Sang Putri dan STEREOTYPE PESEK

Oleh : Asri Supatmiati (Jurnalis)

.
Berita “hebat” di dunia pageant belum lama ini, wakil Indonesia Kevin Liliana dinobatkan sebagai Miss International 2017. Ratu sejagat, tercantik sedunia versi Miss International. Indonesia bangga, katanya. Kevin yang muslimah ini, konon rajin bawa Alquran, termasuk ketika mengikuti ajang kayak gini. Biar lebih tenteram. Wow, Islami banget, puji netizen.
.
Sebaliknya, sahabatnya, Bunga Jelitha yang bertarung di ajang sejenis versi Miss Universe, gagal. Masuk 16 besar pun kagak. Kostum nasional juga nggak menang, padahal sudah dibela-belain nggendong “si orang utan”. Sebelumnya, Kevin sudah menyarankan Bunga agar membawa Alquran. Entah, saran itu dilakukan atau tidak. Faktanya dia tidak menang.
.
Padahal, Bunga pastinya juga cantik jelita. Memenuhi kriteria cantik dalam paradigma kontes kecantikan. Mungkin dia “belum beruntung”. Pasalnya, kandidat lain tentunya juga cantik semua. Meskipun, beda standar cantiknya dengan Rina Nose (RN). Loh, apa hubungannya? Ngomong-ngomong soal cantik, RN juga banyak dipuji kecantikannya, loh.
.
Nggak percaya, lihat aja postingannya di Instagram. Buanyak banget fans setianya yang memuji Rina cantik. Apalagi foto-fotonya saat berhijab. Padahal, dia mengklaim diri (maaf) pesek, sampai-sampai Nose dijadikan nama ngetopnya. Loh, pesek kok cantik? Nggak salah? Bukannya yang cantik itu yang mancung-mancung saja?
.
Nah, ini masalahnya! Paradigma ini yang sejatinya meracuni. Yeah, dunia sudah terlanjur membuat stereotype bahwa pesek itu jelek. Termasuk, hitam itu jelek, gemuk itu jelek, pendek itu jelek dan keriwil itu jelek. Lawannya, mancung itu bagus, putih itu bagus, langsing itu bagus, tinggi itu bagus dan rambut lurus itu bagus.
.
Akibatnya, ketika ciri fisiknya mancung, orang tidak merasa dihina kalau disebut, “oh, cewek yang mancung itu, ya?”. Sedang ketika orang pesek disebut cirinya, marah dan dianggap menghina. Padahal kan itu fakta.
.
Pertanyaannya, siapa yang membuat kesepakatan tentang stereotype tersebut? Tersangka utamanya adalah industri kecantikan. Termasuk ajang kontes ratu-ratuan, yang notabene adalah bagian dari industri kosmetik. Mereka ini, tanpa kenal lelah menanamkan pada dunia bahwa cantik itu, standarnya adalah seperti para kontestan beauty pageant tersebut.
.
Hidung mancung, rambut lurus kemilau, tinggi semampai, langsing singset, kulit putih atau eksotis (maksudnya cokelat, red), dan pastinya bodi mulus. Itulah definisi cantik yang ditanamkan oleh industri kecantikan. Kriteria cerdas dan berbudi luhur, itu bonus saja.
.
Makanya, kalau Kevin Liliana juara Miss International, ya karena cantiknya memenuhi kriteria industri kecantikan. Bukan karena dia membawa Alquran, seolah-olah keikutsertaan dan kemenangannya di ajang adu kemolekan itu, “diridhoi” Allah Swt. Sebab, Alquran justru melarang muslimah untuk membuka auratnya. Apalagi sampai berbikini ria. Itu bukan prestasi yang membanggakan di mata Allah Swt. Bahkan, sebuah bentuk kemaksiatan.
.
Nah, andai yang ikut kontes Rina Nose, kira-kira menang gak? Ya, gak bakalan. Wong Bunga Jelitha yang memenuhi kriteria saja, nggak menang. Karena, cantiknya Rina Nose bukan standar miss-miss-an. Maaf, bukan bermaksud membandingkan. Sekadar mengingatkan. Demikianlah jahatnya dunia dengan stereotype cantiknya. Stereotype cantik seperti itu telah menjadi opini umum yang meracuni semua masyarakat. Akibatnya, status perempuan seolah hanya terbelah jadi dua kubu: cantik vs jelek. Atau, kalau gak tega bilang jelek, cantik vs lumayan hehe...
.
Definisi cantik yang tidak adil itu, juga menyihir jutaan wanita untuk memimpikan bodi seaduhai Barbie. Kulit seputih pualam. Dan seterusnya. Juga, mengakibatkan perempuan-perempuan yang kebetulan dari sononya tidak masuk definisi cantik, menjadi rendah diri, kurang merasa beruntung, dan bahkan merasa terhina.
.
Padahal, Islam jelas tidak mendikotomi para wanita dari penampilan fisiknya. Bahkan, Islam tidak pernah mempersoalkannya. Tak ada fiqih kecantikan yang menyuruh para muslimah untuk berlomba-lomba mempercantik fisiknya. Kalau mempercantik akhlaknya, iya. Mendandani akalnya, wajib. Memperindah perilakunya, kudu.
.
Termasuk, menutup aurat itu adalah kewajiban untuk menjaga harga diri muslimah. Maka, sungguh beruntung seorang muslimah --sekalipun tidak memenuhi kriteria cantik ala dunia kecantikan-- tapi mendapat hidayah berhijab. Dibanding muslimah yang cantik molek, tapi belum berhijab, misalnya. Jadi, cantiknya RN sejatinya lebih beruntung karena mendapat hidayah, dibanding Kevin atau Bunga yang belum berkesempatan berhijab (kita doakan, aamiin).
.
Lagipula, dalam Islam, hidung pesek, hitam, keriwil, pendek atau stereotype tidak cantik lainnya, yang menjadi ciri fisik muslimah, tidak akan dihisab oleh Allah Swt. Sebab, semua itu given, bukan pilihan kita, melainkan pemberian dari Allah Swt. Justru, dilahirkan apapun kondisinya, musti banyak-banyak bersyukur.
.
Seandainya lahir cantik sempurna, boleh jadi malah menjadi fitnah bagi dirinya. Akhirnya jadi modal untuk mengumbar kecantikan, membuka aurat dan ikut kontes-kontes kecantikan. Padahal ini tindakan yang bertentangan dengan perintah Allah Swt.
.
Dulu, dikisahkan seorang wanita ahli surga. Wanita itu penderita ayan, dan merasa khawatir auratnya tersingkap saat kambuh. Ia pun meminta Rasulullah Saw agar mendoakannya. Lalu Rasul bertanya, apakah ingin disembuhkan penyakitnya, atau ia bersabar dengan penyakitnya. Wanita itu memilih bersabar dengan penyakitnya, tetapi ia berharap jangan sampai auratnya tersingkap saat ia kambuh.
.
Wanita itu disebut berkulit hitam oleh Ibnu Abbas. Tentu, Ibnu Abbas tidak bermaksud menghina sang wanita ahli surga itu. Tetapi, sekadar menyebut ciri wanita itu, yakni kulitnya hitam. Itu fakta. Seperti halnya kita membaca kisah yang masyur, budak yang masuk Islam, Bilal bin Rabbah. Beliau dicirikan dengan fisiknya yang berkulit hitam dan berambut keriting. Itu fakta.
.
Jadi, menyebut ciri fisik itu sejatinya bukan menghina. Masalahnya terletak pada adanya stereotype tentang ciri-ciri fisik seperti dijelaskan di atas. Jadi, kalau seorang Ustaz Abdul Somad ditanya soal artis yang lepas hijab, lalu beliau memastikan, “artis mana, yang pesek itu?” Ini untuk mengidentifikasi ciri fisik sang artis.
.
Masalah jadi heboh, lantaran terlanjur tertanam dalam benak masyarakat, stereotype bahwa pesek itu jelek. Sehingga, orang ngomong pesek dianggap menghina. Padahal, kalau Sang Ustaz bilang, “artis mana, yang mancung itu?” paling akan dibully juga. Malah dianggap menyindir, karena justru tidak sesuai dengan fakta sebenarnya, kan?
.

