Tuhan-tuhan Kecil Negeri, Obral Janji dan Memperkaya Diri Sendiri

Oleh: Wulan Citra Dewi, S.Pd (Ketua Forum Ukhuwah Muslimah Riau)

"Novanto menembus batas". Demikian headline Media Indonesia edisi 23 November 2017. Tentu headline ini bukan guyonan semata. Faktanya, tersangka korupsi Mega proyek e-KTP tersebut memang telah berulang kali lolos dari jeratan hukum. Berbagai tragedi (sandiwara lebih tepatnya), rutin terjadi setiap kali dirinya dibidik KPK. Dari mulai koma, kecelakaan tunggal yang melibatkan tiang listrik, hingga terakhir mengalami gangguan jiwa (pen. hasil identifikasi fredick, pengacara Novanto).

Namun demikian, dalam kondisi jiwa terguncang, sang Papa masih ingat jabatan. Hebatnya papa, mampu melayangkan surat sakti kepada DPR RI agar tidak diadakan sidang Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) dan agar dirinya tidak di non-aktifkan sebagai pimpinan DPR RI. Luar biasa, Setya Novanto benar-benar menembus batas logika sehat manusia!

Terlepas dari babak demi babak kasus Novanto, ada plot lain yang tidak terekspos media. Ya, kondisi rakyat yang semakin menderita. Berbagai kesulitan hidup, baik sosial maupun ekonomi tengah melilit masyarakat bangsa ini.

Ketegangan sosial, akhir-akhir ini kerap terjadi. Aksi persekusi terhadap acara-acara keagamaan (pen. Islam) menjadi salah satu bukti. Mirisnya, persekusi hanya dilandasi oleh klaim "pancasilais" dan "cinta NKRI". Seolah, para pendakwah adalah kelompok yang anti Pancasila dan NKRI. Padahal, secara hukum tuduhan-tuduhan tersebut tidak pernah terbukti. Anehnya, aparat justru berpihak pada pelaku persekusi.

Sangat disayangkan, orang-orang atau kelompok yang meng-klaim dirinya sebagai "pancasilais" dan "cinta NKRI" ini justru melakukan tindakan-tindakan yang menodai nilai Pancasila dan hukum di NKRI. Salah satu contoh, coba lihat deretan nama para penikmat bancaan Mega proyek e-KTP yang direalis KPK. Siapa mereka? Mereka adalah orang-orang yang meng-klaim dirinya "pancasilais" dan "cinta NKRI". Waw, kan?!

Upaya adu domba, kental terasa dalam masalah ini. Sesama rakyat, saling berhadapan pasang badan. Saling melempar tuduhan, kecurigaan, bahkan kebencian. Inilah yang terlihat, sengaja disuasanakan demikian. Rakyat pacah, pejabat dan konglomerat menjarah. Sungguh parah!

Setali tiga uang, soal ekonomi juga menjadi jerat bagi rakyat. Lagi-lagi, wong cilik yang harus menelan pahitnya. Mulai dari iuran BPJS yang dipaksakan, langkanya BBM premium, melangitnya tarif listrik, hingga hilangnya gas bersubsidi 3kg di peredaran. Baru empat soal ini saja, menjerit rakyat dibuatnya. Belum lagi bicara printilan lainnya yang juga membawa nestapa.
Kondisi semacam ini tentu tidak diidamkan. Masyarakat pasti merindukan solusi dari kepahitan yang terus bertambah-tambah. Di sinilah kecerdasan serta keimanan masyarakat akan diuji. Benarkah hidupnya hanya menghamba pada Tuhan yang Esa, Allah SWT? Atau terperosok dan menghamba pada 'Tuhan-tuhan kecil' yang memperdaya?

Di panggung kapitalisme ini, apapun bisa terjadi. Termasuk munculnya 'Tuhan-tuhan kecil' yang seolah memberikan petunjuk serta kemudahan dalam setiap urusan manusia. 'Tuhan-tuhan kecil' ini adalah mereka, yang menjadi pahlawan dadakan dalam keputusasaan yang mendera. Ya, mereka adalah para calon penguasa. Baik tingkat daerah maupun tingkat kota, bahkan negara. Menjelang pesta demokrasi, 'Tuhan-tuhan kecil' mulai beraksi!

Sosok yang dicitrakan sebagai pemilik 'kemampuan' untuk mengurai berbagai soalan. Sosok yang memiliki segudang janji untuk melepaskan manusia dari jeratan yang menyakitkan. Sebagai bukti, mereka akan beri DP berupa kemudahan akses itu dan ini melalui perantara dan kuasanya. Pelunasannya, konon ketika ia menduduki tampuk kuasa yang didamba.

Maka jadilah rakyat yang berkelindan kesulitan, menghamba pada 'Tuhan-tuhan kecil' yang memberikan harapan. Terperdaya oleh sosok yang mengaku mampu memberikan segala yang dipinta. Melakukan apapun demi terkabulnya harapan dan asa. Sederhana sebenarnya, mereka inginkan sejahtera. Hanya saja, akankah 'Tuhan-tuhan kecil' ini menepati janjinya?

Tidakkah goresan sejarah akan hadirnya 'Tuhan-tuhan kecil' di bangsa ini menjadi sebuah pelajaran? Ya, sudah silih berganti sosok 'penyelamat' semu di negeri ini. Dari mulai jendral berbintang hingga kalangan bawahan alias wong ndeso, nyatanya tak ada beda. Obral janji, terjadi berkali-kali. Manis saat mengemis suara, bengis saat telah bertahta!

Wahai kaum muslimin, mayoritas penduduk negeri ini. Sungguh tiada kemudahan, keselamatan dan kesejahteraan kecuali hanya kembali pada hukum-hukumNya. Di mana kedzaliman dan kesewenang-wenangan menjadi musuh yang dimusnahkan.

Menghamba hanya pada Tuhan yang Esa, Allah SWT. Selayaknya hamba, maka kaffah dalam mengimaniNya adalah cara ampuh untuk terbebas dari jerat-jerat dunia. Termasuk kunci yang pas untuk keluar dari lingkaran tipu daya 'Tuhan-tuhan kecil' yang mulai merajalela. Juga, resep mujarab untuk menyembuhkan 'papa-papa' yang gemar nilep uang Negara! Wallahualam.[]

Post a Comment

0 Comments