Rihlah di Kota Sunan Jogjakarta




Oleh : Salam el Fath 


Pada akhir Mei 2016 lalu, saya berkesempatan berkunjung di Kota Yogyakarta bersama seorang sahabat alumni STEI Hamfara, Jogjakarta. Fadhil Isnandar namanya. Kami berdua dipertemukan oleh Allah SWT di suatu tempat yang penuh barokah yang Allah melimpahkan rahmat di dalamnya. Tempat tersebut ialah Ma'had Syaraful Haromain, Bogor, Jawa Barat. Kami berdua santri angkatan pertama di sana. Di bawah asuhan Hadharutus Syekh Hafidz Abdurrahman, MA, seorang Ulama Besar di negeri ini. Beliau juga adalah penulis buku-buku dalam berbagai bidang keilmuan. Dari sekian banyak buku paling fenomenal yang beliau tulis, ada 3 judul buku yang saya anggap sebagai buku paling bergizi dan berenergy tentang tsaqofah Islam. Ketiga judul buku tersebut adalah USHUL FIQIH (Membangun Paradigma Tasyri'), Diskursus Islam Politik dan Spritual, dan Bantahan Terhadap Ilmu Kalam dan Filsafat Islam. Ketiga buku tersebut adalah tulisan beliau yang belum pernah saya temukan bandingannya dengan buku-buku tsaqofah Islam yang pernah ditulis oleh Ulama Indonesia abad ini. Selain ketiga buku tersebut, masih banyak buku yang beliau tulis, yaitu buku-buku yang berkaitan dengan bahasa Arab, Ekonomi, dan Peradaban Islam (Khilafah). 

Itulah sekilas tentang perjumpaan saya dengan sahabat yang tertandai di atas. Di sini saya tidak ingin bercerita tentang keduanya. Bukan tentang sahabat tersebut yang telah memiliki perut buncit (bertambah kesejahteraannya) karena telah menikah. πŸ˜‚ dan bukan pula tentang guru kami yang telah ku tuliskan sedikit biografinya. Yang ingin ku tuliskan di sini adalah mengenai pengalaman saya ketika berada di kotanya Sunan Kalijaga, Jogjakarta. 

Di akhir Mei 2016 itu, tepatnya pasca ujian semester di Ma'had Syaraful Haromain, saya dan teman saya yang telah ku sebutkan di atas memutuskan untuk rihlah (Jalan-jalan melihat ciptaan Allah) ke Kota Jogjakarta. Saat itu saya masih tinggal di Tanah Abang, Jakarta Pusat (bekerja sebagai tukang pak-pak barang 😁). Beberapa hari sebelum keberangkatan menuju Jogja, saya beli tiket Kereta Api. Setelah membeli tersebut, saya kemudian menghubungi beliau (beliau teman saya itu loh, yang udah nikah.. Hehehe..), saya katakan padanya bahwa saya telah membeli tiket untuk keberangkatan hari Rabu. Tapi ternyata, tahukah anda pemirsa, teman saya itu tidak jadi berangkat bareng saya di kereta yang sama, karena terdapat alasan berbagai hal, akhirnya beliau memutuskan untuk berangkat satu hari setelah keberangkatan saya menuju Jogja. Padahal ya pemirsa, di Jogja itu tidak seorang pun dalam benak saya yang ku kenal. Saya bingung, aduh, gimana nih. Mau tidur dimana saya..? Hal itu terus membuat saya berfikir sepanjang perjalanan di kereta. Tapi karena itu tadi, teman saya ini baik banget orangnya. Beliau meminta kepada adik kelasnya di STEI Hamfara agar menjemput saya di stasiun kereta. Wah, tenanglah hati saya. 

