Sensitisasi dan Desensitisasi

Oleh : Yeti Widiati

Suara kereta api, seringkali mengagetkan dan membuat tidak nyaman bagi beberapa orang, terutama bagi bayi dan anak-anak kecil. Tapi ternyata mereka yang rumahnya di pinggir jalan kereta api tidak seperti itu. Mereka tetap bisa nyenyak tidur sekalipun kereta lewat. Dan bahkan saking seringnya kereta lewat, mereka tidak menyadari kereta itu lewat.

Hal yang sama juga terjadi pada mereka yang tinggal di dekat tempat pembuangan sampah, pabrik, gunung berapi yang mengeluarkan bau belerang, dll. Lama kelamaan mereka menjadi kebal dengan bau-bauan tersebut.

Indra yang awalnya tidak nyaman terhadap suatu stimulus sensori, lalu lama kelamaan menjadi terbiasa dan bahkan tidak menyadari kehadiran stimulus tersebut, itu lah yang disebut proses "desensitisasi/desensitization". Atau kalau disederhanakan dapat disebut juga proses menjadi "kebal".

Sebaliknya adalah, proses ketika diri kita lebih menyadari kehadiran suatu stimulus. Saya pernah mengalaminya setelah ibu saya meninggal dunia. Melihat roti di toko roti, dulu rasanya biasa-biasa saja. Tapi setelah ibu saya meninggal, tampilan roti itu memicu memori saya terhadap pengalaman saya bersama ibu, dan membuat rasa sedih pun muncul kembali. Mencium bau pakaian dan lemari pakaian pun bisa membangkitkan memori dan rasa sedih, karena ada bau kapur barus yang biasa dipakai ibu saya. Saya perlu waktu berbulan-bulan untuk bisa melakukan desensitisasi terhadap roti dan bau kapur barus.

Bila contoh barusan itu berkait dengan stimulus visual dan olfactory (bau), maka hal yang sama bisa juga terjadi pada stimulus sensori berupa rasa, suara, bahkan sentuhan.

Apakah proses sensitisasi dan desensitisasi ini proses yang baik atau buruk?

Tak ada yang baik atau buruk dari keduanya. Keduanya adalah proses logis dan alamiah yang bisa terjadi kapan pun, di mana saja dan pada siapa pun. Tapi bahwa proses ini bisa berakibat baik atau buruk memang ya, tergantung konteks dari pengalaman tersebut.

Menyadari bahwa kedua proses ini bisa berakibat baik dan buruk, maka para ahli psikologi memanfaatkannya untuk proses psikoterapi dan bahkan juga pendidikan.

Pemanfaatan proses sensitisasi dan desensitisasi dalam psikoterapi dan pendidikan, antara lain, untuk menghilangkan phobia, mengurangi kecemasan, rasa takut, trauma, menimbulkan empati, kepekaan, keberanian, termasuk treatment sensory integration bagi ABK.

Bagaimana pun tetap ada hal-hal yang perlu diperhatikan. Salah satunya adalah, bahwa tubuh kita memiliki ambang batas tertentu terhadap stimulus-stimulus sensori yang diterimanya. Ibaratnya seperti dokter yang menyuntikkan obat bius kepada pasien sebelum melakukan operasi. Betul, memang pasien tidak merasa apapun ketika kulitnya diiris dengan pisau operasi, akan tetapi bukan berarti kulitnya menjadi tidak bisa luka. Dia tetap terluka sekalipun tidak merasakan sakitnya.

Ambang batas fisik bisa terlihat dari seberapa parahnya luka. Ambang batas psikis lebih tidak mudah mengukurnya. Karena luka psikis seringkali baru terlihat akibatnya dalam jangka panjang.

- Anak-anak yang mengalami kekerasan di masa kecil, bisa saja ia tampak kuat dan tegar tapi sebetulnya ada mental yang rapuh di dalamnya.
- Istri atau suami yang disakiti pasangannya sepanjang pernikahan, mungkin dia tampak tenang dan sabar, padahal sebetulnya menyimpan luka yang dalam.
- Karyawan yang bekerja pagi hingga sore di tempat-tempat beresiko tinggi (terlalu panas, dingin, radiasi, rawan celaka, stresful, dll). Terlihat biasa-biasa saja. Tapi fisiknya menurun dalam jangka panjang dan mengundang ragam penyakit.
- Anak-anak kita yang belajar di sekolah dari pagi hingga sore, lalu mengikuti les dan mengerjakan PR pada malam hari. Baru terlihat gangguan fisik, emosi dan perilakunya di kemudian hari.

Dan masih banyak contoh lainnya ...

Nah, kita sebagai orangtua, pendidik, karyawan dan bahkan diri sendiri, sangat mungkin sudah melakukan proses sensitisasi dan desensitisasi ini secara alamiah dalam keseharian kita. Sekarang setelah kita tahu, maka mungkin kita bisa memanfaatkannya dalam pendidikan dan untuk pengelolaan diri dengan lebih sistematis dan dengan tujuan yang jelas.

Sekaligus kita juga bisa lebih jujur pada diri sendiri, apakah dalam mendidik kita sudah memberikan 'tekanan' yang sesuai dan bertahap untuk anak-anak/siswa kita. Atau apakah selama ini kita berpura-pura kuat terhadap tekanan-tekanan yang kita terima atau sebaliknya kita terlalu manja dan mudah mengeluh terhadap tekanan yang sebetulnya kita sanggup hadapi?

Bila kita mengembangkan kepekaan minimal terhadap diri sendiri, maka kita akan lebih peka terhadap sinyal tubuh, emosi dan juga perilaku kita.[]

Post a Comment

0 Comments