Sekulerisme-Kapitalisme Rusak Pola Pikir dan Pola Sikap Pemuda

RemajaIslamHebat.Com - Takengon -  “Pemuda adalah generasi penerus bangsa, namun kenyataannya saat ini pemuda jauh dari kata penerus bangsa," tukas Ustazah Ana dalam Training Mahasiswa yang dihelat oleh Majelis Muslimah Shalihah, Sabtu (28/10/2017) di Aula Rumah Binaan, Takengon.

Ustazah kemudian menjelaskan bahwa seharusnya pemuda saat ini menjadi ujung tombak perjuangan karena memiliki semangat juang tinggi, “ Pemuda adalah agent of change yang dengan keberadaannya mampu membuat perubahan di sekitar. Kita dapat melihat bagaimana pemuda Islam dulu di zaman Rasulullah mampu menciptakan kegemilangan peradabannya. Banyak IPTEK dicetuskan seperti penemuan alat-alat bedah oleh Abu Qasim Az-Zahrawi, sistem penjabaran angka oleh Al-Khawarizmi, penemu alat-alat optik oleh Ibnu Al Haitsami dan masih banyak lagi. Maka tidak heran jika waktu itu Islam menjadi kiblat bagi peradaban dunia. Namun sekarang, Islam tidak lagi dipandang sebagai mercusuar dunia bahkan dengan adanya jutaan atau puluhan ribu pemuda sekalipun," tambah Ustazah.

“Sekulerisme dan Kapitalismelah penyebab loyonya pemuda saat ini. Sekulerisme adalah paham yang memisahkan kehidupan dengan agama. Pemuda dipahamkan ketika beraktivitas dalam kehidupan tidak perlu menggunakan aturan agama, misalnya tidak perlu menutup aurat ketika berada di luar rumah sementara dalam Islam menutup aurat itu wajib bagi muslim. Sedangkan Kapitalisme adalah paham yang menomorsatukan modal/materi dalam setiap aktivitas kehidupan, misalnya demi mendapatkan pekerjaan di sebuah swalayan, seorang muslimah rela menanggalkan kerudungnya padahal mengenakan kerudung itu wajib. Kedua bumerang inilah yang telah merusak pola pikir dan pola sikap pemuda hari ini," jelas Ustazah yang merupakan alumni Unsiyah Banda Aceh tersebut.

“Disinilah Sekulerisme dan Kapitalisme menyerang pemuda. Untuk membangkitkan kembali, pemuda harus mengubah pola pikir dengan cara memahami bahwa Allah menciptakan kita dengan tujuan untuk beribadah kepada-Nya dan akan kembali pula kepada-Nya. Juga mengubah pola sikap dengan menjadikan halal dan haram sebagai standar beraktivitas, juga senantiasa terikat dengan hukum syara’. Jika keduanya beriringan, maka kegemilangan yang hilang itu dapat terwujud kembali,” tutup ustazah mengakhiri training siang ini.[]mn[ #MuslimahAcehNews]

Post a Comment

0 Comments