Sampai di Jogja sekitar pukul 16.00 Wib, Rabu Sore. Ketika saya hendak turun di kereta, saya kemudian berdo'a, "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari semua keburukan yang ada di negeri ini, dan hamba memohon pada-Mu semua kebaikan yang ada di dalamnya" (ini do'a wajib bagi saya saat hendak menginjak tanah di negeri yang baru). Sembari menunggu jemputan, saya kemudian mencari Masjid terdekat untuk melaksanakan shalat qhosar, zuhur dan ashar. Hal ini juga menjadi kewajiban bagi saya ketika data di negeri yang baru, sebelum beraktivitas di negeri tersebut, saya selalu pamit dulu pada yang punya bumi, Allah SWT, dengan cara melaksanakan shalat 2 raka'at. Tapi karena saya belum shalat zhuhur dan ashar, maka saya hanya melaksanakan shalat zhuhur dan ashar, sedangkan shalat 2 raka'at tidak lagi saya lakukan. 

Selesai shalat, saya langsung beriang beriang gembira ketika pertama kali melihat Delman secara live di depan Masjid. πŸ˜‚ maklum agak udik, soalnya sejak kecil saya hanya melihat Delman di televisi. Itu pun karena ada tengga saya di kampung yang punya televisi memutar lagu anak-anak yang salah satu lagunya memiliki lirik " Naik kereta api, tut.. tut.. tuut...... Naik Delman ku turut di muka" πŸ˜‚πŸ˜‚
Saya sempat selfie membelakangi Delman, foto itu sengaja ku lakukan untuk ku sampaikan kepada mas Fadhil bahwa saya sudah menginjak tanah Jogja. Dan dia pun mengapload foto itu di grup WA, Ma'had Syaraful Haromain. Hal itu membuat saya benar-benar syok, ingin rasanya berselfie lagi agar diapload lagi di grup. Hahaha...πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Teman beliau yang akan menjemput belum juga tiba, katanya masih ada sedikit pekerjaan yang harus diselesaikan. Saya diarahkan agar berjalan-jalan terlebih dahulu di Malioboro. Woww.... Saya langsung senang, karena tempat tersebut adalah tempat yang telah ku bersitkan dalam hati sejak masa kanak-kanak, yakni ketika saya mendengar lagu secara berulang-ulang setiap pagi dengan nyanyian, "Di Malioboro, bapakku bilang...." (Lagu-lagu masa kecil itu ternyata bisa menjadi azam yang kuat sehingga Allah ijabahi ketika dewasa. Bayangin apa jadinya jika lagu anak-anak sekarang liriknya kaya gini, "Ku halim duluan, sudah tiga bulan, karena pacaran kita gelap-gelapan.." Pemirsa bisa bayangin seperti apa hasilnya ke depan. Dan fakta hari ini, bahkan anak SD sekalipun sudah ada yang melahirkan seorang anak, di sekolah pula. GIla nggak tuh... 😠.,,, maka perdengarkanlah lagu kepada anak-anak anda pemirsa yang bisa menimbulkan azam kesholihan kepada mereka. Kalau mau seperti saya agar ia bisa naik kereta api, naik delman, lihat strawberry, pohon cemara. Maka boleh juga, tinggal di perdengarkan aja lagu "Naik kereta api tut tut tuuut... dan sebagainya.. Hehehe.. ) 

Lanjut ya pemirsa, dikit lagi kok., :) 

Berjalanlah saya menyusuri jalanan Jogja, sembari melihat-lihat bangunan-bangunan yang bernuansa nusantara. (sambil melihat Delman berlalu lalang juga tentunya.. 😁), saya pun beberapa kali bertanya pada orang-orang yang berpapasan denganku di jalan, saya bertanya kepada mereka tentang keberadaan Malioboro. Ada yang bilang bisa ditempuh dengan berjalan kaki dan ada juga yang mengatakan naik becak lebih baik. Nah,,, kebetulan di depan saya telah berjalan satu unit becak mengarah ke saya, maka ku panggillah pemilik becak itu, sembari saya mengucapkan terima kasih kepada beberapa orang yagg telah bersedia menunjukkan jalan. (Perhatikan, itu adalah bagian dari adab ketika bertanya kepada orang.. ☺️) 
Saya kemudian bertanya kepada bapak pengemudi becak, "Maaf pak, kalau ke Maliboro berapaan ya..?" (saya lupa beliau jawab berapa dan saat sampai di sana saya bayar berapa, tapi seingat saya, aku membayar beliau lebih dari upah yang beliau minta. Mengapa saya memberi upah lebih dari yang beliau minta..? Hal itu ku lakukan karena sepanjang perjalanan di atas becak menuju Malioboro, bapak itu telah bercerita tentang putrinya yang hafidzah Al-Qur'an dan saat ini menjadi mahasiswa Sastra Arab di UIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta. Pokoknya cerita beliau sangat inspiratif bagi saya. Seingat saya aku pernah menuliskan cerita beliau tersebut di sini, cuman lupa pict apa yang saya gunakan sebagai latar belakangnya) lanjut.... 

