Kids Zaman Now (Jangan Salahkan Mereka, Tapi Tuntun Mereka)

Oleh : Ummu Abdirrohman Al Atsariyah

Suatu ketika ada suara mengumpat di balik jendela. Sambil menengok ke luar, ia berbisik, "Dasar bocah edan! Kids jaman now! Siang bolong, kok, naik motor sambil pelukan?"

Siapa yang salah? Ketika banyak sekali tontonan tak sehat mata, lalu kita lupa memperingatkan anak-anak kita, "Itu bukan contoh yang baik, Nak. Setiap hubungan asmara, harus di bawah naungan halal. Begitu ajaran Islam, Sayang."

Di kesempatan lain, ketika anak remaja disuruh salat tapi malah menebar beribu alasan, lalu kamu mengumpat, "Dasar kids jaman now! Disuruh sholat malasnya minta ampun, so da*n it! Punya anak kaya gini."

Siapa yang salah? Ketika anak sudah remaja, baru kita ingatkan kewajiban salat. Waktu dari dia masih kecil, kenapa kita lalai mengajarkannya? Kita malah membiarkannya terlena pada game di ponsel-ponsel, juga pada serial animasi di televisi. Siapa yang salah?

Ketika anak malas belajar dan sering bolos di sekolah, lalu kita yang tua memarahi, "Lihat kids jaman now! Kerjaannya main melulu, minta ditempeleng bla bla bla ...!"

Siapa yang salah?

Ketika anak enggan menutup aurat dan lebih senang tampil seksi, kita memaksa. Yang padahal sedari kecil kita tidak membiasakan mereka berpanas-panasan di balik hijab. Siapa yang salah? Kids zaman now?

Sebenarnya setiap anak itu baik. Tinggal bagaimana kita sebagai orang tua dan keluarga yang membimbingnya.

Mereka tidak bisa kita biarkan begitu saja, hanya sekadar diberi pengawasan tanpa diberi arahan dan juga dorongan.

Pada masa remaja, jiwa dan semangat masih berkobar. Rasa ingin tahu juga sangat tinggi.

Wajar saja jika ada ABG yang baru bisa bawa kendaraan kemudian kebut-kebutan di jalan. Mereka butuh perhatian banyak orang, "Oh, gue hebat. Lihat, nyali ngebut gue keren, kan?"

Wajar saja jika ada remaja yang menjadi pengkonsumsi NARKOTIKA, karena berawal dari rasa penasaran, "Btw, pil ini rasanya gimana, yak? Katanya bikin asoy." Atau, "Ini minuman sensasinya gimana, yak? Katanya bikin lupa diri. Mabuk itu yang gimana, sih?"

"Pacaran itu rasanya kek apa, ya? Enak gitu, ya? Ada yang perhatian, ada yang nyemangatin."

Sesudah dapat pacar, si anak langsung punya pikiran, "Kasih first kiss ke dia, mungkin jadi pengalaman berkesan dan dia pasti tersanjung."

First kiss terjadi dan seterusnya, lalu badai. Telat datang bulan, hamil, putus sekolah, aib dsb. Tamat, semua cita-cita, tenggelam.

Begitulah remaja, tapi kita tak bisa sepenuhnya menyalahkan mereka.

Orang tua adalah peran terpenting di kehidupan anaknya. Ketika ia berusaha menemukan jati diri, mari kita senantiasa tuntun. Jangan merasa puas telah mencukupi mereka dari segi materi, jangan! Justru kecukupan dari segi itu bisa membawa anak pada pergaulan bebas. "Semua bisa asal duit. Duit ada, foya-foya, Guys!"

Awasi anak kita, arahkan mereka. Hentikan julukan kids jaman now atau generasi micin untuk mereka. Sebab realitanya begini;
"Generasi dulu juga ada yang seperti generasi sekarang. Dan generasi dulu, lebih dulu makan micin dibandingkan generasi sekarang."

"Setiap anak mencontoh dari orang tuanya, sebab jika tidak, maka takkan ada pepatah buah jatuh tak jauh dari pohonnya."

"Setiap anak harus dibimbing sejak dini, karena ada istilah belajar di waktu kecil, bagai mengukir di atas batu. Maka tanamkanlah hal-hal berupa kebaikan sejak dini."

Sekian, mohon koreksi jika terjadi kesalahan.

Sebelum tersampaikan pada orang lain, nasehat ini kuberikan pada diri sendiri.[]

Post a Comment

0 Comments