Mengetahui Akar Masalah Palestina dan Solusinya

Oleh : Hardi Jofandu (Blogger)

1. Akhir abad ke 18, tanah Palestina masih dalam kekuasaan Khilafah Utsmani (Ottoman). Meskipun Khilafah saat itu melemah, bahkan dijuluki 'sick man of eroupe', tak seujung kuku tanah Palestina terusik : belum ada pengusiran, apalagi pembantaian. Saat itu, umat Islam hidup terhormat, bahkan mengendalikan politik dunia Internasional.

2. Pada saat yang sama, Kaum Yahudi di seluruh dunia masih mengalami penindasan dan pengusiran. Saat itu, terjadi anti semitisme (tepatnya anti jews) di Eropa. Contoh, di Prancis, Louis IX (1226-1270), memerintahkan pengusiran semua orang Yahudi dari kerajaannya, sesaat setelah Louis berangkat menuju medan Perang Salib ; di Rusia, sebagai akibat dari kebencian yang disebarkan oleh gereja Kristen Ortodoks Rusia, kaum Yahudi dikucilkan dan diusir dari Rusia dalam kurun waktu mulai abad ke-15 sampai dengan tahun 1722 ; Abad ke-15 menyaksikan pembantaian besar-besaran kaum Yahudi dan Muslim di Spanyol dan Portugal. Pada tahun 1483 saja, dilaporkan 13.000 orang Yahudi dieksekusi atas perintah Komandan Inqusisi di Spanyol, Fray Thomas de Torquemada. Dll.

3. Melihat penindasan terhadap kaum Yahudi di Eropa, maka seorang wartawan asal Budapest, Theodore Herzlt tergerak hatinya untuk menyelesaikan masalah tersebut. Dengan mengamati fakta dan sejarah masalah lalu, maka ia menyimpulkan bahwa persoalan anti - Yahudi, hanya bisa teratasi apabila kaum Yahudi punya negara. Negara itulah yang akan menyatukan dan menjaga kaum Yahudi.

4. Maka tahun 1894, Herzlt membukukan isi pemikirannya tersebut dalam sebuah buku, 'Der Judenstat', judulnya. Untuk merealisasikan cita-citanya itu, Herzlt sangat yakin dan berjuang sungguh-sungguh. Bahkan dalam buku 'Old New Land', ia menulis 'If you will it, its a no dream (jika engkau ingin itu, itu bukan mimpi) . Ungkapan ini menunjukkan bahwa dalam menegakkan negara Yahudi, Herzlt tak main-main.

5. 2 Tahun berselang, tahun 1896, Herzlt bersama teman karibnya Neolanski berkunjung ke Istanbul, untuk menemui Khalifah Abdul Hamid II. Kedatangan mereka tentu bukan untuk rekreasi, namun untuk meminta tanah Palestina ke Khalifah. Tidak tanggung-tanggung, mereka memberikan iming kepada Khalifah. Namun, tawaran tersebut ditolak mentah-mentah oleh Khalifah.

6. Penolakan tersebut ternyata tidak membuat semangat Herzlt surut. 5 tahun berselang, 1902 delegasi Herzlt kembali mendatangi Khalifah, Abdul Hamid II. Kali ini mereka menyogok Khalifah dengan : memberikan hadia sebesar 150 juta Poundsterling untuk pribadi Sultan, membayar semua utang Khalifah yang mencapai 33 juta Poundsterling, membangun kapal Induk untuk menjaga pertahanan pemerintah Utsmani yang bernilai 120 juta frank, memberikan pinjaman tanpa bunga sebesar 35 juta Poundsterling dan membangun sebuah Universitas Utsmani di Palestina.

7. Tawaran mereka lagi-lagi ditolak oleh Abdul Hamid. Dengan sangat tegas, Abdul Hamid berkata :

"Aku tidak akan melepaskan walaupun segengam tanah ini (Palestina) karena ia bukan milikku. Tanah itu adalah hak umat. Umat ini telah berjihad demi kepentingan tanah ini dan mereka telah menyirami tanah ini dengan darah mereka. Yahudi silahkan menyimpan harta mereka. Jika Khilafah Islam dimusnahkan pada suatu hari, mereka boleh mengambil tanpa membayar harganya. Akan tetapi, sementara aku hidup, aku lebih rela menusuk tubuhku daripada melihat Tanah Palestina dikhianati dan dipisahkan dari Khilafah Islam. Perpisahan adalah sesuatu yang tidak akan terjadi. Aku tidak akan memulai pemisahan tubuh kami selama kami masih hidup!"

8. Sejak penolakan tersebut, kaum Zionis yang dimotori oleh Herzlt, mengubah strateginya. Mereka bersepakat bahwa untuk mendapatkan tanah Palestina Khilafah Utsmani (Ottoman) harus dihancurkan. Untuk merealisasikan cita-citanya, kaum Zionis mendapatkan dukungan dari Inggris.

