Virus Selingkuh, Waspadahlah, Waspadahlah!!!!

Oleh : Nur Baya

Mengenalnya baru berbilang hari tapi akrabnya sudah serasa akrab dari zaman pra sejarah.

Entah kenapa guyonan yang mungkin bagi sebahagian orang terasa garing gak ada lucunya sama sekali terasa begitu gurih ketika jemari lentikku yang mengetik merangkai kata lalu ku send ke WAnya, pun demikian dengan balasan yang kuterima.

Kami ber ha ha hi hi ria, dan itu semua spontanitas terjadi, terbit begitu saja, naturallll.

Kehadirannya serasa melengkapi warna pelangi yang jika sebelumnya warna kuning nampak bias, maka dgn hadirnya sosok yang biasa kutemani berselancar di dunia maya,  warna kuning terpampang nyata tanpa fatamorgana kata Syahrini.

Aku merasa menemukan oase di tengah gurun yang gersang, tandus dan kering kerontang.

Taaapiiiii....

Alangkah lebih bijak jika kita  memaafkan kelancangan hati masing-masing.

Rasa ini bukanlah aksesoris penghias semata, lambat laun akan menjadi perhiasan yang melekat di sanubari terdalam.

Tak dapat kupercaya, aku yang sedari awal untuk sekedar tau namanyapun ogah-ogahan bisa seakrab ini.

''Pak Hot Spot'', demikian panggilanku kala itu. Panggilan itupun hanya terinspirasi dari penambatan jaringan yang gagal karena saya juga tak memiliki kuota internet .

Aku tetiba disergap rasa bersalah,  rasa bersalah itu sedemikian erat mengganggu.

Sungguh aku hanya menduga-menduga jika aku ini seumuran dgn dia, paling banter yaaaahh selisih 1 tahunan,  makanya aku memperlakukan dia selayaknya kami teman sebaya yang seumuran.
Allah ya kariiiimmmm, dugaanku ternyata meleset 1 juta%. Maafkan diriku yg blak-blakan. Astagfirullah Al adziiimmm, rupanya selisih umur kita memang cuma 1 tahun tapi setelah angka 1 ada angka 0 turut menyertai, tak ayal 10 tahunan rentang kelahiran kita. (Apaaaa aku yang boros di muka, ato dia yang awet muda yaahhh?? Wallahu A'lam).

Kita tidak sebaya tapi segaya, seperti itu pelipur laramu tatkala saya didera perasaan bersalah memperlakukanmu layaknya orang yg seumuran.

Hari2 berlalu diwarnai dgn kebaikan-kebaikan indah, kebaikan-kebaikan yang menyentuh hati, keikhlasan dan ketulusan budi, kami semua serasa keluarga, yaaahh sekali lagi rasa kekeluargaan yang kental itu memang terasa adanya.

Namuuuunn, kadang aku berkontemplasi, lirih berbisik pada nurani, "Apakah rasa ini kemudian akan berbalik menikam hati masing-masing?

Apakah dgn menyulam perasaan seperti ini akan lahir sulaman yang tak melukai? Apakah rasa yang terpatri  tak akan menjadi parasit? dan apakah rasa yg bersemayam kelak tak akan menjadi sekam???

Sungguh, memanage rasa tak semudah memanage bawahan di kantor. Rasa yg menyusup begitu saja tanpa permisi bak perjalanan diagnosa penyakit.

Semula yang terdeteksi stadium 1, lalu menjalar dan merasuki jaringan serta organ-organ tubuh yg lain. Tanpa terasa tau-taunya sudah stadium 4.

Yaaahh, sebagai hamba yang mengimani ketentuan-ketentuan Allah, saya percaya sepenuhnya bahwa tidak ada yang kebetulan di dunia ini, pun pertemuan dengannya.

(Dlm Al Quran Allah berfirman pasir di pinggir laut saja tidak bakalan bergeser semillipun tanpa izinNya, tak ada biji yang jatuh dalam kegelapan sekalipun yang luput dari pemantauan Allah, bahkan daun tak akan meninggalkan dahannya tanpa seizin dan sepengetahuan Allah ---- kalo kata Tere Liye daun yang jatuh tidak pernah membenci angin ----

Aku tak menghendaki rasa ini bermetamorfosis~~ dari kepompong kagum~~berubah jadi ulat suka~~ lalu kemudian menjelma menjadi kupu-kupu Cinta~~.

Tapiiiii....

Sampai kapan kami menjajah perasaan masing-masing? Berperang dgn nurani sungguh tak menyenangkan. Konflik batin mencari kebenaran adalah hal  WAJIB yang akan saya lakoni.

Aku tak tahu apakah kami ini adalah Si sulung yang mengharapkan figur seorang kakak, dan si bungsu yang merindukan sosok adik ???

Bagaimana mungkin kami mencederai mitsakan galiza?? Perjanjian kokoh yang mengguncang Arsy Allah saat ijab qabul pernikahan. Tapi mari kita belajar mencerna fakta sederhana agar tidak bermuara pada kesesatan logika yg mengakibatkan dirimu dan diriku menjadi irasional.

Insya Allah kita adalah orang yang sama-sama memiliki kapasitas keilmuan yang lumayan, kita adalah orang-orang terpelajar, berpendidikan & insya Allah terdidik dgn baik, bahkan sepertinya profesi kita 21 22 (sama-sama pendidik) tapi kenapa tingkah kita kadang begitu sulit dinalar or logika??

Kucintai suamiku dengan sepenuh cinta, pun demikian dengan dirimu di seberang sana tentu memiliki perasaan yang sama terhadap istri.

Tapi percayalah tak ada istri yang ridha suaminya memanggil dengan panggilan sayang terhadap perempuan lain.

Sekali lagi saya tegaskan, tak ada perempuan yang rela, termasuk diriku. Alibi apapun yang digunakan sebagai pembenaran tetap saja di mata kami (para istri) tdk akan menerima.

Nb:
Makasih kawan, kisahmu memberiku inspirasi

#30DWC9Day23
**Nurb@y@ Tanpa Siti

Post a Comment

0 Comments