan seksual tertinggi pada ranah personal adalah perkosaan sebanyak 72% atau 2.399 kasus, pencabulan 18% atau 601 kasus dan pelecehan seksual 5 % atau 166 kasus.

Kejahatan Seksual : Buah Penerapan Demokrasi

Kejahatan seksual sebetulnya merupakan penyakit dan ciri khas tersendiri dari negara yang menerapkan sistem Demokrasi dan Kapitalisme. Dengan kata lain, kejahatan seksual sudah menjadi penyakit yang selalu marak terjadi dalam sistem yang memproritaskan kebebasan itu. Di berbagai negara, penganut sistem ini juga tidak henti-hentinya dirundung masalah kejahatan seksual. Di negeri tuannya Demokrasi, Amerika. Menurut survei RAININ (Rape Abuse and Incest National Network)–sebuah organisasi anti serangan seksual nasional terbesar di AS–menunjukkan ada sekitar 293 ribu kasus kekerasaan dan pemerkosaan setiap tahunnya. Hal itu membuat Amerika menduduki peringkat ke 3, negara yang memiliki kasus pemerkosaan tertinggi setelah Swedia dan Afrika Selatan. (m.okezone.com)

Indonesia yang ikut-ikutan menerapkan sistem Demokrasi juga mengalami hal yang serupa dengan AS. Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) mencatat pada tahun 2015 terdapat 321.752 kasus kekerasan terhadap perempuan -berarti sekitar 881 kasus setiap hari. Ini menandakan bahwa maraknya kejahatan seksual tidak bisa terlepas dari sistem Demokrasi.

Pemberlakuan sanksi terhadap pelaku kejahatan seksual dengan hukuman penjara saja, saya rasa bukanlah solusi tuntas untuk memberikan efek jera bagi pelaku kejahatan seksual. Bahkan tidak menjamin berkurangnya pelaku kejahatan-kejahatan seksual. Setiap tahun kian meningkat.

Dalam pandangannya, kapitalisme menganggap bahwa interaksi antara perempuan dan laki-laki selalu berorientasi pada hubungan seksual saja. Oleh karena itu, wajar bila beragam berita baik itu televisi, buku-buku, maupun internet sengaja menampilkan fakta-fakta yang membangkitkan birahi seksual saja. Akibatnya, hasrat seksual laki-laki akan muncul walhasil penyalurannya bisa dengan jalan yang haram seperti pencabulan, pemerkosaan, dan kawan-kawannya.

Kejahatan seksual yang merupakan hasil dari penerapan sistem yang rusak. Sistem inilah yang menjadi biang kerok kejahatan seksual. Dalam pandangan Sistem Kapitalisme, apapun yang bisa menghasilkan manfaat yakni keuntungan akan diproduksi tanpa memandang lagi haram dan bahaya tidaknya sesuatu. Oleh karena itu, wajar saja bila video porno dan miras terus diproduksi. Dari pemikiran rakus ala kapitalisme inilah merusak tatanan masyarakat sehingga terjadi berbagai macam kejahatan, termasuk kejahatan seksual. Wanita dan anak-anak menjadi sasaran empuk pelaku kejahatan ini. Karena dianggap kaum lemah dan tak berdaya melakukan perlawanan fisik. Miris bukan?

Selamatkan dengan Syariah dan Khilafah!

Untuk menyudahi fenomena kejahatan seksual pada anak ini, dengan memakai aturan yang jelas tegas. Yakni sistem aturan yang bersumber dari Pencipta manusia, Allah SWT. satu-satunya zat yang mengetahui baik buruk bagi manusia. Bukan lagi aturan yang lahir dari buah pikiran manusia yang tidak bisa memberikan standar baik dan buruk bagi kehidupan.

Islam memberlakukan hukuman yang tegas kepada para pelaku perkosaan dengan diberikan sanksi sebagaimana para pezina yakni hukuman campuk 100 kali jika pelaku belum pernah menikah dan hukuman rajam hingga meninggal jika pelaku sudah pernah menikah.

Solusi Islam diatas bukanlah solusi yang “kejam” seperti yang di elu-elukan pejuang demokrasi yang menolak Islam saat ini. Namun aturan itu telah terbukti mampu memberikan upaya preventif (pencegahan) dan kuratif sehingga kejahatan seksual tidak akan marak terjadi bahkan tidak ada. Namun, berbagai solusi ini tidak bisa diterapkan secara sempurna kecuali dengan penerapan Syariah islam secara kaffah dalam naungan khilafah. Hanya institusi Khilafahlah yang mampu menerapkan semua aturan Islam secara menyeluruh.
Oleh karena itu, maraknya berbagai kejahatan seksual kepada perempuan dan anak-anak hanya bisa diatasi secara tuntas dengan Khilafah. Khilafah yang murni telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. yang bersumber dari wahyu Allah. Bukan bersumber dari buah pikir manusia yang seringkali menimbulkan kerusakan dan membawa pada kesengsaraan ditengah-tengah manusia. Wallahu ‘alam bishowab[]

Post a Comment

0 Comments