9. Sedikit informasi : untuk mendapatkan dukungan Inggris, kaum Zionis menggunakan 2 cara. Pertama : menjerat leher Inggris dengan hutang dan ribanya melalui Lord Rotchild. Kita tahu, Rotchild adalah bankir Yahudi ternama di Eropa. Dia memutar uangnya, dengan riba tentunya untuk menghutangi negara-negara yang membutuhkan biaya besar, termasuk Inggris. Ketika leher Inggris sudah terjerat hutang dan ribanya, Rotchild pun akan mudah meminta tanah untuk bangsanya.

10. Kedua : Membantu Inggris dalam hal persenjataan melalui Dewan Umum Zionis, Chaim Weisman. Kita tahu, Chaim Weisman adalah seorang kimiawan. Untuk urusan persenjataan, dialah ahlinya.

11. Tahun 1904, Herlzt meninggal dunia. Meskipun bapak Zionis ini meninggal, perjuangan menegakkan negara Israel terus berlanjut. Perjuangan tersebut dilanjutkan oleh teman seperjuangan Herzlt, Chaim Weisman dan Lord Rothcild.

12. Perlu diketahui, kondisi Khilafah saat kaum Zionis datang meminta tanah Palestina sangatlah melemahnya. Saking melemahnya, Khilafah dijuluki 'sick man of eroupe', atau negara yang sakit. Meski Khilafah saat itu melemah, tak seujung Tak seujung kuku tanah Palestina terusik.

13. Nafas segar Palestina tak bertahan lama. Malapetaka akhrinya datang atas nama perang Dunia 1(1914 - 1918). Khilafah yang saat itu melemah terjebak mengikuti perang ini dan terpaksa masuk dalam aliansi sentral, yakni bersama Jerman dan Austria - Hongaria, melawan aliansi sekutu, yakni Prancis, Inggris (Britania Raya) dan Rusia. Puncaknya, aliansi sentral mengalami kekalahan yang memalukan. Khilafah kalah!

14. Sebagai konsekuensinya, wilayah Khilafah Utsmani dibagi-bagi melalui perjanjian Sykes - Picot (16 Mei 1916). Perjanjian ini adalah perjanjian pembagian wilayah Khilafah ke Inggris dan Prancis.Dalam perjanjian ini, wilayah Palestina dibawah kendali Inggris (Britania Raya).

15. Tanggal 2 November 1917, Sir Arthur James Balfour selaku Perdana Menteri Inggris mengirimkan surat kepada Lord Rotchild, pemimpin Komunitas Yahudi di Inggris untuk dikirimkan ke federasi Zionis. Intinya, surat itu berisi janji pemerintah Inggris untuk memberikan tanah air bagi Yahudi di Palestina. Nah, peristiwa inilah kemudian yang disebut Deklarasi Balfour.

16. Singkatnya, untuk mewujudkan janji tersebut, Inggris melalui LBB (Liga Bangsa-bangsa) menerbitkan mandat for Palestine. Setelah mandat ini disahkan, terjadilah imigrasi Yahudi besar-besaran ke Palestina : sekitar 90.000 orang Yahudi. Dalam salah sumber, disinilah cikal bakal pembantaian Palestina bermula.

17. Tahun 1945, terjadilah pemboman Hiroshima dan Nagasaki di Jepang yang menandakan bahwa Perang Dunia 2 berakhir. Berakhirnya perang ini menjadikan Amerika Serikat sebagai negara adidaya baru. Karenanya, Amerika mengubah LBB menjadi PBB (Perserikatan Bangsa-bangsa). Melalui PBB inilah target pendirian negara Israel semakin dekat.

18. Tanggal 29 November 1947, PBB membuat Resolusi 181 (UN Partition Plan). Secara kasar resolusi membagi dua wilayah Palestina : 55% untuk Kaum Yahudi dan 45% untuk Palestina. Satu tahun setelahnya, 14 Mei 1948, diproklamirkanlah kemerdekaan Israel. Sejak saat itu, eksistensi Israel sebagai sebuah negara pun diakui dunia., sedangkan Palestina tidak diakui.

19. Dari urain diatas, setidaknya ada beberapa poin yang penting tuk diketahui :

Pertama: Palestina dulunya adalah wilayah Khilafah, yang artinya milik seluruh umat Islam.

Kedua : Sejak Khilafah masih mewujud, tanah Palestina tidak bisa diusik, bahkan dalam keadaan Khilafah melemah sekalipun, kaum Zionis penjajah tak bisa berbuat apa-apa. Mengusik segenggam tanahnya saja, tak bisa!

Ketiga: Tanah Palestina jatuh ketangan penjajah (Inggris dan Prancis) setelah Khilafah kalah pada perang Dunia 1. Perjanjian yang mengatur pembagian wilayah Khilafah ini adalah perjanjian Sykes - Picot, yang namanya diambil dari Diplomat Inggris Sir Mark Sykes dan Diplomat Prancis, Francois George Picot.

20. 3 poin penting diatas memberikan kita sebuah gambar bahwa Khilafah memang penting untuk menjaga kaum Muslim. Maka tak ada solusi lain untuk menyelesaikan masalah Palestina, kecuali Khilafah.Wallahu a'lam.[]

Post a Comment

0 Comments