Saya meminta bapak pengemudi becak untuk menurunkan saya di titik nol (titik nol adalah salah satu tempat yang biasa disebut oleh warga di sana, tepatnya di Bank Indonesia yang juga berdekatan dengan Istana Negara, terkait detilnya, monggo ke Jogja... 😁) 
Sepanjang jalan Malioboro, saya melihat keramaian yang begitu luar biasa. Dengan berbagai macam pernak pernik khas Jogja, ornamen Nusantara yang menghiasi beberapa pusat perbelanjaan di sana, pakaian batik, jajanan khas Jogja dan sebagainya yang tidak cukup uangku untuk mencicipi semuanya...😁
Telah membuatku takjub dan teringat lagi akan nyanyian masa kecilku, "Di Malioboro, bapakku bilang...." Dan setelah beberapa melihat-lihat keramaian jalanan Malioboro, kemudian muncul pesan di handphone saya. Sebuah pesan whats app dari utusan mas Fadhil yang menjadi penjemput saya agar dibawa ke STEI Hamfara. Sampai di sana sudah menjelang shalat magrib. Saya bertemu dengan salah satu sahabat saya sekaligus adik kelas saya waktu di Mts Al-Munawwaarah, Onewaara, Buton. Saya baru menyadari jika ternyata dia kuliah di kampus yang keren masya Allah dan luar biasa itu. 

Selain dia, saya juga bertemu dengan sahabat saya yang berasal dari Palestina. Seorang pemuda yang pernah berkelahi alias berantem dengan tentara zionis Israel, Husein namanya. Dia berusia satu tahun lebih muda dari saya. Pertemuan kami berdua juga di Ma'had Syaraful Haromain, Bogor. (Makanya ku bilang juga apa, ma'had kami itu ma'had yang penuh berkah dan rahmat Allah melimpah di sana. Dan salah satu rahmat Allah SWT itu adalah bertemunya saya dengan seorang pemuda Mujahid Palestina yang juga jago winchun. Anda tahu kan pemirsa, apa itu Winchun..? 
Winchun adalah sejenis olah raga bela diri China yang dipopulerkan oleh sebuah film yang berjudul Yip Man. Pernah nonton kan filmnya..? Kalau belum, segeralah nonton tentang betapa kerennya jenis olah raga bela diri tersebut). 

Kami bertemu di Masjid Kampus STEI Hamfara, Jogjakarta. Setelah panggilan adzan dan iqomah pertanda shalat akan segera didirikan dikumandangkan, kami pun berdiri dengan rapi dan rapat bersama para mahasiswa STEI Hamfara. Kami diimami oleh Mujahid Palestina tersebut. KAGETNYA, pasca sebelum melaksanakan shalat magrib berjama'ah, saya dibisiki oleh beliau agar menyampaikan kultum setelah selesai shalat magrib di hadapan para mahasiswa super tersebut. Saya kikuk, kaget, bingung, pokoknya perasaan saya campur diaduk-aduk oleh bisikkan itu. Saat itu saya merasa tidak layak untuk berbicara di hadapan para mahasiswa yang dalam mindset saya telah tertanam bahwa mereka ini adalah para mahasiswa Super Hebat Luar Biasa Masya Allah. Bagaimana tidak, mereka didiklah langsung oleh para pakar sekaligus pejuang Islam terpercaya di negeri ini. Dwi Condro Teiono, Ph. D, Jubir HTI Muhammad Ismail Yusanto, KH. Muhammad Siddiq al-Jawiy, dan lain-lain. Selaib itu para mahasiswa tersebut adalah para mahasiswa yang sekaligus pejuang Islam yang begitu indah dan berwibawa, dari di antara mereka juga terdapat panghafal Al-Qur'an 30 juz, 18 juz, dan sebagainya. Selain itu, juga terdapat penulis beberapa buku yang saya bersyukur karena sempat tidur se-asrama dengannya. Kalau tidak salah ingat, Muhammad Amin namanya. Teman kamarnya Abdurrahman M. 

