Krisis Sosial Institusi Keluarga

Oleh: Wulan Amalia Putri, SST
(Staf pada Dinas Sosial Kab. Kolaka)

Seorang anak berusia 5 tahun, dengan kondisi tangan dan kaki diikat oleh ibunya, disemprotkan Cairan Racun Pembunuh serangga hingga anak tersebut tewas, sebelum sempat mendapatkan perawatan oleh tim medis.

Seorang bayi, ditusuk oleh ibunya hingga tewas di rumahnya sendiri. Lalu, seorang tenaga medis aktif, menembaki Istrinya hingga tewas. Di sisi lain, terjadi penikaman seorang istri kepada suaminya sendiri dan naasnya, sang suami pun tewas. Rangkaian peristiwa sadis ini bukanlah sebuah adegan sinetron kejar tayang yang kerap disaksikan di beberapa stasiun televisi. Peristiwa di atas adalah realitas sosial kekinian yang terjadi dalam institusi keluarga. Lalu jika interaksi sosial dalam keluarga sudah sedemikian brutalnya, patut dipertanyakan, fenomena sosial seperti apakah yang tengah melanda institusi keluarga dewasa ini?

Pertanyaan kritis di atas sangat patut kita ajukan. Sebab, andai saja peristiwa pembunuhan anggota keluarga -yang pelakunya adalah anggota keluarga itu sendiri-terjadi pada satu tempat saja dan bukan merupakan peristiwa berulang, maka hal tersebut terlalu prematur untuk dikategorikan sebagai masalah sosial. Realitasnya bahwa peristiwa seperti ini bukanlah sebuah peristiwa kasuistik yang langka, jamak kita temukan dalam keseharian bahkan kerap mewarnai headline media massa. Demikian pula bahwa realitas brutal ini meresahkan secara sosial dan tentunya ini menjadi masalah sosial yang memerlukan analisa serta solusi.

Desakralisasi Institusi Keluarga

Perkembangan waktu, perkembangan ilmu pengetahuan dan luasnya akses cakrawala berpikir memungkin ter-reduksinya suatu pemahaman. Pun demikian dengan internalisasi pemahaman tentang keluarga. Generasi 70’an atau 90’an melihat keluarga sebagai institusi sakral yang tiap bagian dari instuitusi itu layak untuk menerima apresiasi dan penghormatan.

Peran suami sebagai kepala.keluarga masih begitu kental hingga satu tatapan matanya dapat diterjemahkan sebagai larangan atau kebolehan bagi istri dan anak-anaknya. Satu sentuhan seorang ibu bisa menjadi penawar bagi segala kegundahan seorang suami dan penawar kenakalan anak-anak. Demikian pula, satu senyuman seorang anak bisa menggagalkan keinginan  orang tuanya untuk berpisah. Secara umum, kerap kita saksikan satu keluarga berkumpul untuk shalat secara berjamaah, dilanjutkan dengan sesi sungkeman lalu membaca Al Qur’an atau Juz Amma bersama-sama. Pemandangan yang teduh dan menenangkan secara sosial.

Lambat laun, pola hidup seperti ini dirasa tidak sejalan dengan tekanan ekonomi dan resolusi pemenuhan kebutuhan yang berkejar-kejaran. Satu per satu peran dalan keluarga mulai mengecil porsinya. Bukan hanya suami yang bekerja penuh waktu, kini istripun keluar untuk bekerja penuh waktu dan pengasuhan seorang anak dialihkan pada sosok Baby Sitter. Ayah, ibu dan anak.bertemu di penghujung waktu tanpa sempat meluapkan perasaan-perasaan terhadap peristiwa yang dialami seharian. Jadilah rangkaian ini sebagai suatu rutinitas. Hasilnya, rasa memiliki antara anggota keluarga sangat kurang. Rasa kepeduluan sangat tipis. Kebutuhan akan silaturahmi semakin sedikit, meski di hari lebaran.

Sebaliknya, masalah yang dihadapi di luar rumah menjadi semacam bahan peledak yang siap menghentak saat terjadi gesekan dalam keluarga. Anak keseringan ngompol, kebutuhan ekonomi meroket, gaji tidak dapat memenuhi kebutuhan, istri lelah, suami lelah, kran komunikasi keluarga tidak lancar, hingar bingar sosial media yang menggiurkan, menjadi sumbu api yang menghancurkan keluarga. Konflik menjadi antitesis dari semua permasalahan ini. Keluarga tidak lagi menjadi pencetus solusi. Keluarga tidak sakral lagi.

