Ironis! Kota Seribu Pesantren jadi Sarang HIV/AIDS

Oleh : Eka Kirti Anindita, S.Pd.

Jember sejak dulu terkenal sebagai kota seribu pesantren. Julukan ini tentunya bukanlah hal yang aneh, karena faktanya Jember memiliki jumlah pesantren yang mencapai ribuan. Banyaknya pesantren yang dimiliki Jember memberikan warna bagi kultur masyarakatnya. Bisa kita lihat saat ini, Jember sangat kental dengan nilai religius nan agamis. Namun, kesan religius kota Jember kini ternodai oleh fakta penyimpangan dari religiusitas sebuah masyarakat. Setelah sebelumnya terkuak banyak pelaku LGBT di Jember, saat ini Jember menjadi kota peringkat ketiga dengan jumlah penderita HIV/AIDS tertinggi di Jawa Timur, setelah Surabaya dan Malang.

Hingga November 2017, jumlah penderita HIV/AIDS sebanyak 3.186 orang. Terjadi peningkatan fantastis dari tahun sebelumnya yang berjumlah 2.816 orang. Tempat persebarannya pun meluas. Jika dulu zona merah berada pada kawasan selatan Jember yakni Puger, Gumukmas, Kencong, kini merambah ke semua kecamatan. Ironisnya, potensi penyakit ini terus datang dari pasangan homoseksual. Penularan dari perilaku seksual yang menyimpang tersebut cukup tinggi dibanding yang lain. Selain itu, potensi tertinggi tertular HIV/AIDS masih tetap dialami oleh ibu rumah tangga, bahkan wanita tuna susila.

AIDS merupakan sejenis penyakit menular mematikan yang disebabkan oleh virus HIV. Virus yang belum ditemukan obatnya ini pertama kali ditemukan tahun 1978 di San Fransisco Amerika Serikat pada pasangan homoseksual. Sedangkan di Indonesia kasus HIV/AIDS ini pertama kali ditemukan pada turis asing di Bali tahun 1987. Tentu kita tahu bagaimana gaya hidup bebas turis asing yang begitu lekat dengan seks bebas meskipun tidak semuanya. Berdasarkan fakta ini dapat dikatakan bahwa virus berbahaya ini pada awalnya menginfeksi orang yang sering berzina, gonta-ganti pasangan seks dan perilaku seks bebas lainnya. Berdasarkan laporan dari UNAIDS (2008) Indonesia termasuk ke dalam salah satu negara di Asia dengan laju perkembangan epidemi HIV/AIDS tercepat. Sejak kemunculannya hingga Maret 2014 tercatat lebih dari 100.000 kasus HIV dan lebih dari 40.000 telah berada pada tahap AIDS.

Begitu banyak solusi yang telah dilakukan pemerintah untuk menanggulangi HIV/AIDS. Sebut saja solusi ABCD (Abstinence, Be faithfull, Condom, no use Drugs). Selain itu, penyuluhan tak henti dilakukan oleh berbagai LSM dan pemerintah utamanya kepada para remaja dan pelaku seks aktif (para PSK). Bahkan HIV/AIDS dan KRR dimasukkan dalam kurikulum pendidikan. Tidak hanya itu, Kemenkes mengklaim sudah melakukan banyak terobosan baru dalam penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia, mulai dari inovasi pencegahan penularan dari jarum suntik yang disebut Harm Reduction pada tahun 2006; pencegahan Penularan Melalui Transmisi Seksual (PMTS) mulai tahun 2010; penguatan Pencegahan Penularan dari Ibu ke Anak (PPIA) pda tahun 2011; pengembangan Layanan Komprehensif Berkesinambungan (LKB) di tingkat Puskesmas pada tahun 2012; hingga terobosan paling baru yang disebut Strategic use of ARV (SUFA) dimulai pada pertengahan tahun 2013.
Namun, penderita HIV/AIDS terus meningkat dari tahun ke tahun. Mengapa hal ini dapat terjadi? Jika kita lihat solusi yang dilakukan pemerintah memang belum ada yang menyentuh akar masalah. Akar masalah dari HIV/AIDS ini tak lain adalah gaya hidup liberal dan hedonis yang tumbuh subur di alam demokrasi. Sedangkan solusi kondomisasi yang pada faktanya paling menonjol dilakukan justru semakin menyuburkan seks bebas. KRR yang disosialisasikan pun minim dengan konten agama dan moral. Padahal yang membuat kita takut untuk berbuat maksiat adalah ketakutan kepada Allah Swt. Sedangkan ketakutan pada Allah Swt dapat ditumbuhkan melalui pendidikan agama. Solusi ABCD juga sia-sia jika segala rangsangan menuju seks bebas belum juga dilibas seperti pornografi-pornoaksi, prostitusi, tempat hiburan malam dan lokasi maksiat lainnya.

