Abu Janda dan Kebencian Terhadap Bendera Rasulullah

Oleh : Opik Oman

Ketika remaja, aku pernah bingung dengan simbol Islam. Waktu itu, ceritanya, aku sedang iri sama umat nasrani yang pada beberapa kesempatan memakai kalung salib. Aku kemudian bertanya-tanya, "Ada nggak sih simbol untuk Islam?"

Pertanyaan itu mengantarkanku pada simbol bulan sabit dan bintang. Saat itu, banyak masjid yang di puncak kubahnya terpasang simbol itu. Namun entah kenapa, aku kurang mantap dengan simbol itu. Serasa ada yang kurang. Ketidak-mantap-an itu ternyata terjawab sekarang. Aku tahu bahwa itu adalah simbol yang digunakan pertama kali oleh Turki Usmani. Jadi tidak digunakan oleh Rasulullah. Itulah yang bikin simbol itu kurang nendang buatku.

Pencarian simbol itu kemudian terlupakan begitu saja.

Lalu ketika terjadi aksi 212 pada akhir tahun 2016, aku melihat banyak bendera berwarna hitam atau putih bertebaran. Tertulis di kainnya, "Tidak ada tuhan selain Allah. Muhammad utusan Allah." dalam Bahasa Arab. Selanjutnya, aku diarahkan oleh Allah untuk mengetahui bahwa bendera macam itulah yang digunakan oleh Rasulullah dulu.

Pencarianku pun berakhir. Inilah simbol yang kucari. Ternyata bukan gambar. Tapi hanya tulisan. Betul-betul khas Islam. Yang tertulis ternyata juga sangat mendasar, yaitu kalimat tauhid dan kalimat syahadat. Sungguh aneh dulu aku tidak menyadarinya (mungkin karena aku terlalu terpaku pada syarat bahwa itu harus berupa gambar).

Pencarianku mungkin juga menjadi pencarian banyak orang lain. Jika dulu pemakaian simbol bulan sabit dan bintang tidak umum digunakan kecuali untuk kubah masjid. Kini, dua kalimat itu lazim digunakan umat Islam. Tidak hanya tertulis pada bendera, tapi juga pada topi, kaos, pin, gantungan kunci, jam dinding, stiker mobil, dan banyak media lain.

Subhanallah. Menurutku, ini adalah sebuah gerakan kesadaran atas identitas keislaman seseorang. Kalau diibaratkan dengan komik Naruto, maka ini adalah saat para ninja/shinobi menanggalkan ikat kepala desa masing-masing, dan menggantinya dengan ikat kepala yang sama yang bertuliskan 'shinobi'. Itu adalah simbol persatuan mereka.

Masifnya penggunaan simbol itu sepertinya berhasil bikin gerah kelompok tertentu. Ada dua cara yang mereka lakukan untuk menekan penyebaran penggunaan simbol itu; cara lembut dan cara kasar.

Cara lembut dilakukan dengan beretorika. Umpamanya dengan ungkapan bahwa iman itu adanya di hati, bukan di simbol. Orang yang masih memakai simbol itu, dianggap imannya belum mantap. Cenderung riya' dan sombong plus lebay. Mereka yang bicara seperti ini lupa, bahwa itu artinya mereka juga mengejek setiap orang yang menggunakan simbol. Dari kaum nasrani yang memakai kalung salib, sampai sekolah-sekolah yang mengibarkan bendera merah putih.

Masih ada beberapa ungkapan lain, tapi tak perlu lah kusebut di sini. Intinya adalah memengaruhi dengan lembut agar orang tidak lagi berminat menggunakan simbol itu. Mereka mencoba memasukkan pemikiran bahwa simbol adalah hal yang remeh dan tidak penting. Padahal, masifnya bujukan mereka agar orang-orang meninggalkan penggunaan simbol itu sudah merupakan bukti tersendiri betapa simbol mempunyai pengaruh besar pada orang yang melihatnya.

