Analisis Polugri Deklarasi Donal Trump Atas Yerusalem

Oleh : Muhamad Akbar Ali
(Ketua Persatuan Mahasiswa dan Alumni Bidikmisi Nasional Wilayah Sulawesi)

Resolusi yerusalem sebagai Ibu kota Israel melalui deklarasi politik oleh Donal Trump, bermuara pada penetrasi kejahatan yang sangat ganas. Donal Trump memanfaatkan Domain hak veto pada perhimpunan modus keamanan dan perdamaian Internasional atau lazimnya disebut PBB.

Lembaran pilu sejarah menggambarkan kepada dunia, eksistensi Israel pada dasarnya tidak memiliki wilayah hak manapun di dunia termasuk tanah suci palestina. Namun melalui pintu negara penjajah Inggris mengumandangkan deklarasi Balfour mampu menempatkan komunitas yahudi bermukim ditanah Palestina.

Benih konflik pun mencuat, sebab rakyat Palestina tidak rela satu jengkal tanah mereka dirampas tanpa dasar yang rasional. Selebihnya tanah Palestina, milik kaum muslimin, darinya merupakan pengorbanan darah oleh para syuhada. Ilusi kemerdekaan dalam bingkai perdamaian di hembuskan oleh protokoler berbagai negeri dalam bentuk diskusi dan solusi semu.

Telah puluhan tahun siklus pembicaraan yang katanya merumuskan agenda perdamaian antara pertikaian Israel dan Palestina. Namun alih-alih terwujudnya kemerdekaan Palestina, justru Israel semakin melebarkan ekspansinya. Hal itu terlihat kian hari Israel merampas sejengkal demi sejengkal tanah suci palestina.

Dasarnya bermain pada kepercayaan spiritual yahudi bahwa tanah palestina adalah peruntukan khusus untuk mereka. Klaim yang sangat sembrono dan tidak diterima akal. Tatkala para pemimpin negeri-negeri di dunia yang peduli atas palestina, serius menengahi konflik yang terjadi maka solusi parsial maupun fundamental, sangat mudah untuk dirumuskan.

Sebab dalang munculnya badai konflik sangat nyata terlihat. Dan hari ini sesaat Donal Trump mengumumkan kepada dunia bahwa ibu kota Israel adalah Yerusalem, kembali terdengar suara-suara sumbang oleh berbagai pemimpin negeri di dunia. Mereka hanya bisa bermodalkan seruan kecaman dan kutukan atas deklarasi tersebut tanpa tindakan solutif lainya.

Misalnya di Indonesia sendiri, melalui konferensi pers pada tanggal 7 Desember, Presiden Jokowi menyampaikan kecamanya atas ulah Donal Trump. Fenomena tersebut hampir terjadi diseluruh dunia. Redaksinya pun tak berbeda, yakni sama-sama mengkritik atas keputusan Presiden Amerika Serikat tersebut.

Euoforia seruan kutukan ataupun kecaman telah menjadi kebiasaan gradual ketika ada fenomena yang sama. Bagi yang berpikir mendalam dan menyeluruh atas problem yang terjadi, ini adalah cara basi namun selalu digunakan dan dianggap solusi.

Sebab yang terjadi di palestina bukan ekspansi pemikiran semata, namun lebih kepada penjajahan ganas secara fisik. Telah banyak nyawa kaum muslimin palestina yang berjatuhan akibat serangan penjajah Israel.

Dalam kacamata sejarah dan timbangan akal rasional, tidak akan ditemukan dan sangat tidak lazim perang secara fisik dilawan dengan suara semata dan melakukan diplomasi membujuk penjajah untuk menghentikan seranganya sembari diikuti sajian perdamaian. Kendati pada faktanya Palestina telah direbut sebagian tanah mereka dan stabilitas negara telah porak-poranda akibat ulah penjajah Israel.

Sesungguhnya kecaman ataupun kutukan tersebut tidak lebih dari ekspektasi tunduknya negara-negara tersebut kepada negara adidaya Amerika Serikat yang meruapakan jongos Israel. Hal itu berangkat dari sikap atas fenomena politik terjadi di timur tengah sebelumnya hingga hari ini.

Selainya terlihat dari sistem negara didunia mayoritas merupakan perpanjangan tangan sistem Amerika Serikat. Tak terkecuali oleh beberapa negara, seperti Kora Utara, China, Rusia. Maka solusi untuk mengentikan penjajahan atas palestina, yakni pengharusan adanya pemimpin tunggal atas kaum muslimin di dunia yang menerapkan aturan-aturan Islam secara mutlak, atau biasa disebut Khalifa.

Keberadaan Khalifa akan memberangus penjajahan dan penindasan atas kaum muslimin dipalestina dan termasuk kaum muslimin belahan dunia lainya yang diperlakukan tidak manusiawi. Perihal demikian merupakan perintah Allah dan Rasul-Nya.

Pada kolom sejarah, peradaban Islam telah membuktikan sikapnya memuliakan manusia dan menentang kedzaliman yang dilakukan oleh orang-rang kafir sekecil apapun bentuknya.

Post a Comment

0 Comments