Melatih Anak Memahami Peran Dimasa Mendatang

RemajaIslamHebat.Com - Bismillah. Saat kemarin matapena yang disampaikan oleh abah Ihsan Baihaqi Bukhari di bintaro. Ada 1 hal yang sangat membekas di benak saya, ajarkan anak kalian sifat kemaskulinan untuk anak laki2 dan sifat feminitas kepada anak perempuan. Hal ini sangat erat kaitannya dengan figur orang tua yang dikenal anak-anak dalam keseharian.

Pernahkah anak laki-laki melihat ayahnya membetulkan genteng, memasang kembali kran air yang bocor, memperbaiki perlengkapan rumah tangga, membuat kandang ayam, dan mengerjakan sekian pekerjaan kemaskulinan itu hadir dari dalam rumah?

Pernahkah anak perempuan kita diajarkan pekerjaan rumah standar kebiasaan dalam memasak, membuat kue, mencuci baju, menjahit sederhana dan perihal sejenis itu hingga menjadi terbiasa?

Kemudian anak-anak melihat itu biasa dikerjakan orang tuanya, anak ikut membantu dari hal yang paling mudah, dan ringan. Namun kelihatan di mata anak. Oh ini contoh pekerjaan orang dewasa yang bisa dilakukan saat dirumah. Bahkan kadang bergantian. Tampak wajar saja, namun kekokohan terhadap perannya sudah matang di awal.

Anak-anak yang terbiasa melihat orang tua melakukan pekerjaan rumah, saling bantu membantu, dan didampingi serta dipahamkan sebatas apa peran gender itu hadir insya Allah persoalan gemulai, kemayu, salah peran akan tidak mudah menghampiri di masa mereka dewasa.

Selain tentu pemahaman aqidah, kemudian memahami batasan pergaulan, menunjukkan peran kemaskulinan dan feminitas sesuai gender pada anak sangat penting. Anak-anak perlu paham, ini loh nanti kelak dewasa apa yang akan kalian lakukan. Ada contoh, dan meninggalkan pengalaman yang berkesan.

Sehingga anak-anak paham betul, sebatas mana perannya itu. Bukan tumpang tindih,  pengambil alihan tanggung jawab, atau lepas kendali karena sejak lama anak-anak jarang atau bahkan tidak mengenali apa dan bagaimana mereka harus menjalani perannya.

Jadi mari orangtua rancanglah kegiatan yang dapat membentuk anak itu dari dalam rumah kita. Melalui kegiatan-kegiatan yang mendorong peran mereka bisa mengerti sesuai gendernya. Anak laki perlu dipahamkan kelak dirinya menjadi seorang pemimpin, pengambil keputusan, menjadi seorang suami dan ayah bertanggung jawab. Dilatih tugas-tugasnya sejak masa pra baligh, agar siap memikul beban dan amanah yang seharusnya. Tidak menjadi gagap, mudah bosan dan bingung apa yang harus dilakukan dimasa depannya nanti.

Demikian pun dengan anak perempuan, latih mereka kelak menjadi istri yang qonaah, pandai berhitung mana yang sesuai kebutuhan, ajarkan bagaimana menjalani peran seorang ibu sebelum peran yang lainnya, menyiapkan diri dan tubuhnya menghadapi kehamilan, serta mengasuh anak-anak. Cekatan dalam mengerjakan pekerjaan rumah serta tetap terampil merawat diri dan tubuhnya.

Ketrampilan semacam ini, darimana anak dapatkan kalau bukan dari dalam rumah mereka sendiri. Diberi tahu, diajarin, dilatih hingga kemudian terbiasa mengerjakan sesuatu. Tidak mudah merasa kesulitan, serta pandai mencari cara solutif dalam menyelesaikan masalah. Satu kebiasaan baik membutuhkan waktu 4 tahun hingga manusia menjadi terbiasa dan terampil. Jadi orang tua tak perlu cepat menyerah saat ketika melatih anak, tak langsung segera bisa. Dicoba lagi terus dan didampingi hingga menjadi kebiasaan baik.

Tampak ideal, betul. Namun perlu dilatih, dibiasakan agar anak-anak nanti paham saat pelaksanaannya dalam kehidupan berumah tangga mereka. Kalaupun nanti tak seideal itu, minimal anak-anak yang kelak menjadi orang dewasa itu paham perannya sebatas mana, dan walaupun kelak membutuhkan bantuan/support orang lain, mereka tetap menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab.

Bukankah peninggalan terbaik itu merupakan pendidikan orang tuanya yang diberikan dari dalam rumah selama bertahun-tahun? Jika ya, tunggu apa lagi. Lets do it,  parents

“Dan hendaklah orang-orang takut kepada Allah, bila seandainya mereka meninggalkan anak-anaknya, yang dalam keadaan lemah, yang mereka khawatirkan terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan mengucapkan perkataan yang benar”. (an-Nisa’: 9)

Penulis : Mbak Nurliani

#DidikAnakSadarPeran
#TugasOrangTua

Post a Comment

0 Comments