So, jangan gagal paham. Harusnya biasa aja. Menyebut ciri fisik yang memang faktanya kita miliki, itu jujur. Misal, kalau muka saya dibilang jutek, faktanya memang begitu. Bentuk bibir kalau lagi serius membentuk siluet jutek ini, udah cetakan dari sononya. Itu fakta. Ya, saya nggak boleh marah. Lah iya, nggak marah aja udah jelek gini, apalagi kalau marah hahaha....
.
Oke, mungkin Sang Ustaz sedikit keseleo lidah. Seharusnya bisa menyebut ciri lain yang nggak bikin baper. Tapi, sudahlah. Berhenti mempersoalkan pesek vs mancung. Dua-duanya nggak ngefek pada pahala dan dosa. Lebih baik kita rame-rame menghapus stereotype bahwa pesek itu jelek vs mancung itu bagus.
.
Caranya? Pahami Islam. Muslimah musti paham hakikat dirinya. Bahwa kecantikan bukan segalanya, tapi ketakwaan itulah yang utama. Salah satu jalan menuju takwa adalah berhijab sempurna dan mempertahankannya sekuat tenaga.
.
Selain itu, banyak-banyak bersyukur. Apapun kondisi kita, apakah cantik bak putri atau tidak, semua anugerah Allah Swt. Ingat, Sang Maha Pencipta tak pernah menciptakan produk yang jelek-jelek. Apalagi menghasilkan produk gagal. Manusia sendirilah yang menjadikan dirinya gagal paham dengan kemauan Allah Swt.(*)

Bogor, 29 November 2017
#bukanngalorngidur
#rinanose
#hijab
#kevinlilian
#konteskecantikan

Post a Comment

0 Comments