Studying On the Sun

Oleh : Muhammad Akbar Ali

Mula-mula kepulan embun menari  dengan lembut dan penuh kesejukan. Mengambang dan pelan-pelan di telan mentari fajar.

Air malam yang berlindung pada dedaunan hijau berjatuhan menerpa tanah yang telah bersiap. Menampakan alat penyerapnya untuk mendapatkan , melanjutkan kehidupan tumbuhan sekitarnya.

Sedang matahari mendongak dari timur mengakhiri kepalan malam yang gelap.  Di saat itulah kehidupan memulai langkahnya.

Ali duduk merenung, memperhatikan fenomena alam.  Matahari menjadi arah panah pikiran Ali.  Ali membayangkan matahari yang memberi cahaya bagi bumi.

Terbit dari timur dan tenggelam di tepi barat. Membantu proses pertumbuhan tanaman Alam. Penerawang Ali menemui keberadaannya seolah telah jelas ketentuan dia ada.

Misi perjalananya telah di gariskan dengan sangat nampak.  Setiap bergulirnya waktu seolah  konstan menjalankan program (plan)  yang telah di tentukan untuknya. 

Telah lama, berabad-abad selalu sukses pada tugasnya. Tiada coretan tinta sejarah, matahari memulai sinarnya dari arah barat mengarah ke timur atau dari utara dan merambah ke selatan.

Serapan hikmah darinya,  bahwa dalam hidup matahari mengajarkan adanya tujuan yang jelas.  Kemana langkah ini akan berpijak. Tujuan hidup menghidupkan pengharapan dan melemahkan kegagalan.

Mengetahuinya, maka mengantarkan pada tugas (Aktivitas) yang akan di tunaikan pada permulaan pagi hingga datangnya malam. Begitu seterusnya hingga misi utama harapan awal langkah menjadi kenyataan.

Setiap hari tertulis tugas-tugas itu.  Sedang hasilnya sedang menunggu penyelesaian.

Sebagaimana matahari melemparkan cahayanya, bertujuan agar alam dan kandunganya dapat hidup dengan seimbang . 

Semisal tanaman memperoleh sinarnya, dan dengannya terjadi fotosintesis sebagai proses pelestarian kehidupanya. 

Dan setiap hari seolah telah jelas dalam buku agenda,  bahwa matahari mengetahui apa yang akan dilakukan. 

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.

Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata),

“Ya Robb kami, tiadalah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka dipeliharalah kami dari siksa neraka.” (QS.3:190-191)

*Penulis adalah Mahasiswa Agribisnis, Universitas Halu Oleo

Post a Comment

0 Comments