Tahukah Anda.. Maqbul Hadits Sebab Berhujjah Ahli Hadits

RemajaIslamHebat.Com - Saudara-saudariku....Sebuah hadits apabila dijadikan hujjah oleh seorang ahli hadits, maka itu menjadi petunjuk bahwa hadits tersebut maqbul (shahih atau hasan) di sisinya.
Inilah keterangan para alim ulama, diantaranya   :

1).Ibnu Hajar al-Asqalany dalam mengomentari hadits Ali dan Asmaa bin ‘Amiis yang memandikan jenazah Fatimah binti Rasulullah SAW mengatakan :

Hadits ini telah dijadikan hujjah oleh Ahmad dan Ibnu al-Munzir. Dengan sebab jazam kedua beliau ini, maka ini menjadi dalil shahih hadits tersebut di sisi keduanya.[1]

2).Al-Khatib al-Baghdadi mengatakan :ِ

Adapun apabila seorang alim mengamalkan sebuah khabar dari seorang yang diriwayat berita tersebut darinya, dimana pengamalannya itu karena khabar tersebut, maka itu sebagai ta’dil baginya dan dii’timad atasnya. Karena tidak mengamalkan khabar perawi itu kecuali dia  ridha dan di sisinya perawi tersebut  adil.
Karena itu, mengamalkan khabar perawi itu di posisikan pada perkataannya “Dia adil maqbul khabar.”[2]

[1] Ibnu Hajar al-Asqalany, Talkhis al-Habir fi Takrij Ahadits al-Rafi’i al-Kabir, Muassisah Qurtubah, Juz. II, Hal. 285
[2]Al-Khatib al-Baghdadi, al-Kifayah fi Ilmi al-Riwayah, Hal. 92

Para ulama-ulama besar tempo dulu melakukan qiyas dalam perkara ibadah

Kalau ulama-ulama besar melakukan qiyas dalam perkara ibadah, apakah kita harus mendengar pendapat Wahabi Salafi yang menolak qiyas dalam ibadah secara mutlaq ?

Berikut ini contoh-contoh qiyas yang dilakukan para ulama dalam perkara ibadah, yakni sebagai berikut :

1).Imam Syafi’i mengqiyaskan najis babi kepada anjing dalam hal kewajiban membasuh bekas jilatannya sebanyak tujuh kali, salah satunya dicampur dengan tanah.

Dalam kitab al-Um, beliau mengatakan :

Kami berpendapat pada anjing dengan apa yang diperintah Rasulullah SAW. Adapun babi seandainya tidak buruk keadaannya, tetapi tidak ada kebaikan darinya. Karena itu, aku berpendapat tentang babi dengan qiyas kepada anjing.[1]

2).Imam Malik berpendapat diulangi kembali shalat wajib yang telah dilakukan dalam Ka’bah apabila masih dalam waktunya dengan mengqiyaskan kepada shalat ke arah bukan qiblat.

Telah sampai padaku dari Malik bahwa beliau ditanyai tentang seseorang yang shalat wajib dalam ka’bah.
Jawab beliau : mengulangi kembali dalam waktu, karena itu serupa dengan orang shalat kepada bukan arah kiblat, yang diulangi kembali dalam waktu.[2]

3).Ahmad bin Hanbal mengqiyaskan masalah memandikan dan shalat jenazah atas orang yang mati dibunuh pembajak laut kepada orang yang mati syahid.Abdullah bin Ahmad bin  Hanbal bertanya kepada ayahnya, Ahmad bin Hanbal:

Orang yang terbunuh oleh pembajak laut, apakah dimandikan dan dishalati? Ahmad bin Hanbal menjawab : apabila terbunuh dalam perkelahiannya maka hukumnya sama dengan orang syahid kecuali dia mampu menanggungnya (tidak mati seketika itu juga), kemudian mati setelah itu.[3]

4).Menurut mazhab Syafi’i dan sekelompok ulama boleh melakukan shalat sunnat yang mempunyai sebab seperti shalat tahiyyat al-masjid, sujud tilawah dan syukur, shalat hari raya dan shalat gerhana pada waktu makruh. Dalilnya qiyas kepada qadha shalat sunnat dhuhur sesudah  shalat ‘ashar yang dilakukan Nabi SAW. Seterusnya Imam Nawawi mengatakan :

Imam Syafi’i dan yang setuju dengannya berhujjah dengan hadits shahih bahwa Nabi SAW mengqadha shalat sunnat dhuhur setelah shalat ashar. Ini sharih pada masalah qadha shalat sunnat yang luput, maka shalat sunnat yang hadhir (shalat ada’) lebih patut dilakukan.[4]

5).Menurut  Abu Hanifah, al-Tsury dan al-Auzha’i, faaqid al-thahuraini (yang tidak menemukan air dan tanah) tidak wajib shalat sehingga menemukan air atau tanah, namun apabila sudah menemukannya wajib qadha.

