Toleransi itu, Lakum Diinukum Waliyadiin

RemajaIslamHebat.Com - "Ahh, gak enak dong kalo gak datang."
"Dia kan, teman saya."
"Dia tetangga dekat saya. Gak mungkin saya gak berkunjung."
"Saya harus datang. Kan dia atasan saya."
"Kan kita harus saling menghormati."

Demikian beberapa pembenaran yang sering dilontarkan sebagian kaum muslim, saat perayaan keagamaan umat lain. Semisal perayaan Natal dan Tahun Baru. Mereka merasa tidak enak hati jika tidak berkunjung dan turut mengucapkan selamat. Bahkan mereka sering kali melakukannya atas nama toleransi. Begitukah toleransi menurut Islam?
.
Sebagai seorang muslim, kita wajib tunduk pada hukum-hukum syariat Allah SWT. Aturan-aturan-Nya kita laksanakan, sementara larangan-larangan-Nya kita tinggalkan. Tanpa terkecuali, sebagai perwujudan keimanan kita pada Allah SWT.
.
Terkait toleransi, sesungguhnya Islam punya aturan tersendiri. Sebagaimana tercantum dalam Al Quran, surat Al Kafirun ayat 1-6, "Katakanlah (Muhammad), " Wahai orang-orang kafir! Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah, dan kamu buka  penyembah apa yang aku sembah, dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah apa yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukku agamaku."
.
Asbabul Nuzul (sebab-sebab turunnya) surat Al Kafirun ini, saat beberapa tokoh kaum musyrikin Mekah mendatangi Rasulullah, Muhammad SAW.
.
Mulanya mereka menawarkan harta, tahta juga wanita kepada Nabi yang mulia. Mereka melakukannya agar Rasulullah SAW mau menghentikan dakwah Islam beliau. Mereka berfikir bahwa Muhammad SAW pasti akan tertarik dengan tawaran mereka. Namun, Rasulullah SAW sama sekali tidak tertarik.
.
Kaum musyrikin terus membujuk Nabi SAW. Setelah bujukan-bujukan sebelumnya tidak berhasil, selanjutnya mereka menawarkan kompromi beribadah.
.
Mereka menyatakan akan mengikuti ibadah menyembah Tuhannya Muhammad SAW. Tapi di lain waktu, mereka juga meminta Muhammad SWA untuk mengikuti peribadatan mereka.
.
Melalui turunnya surat Al Kafirun tersebut, Allah memerintahkan Rasulullah SAW untuk menolak dengan tegas kompromi ibadah yang ditawarkan kaum musyrikin. Karena Allah telah memberi hari raya yang lebih baik, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha.
.
Maka toleransi dalam Islam adalah membiarkan umat lain memeluk keyakinan dan menjalankan ibadah mereka masing-masing. Bukan lantas berarti kita dibenarkan mengikuti perayaan dan ibadah umat lain dengan dalih toleransi.
.
Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka." (HR Abu Dawud).
Wallaahu a'lam bisshawaab.
.
.
#revowriter
#ideowriter
#yuknulis

Sumber:

Fb: Yunita Gustirini

Post a Comment

0 Comments