Tentang Diagnosis Gangguan Psikologis

Oleh : Yeti Widiati

"Aku ngerasa mual nih, Mam, pusing-pusing juga, mau ke dokter ..." keluh seorang gadis muda pada ibunya.

"Iya, mama juga mual dan pusing-pusing, nih ... Kita gejalanya sama, kamu aja deh yang ke dokter, nanti obatnya beli dua sekalian buat Mama. Biar irit ... " tukas ibunya.

"Oke, Mam ...."

Selang beberapa jam kemudian, anak gadisnya pulang, dan berkata, "Mam, ini obatnya, dokter bilang aku hamil. Berarti Mama juga hamil ..."
..............................

Lelucon itu saya baca di majalah Femina, puluhan tahun lalu. Berselang puluhan tahun dari situ saya sekarang melihat situasi yang mirip.

Sekitar 3-4 tahun lalu saya pernah memperoleh klien yang menyatakan bahwa dirinya mengalami gangguan psikologis. Dia menyebutkan nama gangguannya tersebut persis seperti nama yang ada di DSM (Diagnostic and Statistic Manual), "buku sakti"nya para psikiater dan psikolog klinis dalam menetapkan diagnosis gangguan psikologis.

Saya tanya, dari mana ia memperoleh diagnosa tersebut, dan bagaimana ia begitu yakin dengan kesimpulannya. Ia mengatakan bahwa ia membaca di sebuah website mengenai gejala-gejala dari sebuah gangguan, dan gejala-gejala itu persis seperti yang ia rasakan. Saya tanya lagi, apakah ia datang ke psikiater atau psikolog klinis untuk membahas mengenai hal ini. Dia bilang tidak, karena ia sudah begitu yakinnya.

Saya sampaikan padanya, bahwa untuk menetapkan diagnosis, seorang psikolog atau psikiater, harus melalui proses asesmen yang seksama dan membutuhkan waktu. Diagnosis berpengaruh terhadap tindakan yang diambil. Gejala yang sama pada beberapa orang belum tentu memiliki diagnosis yang sama persis. Sehingga setiap orang sangat mungkin memperoleh treatment atau saran yang berbeda.

Menyampaikan diagnosis (terutama diagnosis psikologis) kepada klien atau pasien perlu dilakukan sangat berhati-hati. Karena dalam banyak kondisi penyampaian diagnosis membuat klien menjadi merasa tidak berdaya, tidak mau berubah, membuat excuse dan ini semua kontraproduktif dengan apa yang diharapkan dari klien untuk bersikap kooperatif terhadap perubahannya.

Saya ambil contoh begini, ketika seorang dokter mengatakan bahwa pasiennya terkena Flu, maka bila pasien memiliki pengetahuan dan kemampuan tentang 'penyakit' ini, ia bisa cukup kooperatif untuk menyembuhkan dirinya. Ia bisa beristirahat, mengurangi aktivitas, minum banyak, makan vitamin, dsb.

Tapi ketika dokter mengatakan bahwa seseorang terkena Kanker, maka penerimaan dan keterlibatannya dalam menyembuhkan dirinya bisa sangat berbeda. Saya menemukan banyak kondisi ini pada relasi psikolog dan kliennya.  

Agak berbeda antara masalah psikologis dan medis. Masalah psikologis umumnya berkaitan dengan orang lain. Maksudnya begini, masalah anak bisa disebabkan/dipicu karena orangtuanya, pengasuhnya, gurunya, atau bahkan temannya. Sehingga penyelesaiannya akan melibatkan banyak pihak. Pengetahuan tentang kenyataan ini, ternyata kerap menimbulkan rasa frustrasi pada beberapa orang, terutama pada mereka yang memang memiliki kesulitan melakukan approach pada orang-orang tersebut. Ada juga klien yang "berlindung" di balik diagnosis untuk melakukan excuse atas tindakan-tindakannya. Misalnya, "Saya kan memang orangnya introvert, maka wajar aja saya tidak bisa bergaul ..."

Oleh karena itu banyak psikolog membuat pertimbangan cukup dalam untuk menyampaikan atau tidak menyampaikan diagnosisnya dengan melihat sejauh apa kliennya dapat cukup kooperatif melakukan perubahan.

Perkembangan teknologi sekarang dengan adanya internet, membuat situasi bertambah riskan. Orang sekarang bisa "menilai" dirinya sendiri melalui ragam website yang mengulas tema-tema tentang ini. Hal ini tentunya bagus sebagai introduction, namun tetap tidak bisa menjadi rujukan utama. Orang tetap perlu datang langsung pada ahlinya bila ingin memperoleh pengetahuan yang lebih komprehensif.

Saya pernah membaca pernyataan seorang dokter yang menolak memberikan saran melalui konsultasi online. Menurutnya, bagaimanapun dokter HARUS menyandarkan diagnosis pada observasi dan pemeriksaan secara langsung. Tidak bisa hanya melalui 'laporan' pasien yang belum tentu akurat.

Dengan alasan yang sama, saya pribadi pun membatasi memberikan saran yang terlalu spesifik pada kasus-kasus yang disampaikan secara tertulis. Saya lebih menyarankan ybs, untuk datang langsung ke psikolog di sekitarnya. Sayangnya, dibandingkan dokter, psikolog jauh lebih tidak merata penyebarannya hingga pelosok daerah.

Saya kuatir, kasus seperti di atas kejadian,
Misal (ini kejadian fiktif).
"Bu/Pak, anak saya nggak bisa konsentrasi waktu belajar"
Lalu, psikolognya atas hasil analisis terhadap klien tersebut, salah satu sarannya adalah, "Oh, sebelum belajar disuruh lari-lari saja dulu anaknya, supaya energinya bisa dialirkan."

Si ibu kemudian menceritakan saran tersebut kepada ibu yang lain yang anaknya juga sulit konsentrasi. Atau kalau saran tersebut disampaikan secara tertulis, maka segera saran tersebut di copas dan share kepada ibu lain yang anaknya juga sulit konsentrasi, "Kata psikolog, kalau anak nggak bisa konsentrasi waktu belajar, suruh lari-lari aja dulu sebelum belajar." Padahal jangan-jangan anak lain tidak bisa konsentrasi belajar diakibatkan karena emosinya yang terganggu masalah orangtuanya. Sehingga saran treatmentnya tentunya akan berbeda.

Jadi, belajar via internet, (belajar apa pun itu), tetap perlu dilengkapi dengan bertemu langsung orang yang memiliki ilmunya, dan juga dengan membaca buku-buku rujukan. Sehingga kita bisa memperoleh pengetahuan yang lebih komprehensif. Dan syukur-syukur juga bila bisa memperoleh bimbingan dan pendampingan.

*Interaksi secara langsung tetap lebih bernilai

Post a Comment

0 Comments