Dakwah Bukan ‘Ceramah’

Oleh : Ustadzah Desi Yunise

Ustadz Abdus Shomad, LC.MA dalam sorotan. Materi dakwahnya memang banyak menyentuh sisi kerusakan negeri ini. Ajakan para pejabat agar berjuang untuk dakwah dan agama Allah.  Ustadz selembut es krim ini tak luput dakwahnya dihalang halangi.   Ada lagi  Ustadz Felix Siauw bermata sipit.  Materi dakwahnya tak.jarang mengkritik kebijakan rezim ini.  Akhir akhir ini, kajiannya  sering dipersekusi.  Dua  ustadz inilah yang sedang memenuhi timeline jagat medsos dalam negeri.
.
Pembubaran dakwah  bukan hal baru di dunia  perdakwahan.  Bahkan perilaku penjegalan dakwah adalah penyakit turunan sejak jaman jahiliyah.  Kita tentu masih ingat khan tokoh, seperti Abu Jahal, Abu Lahab? Bahkan Si  penjegal dakwah ini disebut terang terangan oleh Alquran “Tabbat yadaa abi lahabiwwatab-celakalah kedua tangan Abi Lahab”.  Allah SWT yang menyebutnya celaka! Yang begitulah yang namanya dakwah.  Bukan dakwah namanya jika tak ada penghalangnya.
.
Dakwah memang bukan ceramah biasa.  Bukan cerita yang ramah ramah.  Materi dakwah tak terbatas yang hanya menyenangkan dan menentramkan.  Dakwah adalah merubah.  Dakwah fokus pada yang ingin diubah.  Pada hal hal yang masih jahiliyah.  menyerang sesuatu yang salah, di tengah masyarakat.  Mengubah dari yang tidak Islam menjadi Islam.  Merubah dari yang tak Islami menjadi Islami.  Rasulullah SAW merubah isi kepada manusia . Perubahan pola pikir  jahiliyah menjadi pola pikir Islam.  Pola sikapnya pun ditata sesuai pola sikap islam.  

Rasulullah SAW bersabda :

“Barangsiapa diantara kalian melihat kemungkaran, maka rubahlah dengan tangannya, lalu jika tidak bisa maka dengan lisannya, lalu jika tidak bisa maka dengan hatinya, dan ini adalah selemah-lemah iman” (HR  Imam Muslim dari Sahabat Abu Said Alkhudry ra.).
.
Inilah esensi dakwah, yaitu merubah.  Perubahan menuju masyarakat ideal, sesuai tuntunan nabi, diridhoi ilahi.  Masyarakat dalam bimbingan wahyu pun agar bahagia di dunia dan akhirat.  Kehidupan dipenuhi oleh nilai nilai suci dan mulia. 
.
Sebagian pelaku maksiat beranggapan bahwa suatu perbuatan  adalah sebuah hak pribadi, bebas bertingkah laku,sepanjang tak mengganggu.  Anggapannya bahwa jikaada yang maksiat itu urusan pribadi nya dengan tuhan.  Tak ada kaitannya dengan manusia lain.   Anggapannya salah, karena ia hidup dalam komunitas sosial yang disana ada interaksi.  Interaksi antar manusia dalam masyarakat  diikat oleh pemikiran, perasaan dan aturan yang sama.  Karena itulah masyarakat bisa menjadi unik dan spesial dan bisa menjadi masyarakat yang kacau balau.  Contoh masyarakat unik dan spesial bentukan Rasulullah saw di madinah al munawaroh.  Sebuah masyarakat agung lagi mulia.  Setelah sebelumnya tenggelam dalam kubangan jahiliyah.

Maka dari itu,  dalam sebuah kapal yang isinya banyak orang tak bisa berfikir semaunya sendiri. Tak bisa berbuat seenaknya sendiri, pun tak bisa membuat aturan sendiri.  Karena dalam masyarakat pasti bersentuhan dengan orang lain.  Disinilah pentingnya dakwah untuk menjaga biduk masyarakat dari badai dahsyat yang menenggelamkan.  Badai maksiat yang serupa dengan tornado.  Dakwah harus mencela  zina, miras, prostitusi, korupsi, riba, seks beba, LGBT.  Pun jika ada tindakan pejabat yang khianat, dusta, zalim harus dilawan.  Agar masyarakat terjaaga dalam perasaannya.  Jangan sampai masyarakat mati rasa.  Agar biduk masyarakat  ini selamat.   Pun sebaliknya perbuatan baik harus dipuji, agar senantiasa terdorong berbuat kebaikan.  Masyarakat mencintai  hal-hal yang baik.  Karena itulah yang menjaga umat ini. 
.

Sabda Rasulullah SAW:

“Perumpamaan orang yang mengingkari kemungkaran dan orang yang terjerumus dalam kemungkaran adalah bagaikan suatu kaum yang berundi dalam sebuah kapal. Nantinya ada sebagian berada di bagian atas dan sebagiannya lagi di bagian bawah kapal tersebut. Yang berada di bagian bawah kala ingin mengambil air, tentu ia harus melewati orang-orang di atasnya. Mereka berkata, “Andaikata kita membuat lubang saja sehingga tidak mengganggu orang yang berada di atas kita.” Seandainya yang berada di bagian atas membiarkan orang-orang bawah menuruti kehendaknya, niscaya semuanya akan binasa. Namun, jika orang bagian atas melarang orang bagian bawah berbuat demikian, niscaya mereka selamat dan selamat pula semua penumpang kapal itu.” (HR. Bukhari no. 2493).
.

Maka bersyukur masih ada ulama ulama yang mau berdakwah menuju perubahan.  Karenanya masyarakat masih bisa terjaga.   Ulama begini yang menjaga biduk masyarakat tak tenggelam.  Bagi  kalian para penikmat maksiat, jangan  bilang jika tindakan kalian merupakan hak individu yang tak boleh diurusi.  Karena manusia hidup di  bumi  milik Allah.  Sungguh tak pantas hidup di bumi milik Allah tapi menyalahi titahNya.  Sebagaimana nasihat abdurrahman al-Jauji, ‘bila kau bermaksiat kepada allah, janganlah engkau tinggal di negeriNya!”.  So,  Maksiat , No way!

#Revowriter#ideowriter
#Jelangnerbitinbuku
#KomunitasIbuPeduliGenerasidanKeluarga
#KIPSA

Post a Comment

0 Comments