Sadari Tiap Diri Ada Modalnya

Oleh : Nurliani

Bismillah. Jika pernah ada yang berkeluh kesah,  mengungkapkan kesedihan, kegelisahan kenapa pasangan, suami, ayah dari anak kita belum bisa terlibat mengasuh dan mendidik anak. Sadarilah, berapa modalnya?

Alih-alih menuntut pasangan, belum berbuat ini itu bersama anak. Bisa jadi diri ini belum paham. Berapa modal yang pasangan ini bawa saat menikah? Atau diri kita sendiri, berapa modalnya saat menikah. Pernahkah hal ini menjadi pembahasan, pertanyaan saat dulu akan menikah, berkenalan, hingga kemudian bisa terus melanjutkan ya sepakat.

Atau dulu kita menerima saja, segala sesuatunya itu tanpa sempat bertanya. Demi alasan, agar tidak menjadi syarat, beban yang berat bagi pasangan. Jika itu dulu yang pernah kita lakukan, maka terimalah. Bukan menuntut. Karena kita dapat melakukan itu sebenarnya saat dulu sebelum memutuskan menikah. Bisa menilai, menimbang dan akhirnya memutuskan apakah pernikahan ini akan dilanjutkan, atau tidak. Jika alasannya ternyata pasangan tidak mau terlibat mengasuh dan mendidik anak.

Begitulah kira-kira kurang lebih pesan Abah Ihsan Baihaqi Bukhari  yang pernah disampaikan kepada kami, para alumninya. Saat diri ini mulai mengeluh.

Banyak dari kita lupa, seiring informasi, pelajaran, hikmah yang kita terima dalam belajar saat menjadi istri, ibu mengenai dunia pengasuhan. Jika diri ini saja membutuhkan tambahan ilmu dalam belajar. Bagaimana mungkin mengharapkan pasangan bisa berbuat sesuatu, jika informasi hal tersebut saja tidak diterima. Ataupun sudah tahu, kenali bagaimana dulu pola asuh saat pasangan kita dibesarkan. Dari bentukan keluarga yang hangat kah? atau yang kaku kayak kanebo kering. Hingga hanya bisa bicara untuk hal-hal yang penting. Itupun garing.

Nah andai diri ini sudah mengerti, memahami modal apa yang dimiliki pasangan. Dari sanalah kita akan mudah paham seberapa besar usaha, yang telah dilakukan pasangan untuk keluarganya. Sehingga kita ga buru-buru berfikir kenapa pasangan belum berbuat baik, asik bahkan ini itu sesuai dengan yang apa yang kita harapkan.

Masih inget sekali rasanya, yang guru saya sampaikan perihal ini. Lelah hayati neng jika terus saja berharap akan apa yang mesti orang lain perbuat. Sedangkan orang itu belum melakukan apa yang kita mau. Terus jika belum mau juga, apa iya kemudian hidup kita jadi perlu merasa menderita? rugi..rugi sendiri.

Terlepas dari itu semua, saya coba rangkum beberapa hal yang bisa diri ini lakukan agar pasangan mau terlibat mendidik anak, diantaranya :

1. Tahu Modalnya Berapa
Sesekali saat santai, ngobrol mengenai masa lalu, pahami dan bisa jadi cari tahu bagaimana pasangan dan diri ini dibesarkan. Saling bercerita, dulu baiknya cara orang tua begini. Hingga misal modal pengasuhan itu perlu dilanjutkan. Kurangnya disini, hingga apa yang perlu diperbaiki, caranya gimana. Perihal pola asuh dulu bagaimana dibesarkan juga bisa bertanya dari orang terdekat semisal orang tua,  saudara, teman sekolah, kantor. Jika kita kenal lebih banyak, insya Allah akan menjadi mudah paham kenapa perilaku ini yang sekarang ada.

2. Biasakan Dimulai dari Pertanyaan
Belajar kesana kemari, buat istri bukan berarti langsung otomatis bisa jadi guru buat pasangan. Sadari saja, ini suami yang Allah ciptakan dari jenis laki-laki memiliki rasa ego yang tinggi. Ini sejujurnya modal. Kalau diri ini paham, ke egoan laki-laki itulah yang membuat dirinya mampu menerjang segala badai persoalan diluar. Kebayang klo laki-laki ga punya ego. Jadinya klemar klemer, menghadapi hidup yang makin berat. Maka mulai dengan kalimat pertanyaan, bukan pernyataan. Kalau misal dijawab ga tahu, gimana?  ya ga apa-apa. Katakan saja, diri ini juga ga paham. Butuh pandangan dari pasangan. Yakin deh, otak pasangan lantas berfikir. Mencerna apa yang kita tanyakan tersebut. Asalkan sabar menunggu kapan ia mencari tahu perihal yang ditanyakan tersebut.

