Teriak Takbir Identitas Teroris?

Oleh: Dedeh Wahidah Ahmad (Ka Lingkar Studi Dinamika)

Islam kembali disudutkan. Kali ini kalimat “takbir” (Allahu Akbar) yang menjadi sasaran.

Pernyataan Kapolres Dharmasraya, Sumatera Barat AKBP Roedy Yoelianto saat live di salah satu stasiun TV swasta tentang indikasi pelaku pembakaran Mapolres Dharmasraya adalah teroris yang meneriakkan “takbir”, sungguh layak dikritisi.

Secara vulgar dia menyatakan bahwa kalimat “takbir” adalah indikasi bahwa pelaku adalah teroris. Sementara, publik sudah memahami bahwa teroris selama ini diidentikkan dengan pelaku tindak kekerasan atau keonaran. Maka bagaimana bisa “takbir” disandingkan dengan perilaku keonaran.

Sungguh hal itu merupakan pernyataan yang amat gegabah dan membahayakan. Sebab, kalimat “takbir” tak bisa disandingkan dengan keburukan.

Banyak nash Alquran yang menyatakan perintah untuk mengucapkan “takbir”. Kalimat takbir merupakan wujud pengakuan terhadap Ke-Maha Agungan Allah subhanahu wa ta'ala dan ungkapan kesadaran atas kelemahan manusia (QS. Alquran surat Al Isra[17]:111 dan Al Baqarah[2]:185).

Siapapun yang mengimani kebenaran firman Allah tersebut tentu akan terdorong untuk mengamalkannya dengan senantiasa membasahi bibirnya dengan ucapan “Takbir”.

Amalan ini sudah pasti tidak akan sia sia, akan semakin terhujam pada dirinya bahwa Allah Maha Kuasa, Maha Agung, serta betapa lemah manusia.

Jadi apapun kondisinya “takbir” adalah kalimat yang baik yang dianjurkan bagi setiap muslim untuk melafazkannya.

Kalimat “takbir” juga mendapat tempat yang amat mulia dalam Islam, khususnya dalam pelaksanaan ibadah seperti sholat, dzikir, doa dan sebagainya. Jadi betapa dianjurkannya seorang muslim untuk mengucapkan kalimat toyyibah ini.

Rasulullah Saw juga pernah menyinggung tentang orang yang keberatan mengucapkan kalimat “Takbir”.

Kepada Adi bin Hatim, Rasulullah SAW bersabda, "Hai Adi, apa yang membuatmu keberatan? Kenapa kamu merasa keberatan mengucapkan laa ilaaha illallah? Kamu kan tahu memang tidak ada Tuhan (yang layak disembah) selain Allah? Hai Adi, apa yang membuatmu keberatan? Kenapa kamu merasa keberatan mengucapkan Allahu Akbar? Bukankah memang tidak ada sesuatu yang lebih besar dari-Nya?"

[al-Fatawa V/239. Hadits Adi terdapat dalam al-Musnad IV/378, Sunan at-Tirmidzi no 2935, Shahih Ibnu Hibban no 7206]

Hadis tersebut menegaskan bahwa Nabi SAW tidak setuju dan merasa heran terhadap sikap sahabat yang keberatan untuk mengucapkan kalimat “takbir”.

Jika keberatan mengucapkan “takbir” saja sudah dipertanyakan oleh Rasulullah, maka bagaimana dengan orang yang serampangan dan berani menuduh bahwa orang yang mengucapkannya layak diduga teroris? Gelar apa yang tepat disematkan pada orang yang berani menyatakan kalimat tayyibah ini sebagai bukti teroris?

Memberi gelar taat, maksiat, berdosa, dan berpahala memang hanya hak Allah yang Maha membalas segala macam perbuatan hamba Nya.

Namun kita pun diberi petunjuk supaya tidak terjerumus pada perbuatan dosa dan maksiat. Kita juga dianugrahi akal untuk memahami syariat-Nya. 

Lalu apakah kita ridho kalau tiba-tiba ada orang yang menuduh "Anda teroris!" Karena anda terbukti menyerukan Takbir?

Tuduhan “takbir” sebagai bukti teroris, bukan hanya gegabah, namun juga keji dan sangat berbahaya. Bukan mustahil orang menjadi takut mengucapkan “takbir”.

Di tengah masyarakat pun sangat mungkin berkembang sikap curiga pada orang yang rajin shalat, rutin berzikir, serta gemar membaca doa doa yang mengandung lafazh “takbir”.  

Jika semua itu terjadi, maka ajaran ajaran Islam akan semakin asing dan dijauhi. Dan siapa yang akan senang jika Islam ditakuti, dibenci, bahkan diperangi? Tentu saja pihak yang memusuhi Islam.

Merekalah yang akan sangat bahagia. Sebab, tanpa harus bersusah payah menyerang, umat Islam sendirilah yang akan mendatangkan kehancuran dirinya.

Maka akankah kita biarkan tuduhan seperti itu terus berlangsung? Atau kita akan tegak di garda terdepan dan berani katakan bahwa “takbir” adalah ucapan mulia, kalimat tayyibah yang akan berpahala manakala kita mengucapkannya?

Mari kita tunjukkan bahwa kita tidak takut untuk berkata benar dan berani memperjuangkan.[]

Post a Comment

0 Comments