Untukmu Wahai Para Penganten Muda

RemajaIslamHebat.Com - “Dan persetubuhan salah seorang di antara kamu (dengan istrinya) adalah sedekah.” “ Wahai Rasulullah, apakah (jika) salah seorang di antara kami memenuhi syahwatnya, ia mendapat pahala?” Rasulullah menjawab, “Tahukah engkau jika seseorang memenuhi syahwatnya pada yang haram, dia berdosa, demikian pula jika ia memenuhi syahwatnya itu pada yang halal, ia mendapat pahala.” (HR. Muslim)

Menikah bukan sekedar penyaluran hubungan biologis antar lawan jenis, bukan pula sekedar penyaluran hasrat cinta secara halal, atau pada umumnya, sesuatu yang terlarang bagi perempuan terhadap laki-laki dan sebaliknya menjadi halal. Pernikahan sejatinya adalah sebuah pesan, pesan tentang tanggung jawab, suami sebagai Qowam (pemimpin) dan Istri sebagai pengurus urusan rumah tangga.

Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.” [Al-Hujuraat : 13]

Sementara perjodohan yang terkait dan terikat hingga ikrar akad telah terucap hanya jada sarana awal untuk menuju taqwa.  Beban seorang pria akan bertambah, sebab dia akan menjadi penanggung jawab, pemberi nafkah kepada keluarganya, penuntun keluarga dikala istri dan anak-anak belum mengetahui tentang makna iman dan islam secara kaffah.

Sebab, si istri bukan lagi milik ayahnya, tapi milik suaminya. Prilaku istri yang tak mencerminkan islam, saat suaminya cuek bebek, maka dosanya pun bersemai pula pada suaminya. Namun, tatkala istri berhijab, taat syariah maka kebaikan itu pun bukan untuk istri saja tetapi juga suami.

Untuk istri, tugasmu tak lah mudah. Menjadi pengurus rumah tangga, menjadi bagian tulang rusuk dari suami tercinta, tugasnya pun bukan sekedar menjadi sahabat bagi suami dan ibu bagi anak-anaknya kelak, tetapi tugas kita tetap pada desain dari pencipta, yaitu menjadi sebaik-baiknya hamba. Pernikahanmu boleh saja menjadi panggung kebesaran, tetapi ingatlah, Allah SWT itu Maha Besar, maka ingatlah panggung keadilan bernama Hisab nanti di yaumil Akhirat.

Pada akhirnya, perjalanan hidup kita bukan untuk bahagia dalam makna kecil saja. Tetapi bahagia dalam makna sejati, yaitu menjadikan Surga menjadi tujuan kita. Wahai para penganten muda, Bobby, Kahiyang, Darsono, Darsini, Asep, Siti, Arip, Hanif, Hanifah siapa pun ingatlah, pernikahan itu selayaknya menjadi sarana ketaatan, bukan malah menjadi pemulus kemaksiatan.[]

Post a Comment

0 Comments