3. Libatkan Sekecil Apapun Aktivitas.
Kecepatan istri, ibu dalam berbuat baik/bertindak terhadap keluarga, anak, pasangan patut diacungi jempol. Hingga kadang lupa, hidup kita dalam keluarga itu perlu dilakukan secara bersama-sama. Bukan berarti segala aktivitas terus bareng-bareng ya. Maksudnya,  usahakan perihal kecil, sepele, itu dibahas. Diobrolin. Baiknya gimana ya. Enaknya gimana ya. Ga buru-buru ambil kesimpulan dan keputusan. Ga usah risih sama anggapan, kenapa sih dikit-dikit aja perlu nanya ke suami, pasangan. Ya iya lah, namanya juga suami sebagai pemimpin masa iya ga tahu apa saja yang terjadi didalam rumahnya. Walaupun akadnya sudah diserahkan kepada istri semisal untuk mengatur, berikanlah laporan secara berkala. Agar pasangan tetap bisa tahu situasi terkini apa saja yang ada di dalam rumah.

4. Tunjukkan Diri ini Melakukan Perbaikan.
Melakukan kebaikan, itu bagus. Dan sebisa mungkin menyampaikan kepasangan, suami. Hal apa yang telah kita lakukan dirumah. Bukan berharap pujian, berbalas ucapan terima kasih. Tapi agar suami, pasangan tahu hasil belajar apa yang telah diperoleh istrinya dan dilakukan. Misal, mas biasanya saat si adek numpahin sampo ke bak mandi saya akan marah. Alhamdulilahnya saya kemarin belajar disini, bahwa hal itu tidak diperlu dilakukan. Jadilah tadi saya bisa menahan diri. Makasih ya kemarin udah mengizinkan saya belajar. Cukup sampai situ, kalau suami ga nanggepin. Namun jika suami malah exciting dengan pertanyaan lain, maka lanjutkanlah obrolan ga jelas namun mengakrabkan itu.

5. Enggak Perlu Menunggu Orang Lain
Sampai saat ini karena kesibukannya diluar rumah, suami atau pasangan jadi belum banyak ngapa-ngapain nih sama anak. Gimana donk, masa iya istri, ibunya terus. Duh mak, mau sampai kapan kalian tunggu-tungguan? Hayati sewot, anak makin gede, suami gak paham juga. Sedangkan amal perbuatan baik, itu masing-masing. Ga dihitung gotong royong kok. Kalau hari ini emak yang dikasih kesempatan lebih banyak membersamai anak, maka lakukan. Gunakanlah segala kesempatan yang kita miliki ini, untuk menginstall otak anak. Ini bahasa guru kami, abah Ihsan. Ga usah pusing, ini kan seharusnya si bapak yang melakukan. Iya betul, idealnya begitu. Tapi jika kita saat ini yang lebih memiliki waktu, sampaikan ke anak. Jika keesokan hari, atau kapan, suami dan pasangan juga menyampaikan hal yang sama. Bukan malah bilang, pah itu udah aku ceritakan ke anak loh. Sampaikan begini, makasih ya ayah udah menyampaikan perihal tarbiyah pubertas ke anak kita. Kemarin ibu juga udah bicarakan ke si kakak. Tapi tetap saja ada bedanya. Ayah yang lebih pas, karena mengalaminya langsung.

6. Gunakan Kekuatan Power of Ngobrol
Resep ini kami dapatkan juga dari guru kami, abah Ihsan. Seringkali kesalahpahaman terjadi karena adanya kebuntuan dalam komunikasi bersama pasangan. Adanya perselingkuhan, biasanya diawali apa sih? sering ngobrol. Lama-kelamaan timbul rasa nyaman. Ingin senantiasa ketemu dan berdekatan. Sedangkan begitu beda saat bersama pasangan. Kalaupun ketemu, yang diobrolin persoalan. Bikin rumit, meminta dan menuntut. Maka dari itu banyaklah ngobrol yang ga jelas, ketawa tiwi, seseruan hingga perbincangan serius pun terasa asyik, menyenangkan yang kemudian fokusnya saat mencari penyelesaian semisal urusan anak menjadi tanggung jawab bersama.