Pokoknya saat itu saya bingung, seakan ada sebuah gunung yang sedang menimpaku. Aku bingung, merasa tak mampu, tidak layak, dan tidak tidak lainnya yang ingib menyatakan bahwa saya belum bisa. Shalat magrib pun usai, salah seorang mahasiswa naik ke podium menjadi protokol alias MC. Nama saya pun dipanggil untuk mengisi kultum. Sembari menghilangkan berbagai ke-nerfesan yang saya alami, aku pun berdiri di atas podium dan menyampaikan beberapa hal yang menurut saya pasti sudah diketahui oleh para mahasiswa tersebut. Saya pun mulai dengan pembukaan sebagaimana para ustadz saat mengisi tausiyah pada umumnya. Dalam beberapa point yang saya sampaikan tersebut yakni sebagai berikut, 

"Saudara-saudara sekalian adalah orang-orang yang telah mengamban amanah yang sangat besar. Yakni sebuah amanah yang dimana ketika Allah menawarkannya kepada langit dan bumi, kedua makhluk tersebut menolaknya, kepada gunung-gunung, hewan, bahkan semua makhluk yang ada di muka bumi ini tidak bersedia memikulnya. Tapi kepada anda sekalianlah Allah pikulkan amanah ini sebagai sesuatu yang besar dan memuliakan. Itulah Al-Islam. Dengan Ekonomi Islam yang anda sekalian pelajari di sini, teman-teman semua akan menjadi rujukan dan penyebar sistem ekonomi Islam yang mulia. Karena anda di sini tidak hanya mempelajari ilmu ekonomi Islam, tapi anda sekalian juga mempelajari sistem ekonomi Islam yang jarang bahkan mungkin tidak diajarkan sama sekali oleh kampus-kampus ekonomi di seluruh Indonesia. Hal ini mencerminkan bahwa andalah yang akan membangkitkan peradaban di masa depan, dan anda pulalah yang akan menjadi pemimpin-pemimpinnya. Allah SWT telah berfirman, Kuntum khoiro ummatin, ukhrijats linnaas... Selama teman-teman sekalian istiqomah dalam perjuangan ini, maka bisa dikatakan bahwa umat terbaik saat ini tiada lain adalah anda sekalian. Karena sekali lagi, anda semualah yang akan menjadi pencerah tentang ekonomi Islam yang benar kepada kaum Muslimin yang lain... "

Kira-kira seperti itulah apa yang saya sampaikan dalam kultum waktu itu. Saya menggunakan kata" anda" bukan "kita" dalam kultum itu, karena saya tidak merasa layak untuk masuk dalam tataran mahasiswa super hebat itu. Kurang lebih demikian apa yang sampaikan, entah terdapat kekurangan atau kelebihan kata dalam menyampaikan. Tapi pointnya kira-kira demikian. Yakni tentang amanah besar yang dipikul dan tentang para mahasiswa yang akan menjadi pencerah di tengah-tengah masyarakat dengan ilmu yang telah mereka pelajari di kampus sederhana namun luar biasa tersebut.

Saya pernah berdiri di atas gedung tinggi STEI Hamfara tersebut dan melihat pemandangan indah dari atasnya. Dari sana terlihat Gunung Merapi dan Gunung Merbabu yang berdampingan. Saya pun mengambil gambar kedua gunung yang sedang bercanda ria tersebut dari kejauhan (di atas gedung Hamfara), saya tidak berani mendekat, karena sebagai jomblo, saya harus sadar diri soal itu. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Terima kasih telah membaca sepenggal kisah tentang perjalanan ku di Jogjakarta, Mei 2016 lalu. :)

Post a Comment

0 Comments