Buat penggemar komik Naruto, tentu paham benar mengapa para kage meminta para ninja melepaskan ikat kepala desa masing-masing dan menggantinya dengan ikat kepala 'shinobi'. Aku yakin nggak ada penggemar Naruto yang bilang, "Ih, para ninja ini kok lebay amat. Pake ganti ikat kepala segala. Itu nggak penting. Yang penting itu hatinya." Lalu ditambah lagi komentar, "Masashi Kihimoto (pengarang Naruto) ini ternyata orangnya dangkal banget." Haha.

Nah, ketika cara lembut gagal, cara kasar mulai dipakai. Bendera Rasulullah dipersepsikan sebagai simbol yang buruk dan berbahaya. Disebut sebagi simbol organisasi terlarang, bahkan teroris. Pada beberapa kesempatan, ada oknum-oknum yang merampas bendera Rasulullah dari orang-orang yang membawanya.

Cara kasar inilah yang menurutku coba dilakukan oleh Abu Janda di acara ILC semalam. Nggak tanggung-tanggung, dia coba 'membohongi' publik. Untung saja ada Ust. Felix yang dengan cerdas mematahkan argumen ngawurnya. Masih ditambah lagi, diakhir acara dia dapat kritik keras oleh Prof. Mahfudz MD. Bonusnya, dia dibully di medsos. Sungguh hebat rencana Allah untuk menghinakan orang yang ingin menghinakan agama-Nya.

Namun meskipun sudah glagepan, dia masih mencoba menggapai-gapai cari cara buat nyelametin muka. Namanya orang tenggelam, apapun yang mengambang bakal dipegang.

Salah satunya adalah dengan mempertanyakan, "Kenapa harus warna hitam? Kan bisa warna kuning atau hijau." Lhah, apa urusannya dia ngatur-ngatur warna bendera umat Islam. Mau ikut Rasulullah atau ikut usulan Abu Janda? Nggak level banget buat dibandingin.

Pada titik ini sebenarnya dia masih ngotot dengan argumen awalnya bahwa bendera itu adalah bendera HTI (organisasi yang telah dibubarkan pemerintah). Padahal argumen itu telah patah. Ini bisa saja merupakan tanda bahwa kebencian bisa membuat orang tertutup dari menerima kebenaran.

Selanjutnya dia membuat sebuah metafora ngawur. Dia menyamakan bendera Rasulullah dengan bendera palu arit. Dia mengibaratkan ada orang yang mengibarkan bendera palu arit. Lalu ketika ditanya, "Mengapa mengibarkan bendera PKI?" Orang itu menjawab, "Ini bukan bendera PKI, tapi bendera komunis."

Lhah, bendera palu arit dilarang karena memang paham komunis itu terlarang di Indonesia. Jangan samakan dengan bendera Rasulullah, karena Islam tidak dilarang, bahkan menjadi agama mayoritas bangsa ini. Bedanya jauh banget.

Tapi sekali lagi, dia bicara seperti itu karena mengacu pada pendapatnya semula bahwa bendera itu adalah bendera organisasi dan paham terlarang. Tak peduli pendapatnya berdiri di atas argumen yang kosong. Anda tidak akan mampu memberi penjelasan pada orang seperti ini karena dia memang bersikap untuk menolak penjelasan apa pun.

Kesimpulannya, umat Islam telah menemukan simbolnya. Simbol yang tidak akan ditolak oleh muslim mana pun, apapun organisasi atau kelompoknya. Jika ada bendera yang mampu menyatukan hati seluruh kaum muslimin, maka itu adalah bendera Rasulullah. Tidak ada yang lain.

Maka mari kita syi'arkan simbol tersebut. Karena ada oknum-oknum yang tidak rela simbol itu terlihat di mana-mana. Jangan menyerah dan kalah oleh tekanan, baik yang lembut maupun yang kasar, untuk menghilangkan simbol persatuan Islam dari bumi Indonesia.

Wa Allahu a'lam.[Opik Oman]

Post a Comment

0 Comments