7. Hargai dan Apresiasi Yang Telah dilakukan
Semisal ayah anak kita udah mencoba terlibat untuk dekat bersama anak. Kelihatan kaku, ga luwes saat bercerita sama anak, bahkan text book banget istilahnya. Ga usah cepat-cepat komentar ya, bu. Yang dilihat anak itu sesungguhnya ga selalu jalan cerita. Anak melihatnya sebagai bentuk proses gimana ikhtiar ayah dalam bercerita. Melibatkan diri untuk membersamai anak. Jika ini telah dilakukan ayah dengan sering, berulang kali. Yakin deh, pasangan kita akan juga menemukan polanya gimana cara agar anak mau mendengarkan. Misal anak protes, kenapa gaya ayah ga se asyik bunda. Ya bilang aja, gaya orang beda-beda. Disitulah seninya kalian bisa mengenal ayah, yang beda sama ibu. Sampaikan, bilang terima kasih ya sama ayah kalian, karena udah mau bercerita. Anak juga jadi belajar, betapa ibu sangat menghargai usaha ayah tersebut.

8. Mudah Memaafkan Adanya Kesalahan
Kelapangan hati dalam bertindak, sulit terealisasi jika beban persoalan masih menggelayuti pikiran. Pernah ada seorang teman bertanya ke saya, bolehkah saya marah ke suami hingga sebulan? Jika dijawab soal perkara boleh atau tidak boleh , sebagai manusia ya boleh-boleh saja. Tapi andai kamu tahu saja, bersikap demikian itu merugikan diri sendiri. Bersikap memaafkan atas khilafnya pasangan, sesungguhnya mirip-mirip apa yang  dilakukan diri ini juga kepada orang lain. Jika kita bisa yakin, ga pernah juga berbuat salah mungkin sah-sah saja berlaku kejam terhadap kesalahan orang lain, apalagi pasangan loh ya ini. Tapi apa yakin, kita juga ga pernah salah hingga berpotensi orang lain melakukan hal yang sama. Karena itu, mudah memaafkanlah insya Allah khilafnya orang lain, menjadi jalan untuk bisa melihat banyaknya kebaikan yang telah diperbuat.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

"Maukah aku beritahukan kepada kalian, istri-istri kalian yang menjadi penghuni surga yaitu istri yang penuh kasih sayang, banyak anak, selalu kembali kepada suaminya. Di mana jika suaminya marah, dia mendatangi suaminya dan meletakkan tangannya pada tangan suaminya seraya berkata: "Aku tak dapat tidur sebelum engkau ridha." (HR. An-Nasai dalam Isyratun Nisa no. 257.)

9. Bahagia Ini Diri yang Tentukan
Berharap melulu, menggerutu, mengeluhkan akan keadaan pasangan ga akan jadi tiba-tiba juga mengubah orang lain akan berbuat seperti yang kita inginkan. Menyediakan kelapangan hati, dan fokus memperbaiki diri insya Allah menjadi jalan kita akan merasakan kebahagiaan. Dan jika itu telah hadir, otomatis pancaran auranya akan diterima oleh orang lain. Yakinlah, ketika bahagia dalam diri sudah utuh, otomatis orang lain disekitar akan merasa w.o.w amazing ya. Menyenangkan ternyata ya orang lain dekat dengan diri kita. Hingga, seringkali malah akhirnya berbetah-betah anak, pasangan ngobrol bersama. Dari obrolah hal yang ga penting, lucu, menarik hingga hal yang akhirnya penting pun terasa enjoy. Ga menjadi beban.

Segitu aja ya sharingnya, semoga yang baca berkenan. Ini mah aselinya nulis ulang buat diri sendiri, agar menjadi penguatan. Sekecil apapun pasangan telah lakukan, insya Allah menjadi hal yang patut disyukuri. Karena ketika sudah ada rasa syukur yang hadir, maka kesabaran dalam menjalani prosesnya insya Allah akan mendapatkan kelapangan di hati dalam menjalani proses pengasuhan anak. Wallahu alam bii shawab.

Nurliani
- yang masih memperbaiki diri

#SharingGuru
#MenjadiPenguatan

Post a Comment

0 Comments