Melihat pola penanggulangan HIV/AIDS yang ada, kita patut pesimis negeri ini, termasuk Jember akan terbebas dari ancaman HIV/AIDS. Padahal program kondomisasi sebenarnya sudah berjalan baik secara terbuka maupun diam-diam. Milyaran rupiah sudah dihabiskan. Menurut menkes,  saat ini saja untuk membiayai pengobatan pengidap HIV/AIDS perlu 65 juta dolar AS. Jika tak ada upaya pencegahan, biaya pengobatan akan membengkak menjadi 202 juta dolar AS pada 2020. Tapi itu ibarat membuang garam ke laut, semua usaha itu tidak secara signifikan menekan  angka penderita HIV/AIDS di negeri ini.

Kegagalan itu wajar saja.  Sebab mesin penyebaran HIV/AIDS yaitu seks bebas dan narkoba tidak dipangkas sejak akarnya.  Pelacuran justru di lokalisasi dan di luar lokaliasi pun tetap marak.  Pornografi, pornoaksi, dan sensualitas terus dipasarkan.  Dan ditambah lagi, gaya hidup bebas terus dikampanyekan. Kejahatan dan penyimpangan seksual seperti homoseksual dan pelacuran  malah berusaha dilindungi dengan alasan HAM.
Ibarat dokter yang hendak mengobati pasien sakit, maka obatnya pun harus sesuai dengan diagnosis. Jika akar penyebab meningkatnya HIV/AIDS adalah karena freesex dan narkoba serta kampanye gaya hidup hedonis atas nama demokrasi, maka ancaman HIV/AIDS hanya bisa diatasi dengan menerapkan syariah Islam.  Kok bisa? Karena, pada dasarnya upaya penanggulangan penyakit menular ditempuh dengan beberapa hal: akar penyebab dan penyebarannya dipangkas, penyebarannya dihentikan/ dibatasi, penderitanya diobati/ disembuhkan, masyarakat dibina ketakwaan mereka dan diedukasi secara memadai.

Syariah Islam memangkas akar penyebaran HIV/AIDS yaitu seks bebas dan narkoba.  Mengonsumsi narkoba apalagi memproduksi dan mengedarkannya merupakan dosa dan perbuatan kriminal. Penggunanya dikenai sanksi disamping harus diobati/direhabilitasi. Sementara produsen dan pengedarnya harus dijatuhi sanksi berupa sanksi (ta’zir) yang berat, bisa berupa hukuman mati,  sebab telah membahayakan dan merusak masyarakat.

Sementara seks bebas atau perzinaan juga haram dan merupakan dosa besar dan perbuatan keji.  Berdasarkan Alquran (QS an-Nur [24]: 2) pelakunya jika belum menikah (ghayr muhshan) dijilid 100 kali. Sementara jika pelaku zina itu sudah menikah (muhshan) maka sanksinya adalah dirajam hingga mati, seperti yang dilakukan Rasulullah  terhadap Ma’iz dan al-Ghamidiyah. Untuk memberikan efek jera, pelaksanaan semua hukuman itu harus dilakukan secara terbuka disaksikan oleh khalayak.
Syariah Islam juga dengan tegas mengharamkan segala bentuk pornografi dan pornoaksi, dan pelakunya dikenai sanksi ta’zir.  Produsen dan pengedarnya dikenai sanksi yang berat, sebab tersebarnya pornografi dan pornoaksi akan membahayakan dan merusak masyarakat. Tentunya, semua sanksi yang diberikan Islam memberikan efek jera bagi para pelaku.
Sementara bagi penderitanya, syariah Islam mewajibkan negara untuk menyediakan pengobatan yang optimal bagi mereka –juga bagi seluruh rakyat—secara gratis.  Negara memberikan jaminan pemenuhan kebutuhan pokok dan peluang bagi setiap orang untuk bisa memenuhi kebutuhan pelengkapnya sesuai kemampuannya. Sehingga tidak ada yang ‘terpaksa’ melacur dengan alasan ekonomi.

Di luar semua itu, solusi itu disempurnakan dengan menciptakan kehidupan sosial yang sehat berlandaskan akidah dan syariat Islam. Umat akan dibina untuk meninggalkan segala bentuk kemaksiatan atas dasar kesadaran dan dorongan iman dan ketakwaan. Pintu amar makruf nahi mungkar pun dibuka lebar, bahkan hal tu merupakan kewajiban semua Muslim, termasuk untuk mengoreksi penguasa jika lalai melakukan semua itu. Dengan semua itu ancaman HIV/AIDS bisa diatasi.  Semua itu hanya bisa diwujudkan sempurna jika syariah Islam diterapkan secara total dan utuh.  Dan itu hanya bisa dilakukan melalui institusi Khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah.

Kita tentu tidak ingin Jember sebagai kota yang kental akan nilai religiusnya tercoreng karena tingginya pengidap HIV/AIDS. Lebih dalam lagi, kasus HIV/AIDS ini merupakan masalah menggurita yang harus segera diselesaikan karena merugikan banyak pihak. Oleh karena itu, menjadi keharusan bagi kita untuk mengembalikan kota Jember sebagai kota seribu pesantren yang benar-benar menerapkan Islam dalam segala aspek kehidupan, pun menyolusi kasus HIV/AIDS dengan Islam pula.

*penulis adalah alumni FKIP Universitas Jember, guru SMK swasta di Jember

Post a Comment

0 Comments