Argumentasinya qiyas kepada puasa

perempuan berhaid yang tidak wajib melakukan shalat, namun wajib qadha apabila sudah hilang penghalangnya, yakni apabila sudah suci. Dalam al-Mughni disebutkan :

Abu Hanifah, al-Tsury dan al-Auzha’i mengatakan tidak melakukan shalat sehingga dia mampu, kemudian mengqadhanya, karena shalat adalah ibadah yang tidak menggugurkan qadha. Karena itu tidak wajib seperti halnya puasa perempuan berhaid.[5]

6).Imam al-Nawawi, salah seorang ulama terkenal bermazhab Syafi’i pernah mengqiyaskan shalat Jum’at kepada shalat Dhuhur dalam hal sunnat shalat qabliyah, beliau mengatakan :ِ

Adapun shalat sunnat sebelum Jum’at, yang menjadi pegangannya adalah hadits Abdullah bin Maghfal yang telah disebutkan pada furu’ sebelumnya ; “Pada setiap dua azan itu adalah shalat” dan dengan mengqiyaskan kepada shalat dhuhur.[6]

7).Ibnu al-Rusyd, tokoh ulama dari Mazhab Maliki menjelaskan bahwa jumhur ulama berpendapat bahwa aib seperti buta dan pecah betis tidak memadai untuk binatang qurban dengan mengqiyaskan kepada aib-aib yang disebut dalam hadits, yaitu pincang, buta sebelah, sakit berat dan sangat kurus. Beliau mengatakan :

Sesungguhnya Jumhur ulama berpendapat lebih patut  tidak memadai qurban pada aib-aib ini yang lebih besar aibnya dibanding aib-aib yang disebut dalam nash syara’.[7]

8).Imam al-Nawawi mengatakan telah terjadi ijmak ulama wajib qadha shalat yang ditinggalkan dengan cara sengaja. Sandaran ijmak ini menurut beliau adalah dengan mengqiyaskan kepada kewajiban qadha puasa Ramadhan yang ditinggalkan dengan sebab sengaja bersetubuh dan juga mengqiyaskan kepada qadha shalat yang ditinggalkannya secara lupa. Logikanya, kalau secara lupa wajib qadha, tentu yang secara sengaja lebih patut diwajibkannya. Dalam al-al-Majmu’ Syarah al-Muhazzab, beliau mengatakan :

Termasuk dalil wajib qadha shalat yang ditingggalkan secara sengaja adalah hadits Abu Hurairah r.a. sesungguhnya Nabi SAW memerintah orang yang bersetubuh pada siang Ramadhan berpuasa satu hari disamping membayar kifarat. Artinya sebagai ganti hari puasa yang dibatalkan dengan sebab bersetubuh secara sengaja. Hadits ini riwayat al-Baihaqi dengan isnad baik dan juga telah diriwayat oleh Abu Daud dengan seumpamanya. Dalil lain, karena apabila wajib qadha atas yang meninggalkannya dalam keadaan lupa, maka meninggalkannya dalam sengaja lebih patut wajib qadha.[8]

9).Ibnu Qudamah salah seorang ulama besar dalam mazhab Hanbali menolak pendapat yang mengatakan boleh menyapu sebagian anggota tayamum.  Argumentasi beliau dengan mengqiyaskan kepada membasuh anggota wudhu’. Dalam al-Mughni, beliau mengatakan :ِ

Maka wajib menyapu seluruh wajah dan tangan sebagaimana wajib membasuh seluruh wajah dan tangan dalam berwudhu’ karena firman Allah : Basuhlah wajah dan tanganmu sampai dua siku-siku.[9]

KITAB RUJUKAN

[1]. Imam Syafi’i, al-Um, (Tahqiq Dr Rif’at al-Fauzi Abd al-Muthalib),  Juz.I I, Hal. 17

[2]. Malik bin Anas, al-Mudawanah al-Kubra, Maktabah Syamilah, Juz. I, Hal. 183

[3]Abdullah bin Ahmad, Masail al-Imam Ahmad bin Hanbal, al-Maktab al-Islamy, Beirut, Hal. 135

[4]Al-Nawawi, Syarah Muslim, Muassisah Qurtubah, Juz. VI, Hal. 159-160

[5]Ibnu Qudamah, al-Mughni, Maktabah Syamilah, Juz. I, Hal. 184

[6]. Al-Nawawi, al-Majmu’ Syarah al-Muhazzab, Maktabah al-Irsyad, Jeddah, juz. III, Hal. 504

[7]. Ibnu al-Rusyd, Bidayah al-Mujtahid, Usaha Keluarga, Semarang, Juz. I, Hal. 315-316

[8]. Al-Nawawi, Majmu’ Syarah al-Muhazzab, Maktabah al-Irsyad, Jeddah, Juz. III, Hal. 76

[9]Ibnu Qudamah, al-Mughni, Maktabah Syamilah, Juz. I, Hal. 186

BAROKALLOHU FIKUM

Sumber:

Fb: Abu Nana

Post a Comment

0 Comments