Disfungsi Keluarga, Krisis Sosial

Keluarga adalah unit terkecil di masyarakat yang menjadi tempat terbentuknya Nilai-nilai Kehidupan. Para ahli sepakat bahwa keluarga, paling tidak, memiliki 8 fungsi antara lain.adalah fungsi biologis, ekonomis, psikologis, pendidikan, religius, sosialisasi dan fungsi rekreatif.
Keluarga dewasa ini begitu mengalami disfungsi. Dari fakta yang diuraikan di atas dan masih banyak fakta lain yang secara visual kita saksikan, menunjukkan bahwa fungsi yang dilaksanakan oleh keluarga sangatlah kecil. Hampir-hampir hanya menyisakan fungsi bilogis dan pendidikan.

Baik itu nuclear family (keluarga inti) ataupun extended family (keluarga besar), disfungsinya sama saja. Keluarga menjadi tempat legal untuk.menjalankan.fungsi biologis, lalu anak-anak disekolahlan. Orientasi terbesarnya adalah untuk kehidupan yang layak. Sayangnya, makna kehiddupan yang layak diukur  dengan pencapaian materi semata, bukan pada pencapaian nilai.hidup sang anak. Sekolah bertaraf internasional mencukupkan usaha dan pelaksanaan fungsi keluarga.

Akibatnya, fungsi psikologis sebagai suatu fungsi penyaluran kasih sayang, ekspresi, daya asertif ataupun self concept (konsep diri), menjadi terabaikan. Pun demikian dengan fungsi religius, sosialisasi atau bahkan fungsi rekreatif.

Padahal, secara definisi, keluarga seharusnya menjadi pemberi dan penguat value (nilai) hidup seseorang. Kepekaan, kepedulian sosial dan ukhuwah seharusnya didapatkan pertama kali dari keluarga. Fungsi sosialisasi dalam keluarga mengambil peran penting dalam hal ini. Namun kenyataannya, jangankan untuk mempedulikan dan menyambung ukhuwah dengan orang lain, hubungan atau bonding antar anggota keluarga saja sangat tipis.
Di sisi lain, masyarakat yang individualis dan sistem negara yang cenderung demokratis hedonis seolah sudah terbiasa dengan kondisi seperti ini. Masyarakat menjadi tidak peka karena mereka sendiri sibuk dengan pemenuhan kebutuhannya.

Tidak dapat disangkal bahwa pemerintah telah banyak mengeluarkan kebijakan yang bersinggungan dengan ketahanan keluarga. Tetapi yang disayangkan adalah bahwa kebijakan-kebijakan tersebut lemah dari sisi operasional dan pendanaan. Regulasi tinggallah sebagai pengisi buku dan forum-forum masyarakat, sedikit yang menjelma dalam wujud pelayanan prima.

Desakralisasi dan disfungsi institusi keluarga mengantarkan pada krisis sosial keluarga. Ini menjadi masala sosial kemasyarakatan yang penting untuk diselesaikan.

Kembali ke Fitrah

Harus berapa banyak lagi nyawa yang terkorbankan untuk menjadi martir bagi perubahan dan perbaikan keluarga, masyarakat dan negara ini. Jika upaya demi upaya telah kita tempuh dan kebijakan demi kebijakan telah dilegalisasi, sebagai manusia biasa, bijak kiranya jika kita bertanya tentang sejauh mana kita menghadirkan Tuhan Semesta Alam, Allah SWT dalam  kehidupan keluarga, masyarakat dan bernegara kita. Sang Rabb dalam Al qur’an telah menyatakan bahwa pernikahan sebagai benih terbentuknya keluarga adalah mitsaqan Ghalizan (perjanjian yang kuat). Maka se-yogyanyalah kita sebagai bagian dari keluarga semakin kenyadari fitrah tersebut. Ataukah kurang jelas seruan Allah SWT dalam Al.Maidah (50), “apakah hukum jahiliyah yang lebih kalian kehendaki? Hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin.”
Krisis sosial ini bukan tidak mungkin disebabkan oleh jauhnya kita dari Sang Pencipta. Mari tanyakan pada hati dan pikiran kita!

Post a Comment

0 Comments