Pembunuhan Siswi SMK Malang : Potret Buram Pendidikan Sekuler

Oleh : Hanik Syukrillah

Beberapa hari yang lalu terjadi pembunuhan sadis yang menggemparkan warga Kabupaten Malang, Jawa Timur. Fenna Selinda Rismawati, (16), siswi kelas X jurusan mesin SMK Brantas Karangkates, Sumberpucung, diduga digorok temannya sendiri, perempuan inisial NFM, 18, warga Donomulyo, Sabtu (29/12) sepertidikabarkan di radar malang (30/12/17). Adapun alasan pembunuhan karena diejek miskin dan korban menjalin hubungan dengan pacarnya.

Sebenarnya apa yang terjadi dalam pendidikan kita hari ini. Diakui atau tidak pendidikan hari ini memiliki banyak permasalahan yang pelik. Potret buram pendidikan terlihat semakin nyata. Kegagalan membentuk karakter siswa yang selama ini didengungkan menuai hasilnya. Pelajar adalah penerus estafet masa depan, sangat riskan ketika tidak dilakukan perbaikan yang sistematis dan terarah. Ini adalah hasil bertumpuk-tumpuknya permasalahan pendidikan yang tidak kunjung selesai mulai dari kurikulum, pengelolaan pendidikan, kenakalan remaja yang semakin menjadi dll.    

Paradigma pendidikan sekuler menjadi akar permasalahan karena memisahkan antara agama dengan kehidupan, sehingga siswa berfikir ketika melakukan tindakan buruk tidak ada yang mengawasi dan tidak ada kekhawatiran ketika melakukan kemaksiatan sampai membunuh sekalipun. Hanya karena diejek miskin dan pacarnya diambil bisa membuat seorang pelajar walau seorang perempuan berbuat nekat membunuh temannya. Ketika pelajaran agama hanya dijadikan sebagai syarat untuk lulus ujian, bukan sebagai aturan dalam kehidupan. Kita akan mendapati para siswa menjadi kumpulan pelajar yang kering secara rohani dan miskin pengetahuan agama sebagai tuntunan hidup.

Akibatnya, para siswa jadi kehilangan arah dalam hidup dan terbentuk menjadi manusia-manusia sekuler-liberal, maka bersiap-siaplah menemui permasalahan remaja berikutnya akibat lemahnya kepribadian mereka. Islam memiliki paradigma sendiri dalam mengurusi masalah pendidikan formal.

Pendidikan Islam mengatur agar membentuk generasi berkepribadian Islam. Pola tingkah laku para peserta didik dibentuk berdasarkan akidah Islam dan tingkah lakunya dibentuk agar senantiasa mengikuti tuntunan syariah, baik dalam pola pikir maupun pola sikap. Para peserta didik juga dibentuk agar menguasai saintek untuk mengarungi kehidupan dan mengembangkan inovasi. Pada tingkat pendidikan tinggi, para peserta didik dibentuk pula untuk menjadi pakar dan inovator lebih lanjut. ..

Secara singkat, pendidikan Islam membentuk seorang cendekiawan yang juga faqih dalam ilmu-ilmu keislaman.[]

Post a Comment

0 Comments