Rekonstruksi Idealisme Guru

Oleh : Laila Thamrin

Siapa yang tak kenal Hari Guru di Indonesia? Yup, tanggal 25 Nopember setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Guru. So, apa kabar para guru di Indonesia?

Guru adalah sosok yang mulia. Sebagian orang mengatakan guru adalah sosok yang layak di gugu dan ditiru. Dialah yang mengajarkan berbagai ilmu kepada anak didiknya. Dari guru TK hingga Perguruan Tinggi. Jadi, tak pernah rasanya kita dengar orang menyebut seorang gurunya di masa sekolah dulu dengan sebutan "dia itu bekas guruku". Yang ada pasti sebutannya "dia itu guruku waktu aku masih sekolah SD". Betul gak?

Namun, realita guru zaman now kadang membuat miris hati kita. Para guru banyak disibukkan dengan berbagai macam aktifitas administratif yang menyita banyak waktu. Mereka harus ikut sertifikasi, akreditasi, uji kompetensi guru, de el el lah. Sehingga profesionalimenya dipertaruhkan. Bagaimana tidak? Profesinya sebagai pendidik bagi anak muridnya sering terabaikan dan digantikan dengan lembaran-lembaran catatan ataupun tugas-tugas yang harus dikerjakan anak-anak di dalam kelas. Bukan para guru tak ada disekolah, namun kadang kesempurnaan tugas administratif sudah dideadline. Sehingga mereka harus duduk manis didepan laptopnya.

Belum lagi era digital menuntut para guru untuk tidak gaptek, alias melek teknologi. Ini masalah buat para guru yang tergolong zaman old tapi masih eksis di zaman now. Mereka berkejaran dengan tuntutan yang semakin bertubi-tubi. Hingga, alih-alih melek teknologi, kadang liat laptop aja sudah pada pusing. Hehe...that's real, bukan hoax. Saya pun kadang mengalaminya. #eh...

Dilema menjadi guru zaman now, meski anggaran pendidikan 20% dari total APBN, yang mana ditahun 2017 senilai dengan Rp. 416,1 trilyun, namun menurut Askolani, Direktur Anggaran Kementerian Keuangan RI, masih banyak program yang belum menunjukkan hasil dan manfaat optimal, salah satunya dibidang pendidikan. (Kompas, 25/11/2017). Padahal secara kerja nyata, guru sudah jor-joran ya kerjaannya....kenapa ya?

Zaman old sepertinya tak selalu buruk. Rasulullah SAW dan para sahabatnya hidup di zaman old, namun justru ketika Islam menjadi sandaran dalam pengelolaan anggaran negara dan pengaturan kebijakan untuk pendidikannya, mereka menjadi mercusuar dunia dibidang pendidikan. Lihat saja, Khalifah Umar bin Khattab Ra menggaji seorang guru masa itu sebesar 15 dinar perbulan. Ada riwayat dari Ibn Abi Syaibah, dari seorang temannya yang berasal dari Damaskus, dari Wadhiyah bin Atha' yang mengatakan : "Di Madinah ada tiga tenaga pengajar, yang mengajari anak-anak kecil. Khalifah Umar bin al Khattab ra. memberi mereka upah masing-masing 15 dinar perbulan." (HR. Ibn Abi Syaibah)
Harga 1 dinar setara 4.25 gram emas. Kalo kita kalkulasi ke uang rupiah kurang lebih sekitar Rp.31 juta  perbulannya. Wow....imejing. Kebayang ga kalo setahun dapat berapa ? Hehehe....

Belum lagi, ilmuwan sekaligus ulama setaraf dunia bermunculan dari dunia Islam. Siapa sih yang ga kenal demgan Al Kindi, Khawarizmi, Ibnu Khaldun, Ibnu Sina, Al Idris dan banyak lagi.. Tak ketinggalan Imam Syafi'i, Imam Ghazali, Bukhari, Muslim dan yang lainnya. Peran guru-guru mereka tentu tak bisa disangsikan hingga mencetak orang-orang hebat ini.

Guru dalam Islam memiliki kedudukan yang mulia. Dalam sebuah hadits dikatakan,  "Sesungguhnya Allah, para malaikat dan semua makhluk yang ada di langit dan di bumi, sampai semut yang ada di liangnya dan juga ikan besar, semuanya bershalawat kepada muallim (orang yang berilmu dan mengajarkannya) yang mengajarkan kebaikan kepada manusia (HR. Tirmidzi).
Jadi, seorang guru itu adalah orang yang memiliki ilmu, kemudian dia menyampaikan kembali ilmu yang dimilikinya kepada orang lain, baik kepada anak kecil maupun orang dewasa. Ilmu yang disampaikan haruslah ilmu yang bermanfaat baik di dunia maupun di akhirat.

Tujuan pendidikan dalam Islam adalah mewujudkan seorang muslim yang memiliki pemikiran dan pola sikap yang sesuai dengan aqidah Islam. Atau sederhananya, berkepribadian Islam. Sehingga, tugas seorang guru itu cukup berat. Karena mereka tidak hanya piawai transfer ilmu kepada orang lain, namun juga cakap dalam membentuk karakter anak didiknya dengan karakter Islam. Hingga terlahirlah output dari pendidikan para guru yang cerdas ini, generasi Islam yang mumpuni dalam Iptek sekaligus berkarakter Islam yang agung. Mereka tidak hanya menjadi ilmuwan hebat, namun juga santun, baik bahasanya, lemah lembut perangainya dan jujur. Setiap guru pasti bangga ketika anak didiknya dikemudian hari menjadi orang yang sukses.

Mengajarkan ilmu juga senantiasa mendapatkan pahala disisi Allah. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim)

Karenanya sekarang ini idealisme guru sebagai seorang pengajar sekaligus pendidik bagi generasi sedang diuji. Dan ujian berat ini pasti akan terlewati jika dan hanya jika semua dikembalikan ke pengaturan yang dibuat oleh Rabb semesta alam, Allah SWT. Karena telah terbukti selama 14 abad Islam diterapkan telah melahirkan generasi unggul dan cemerlang dari tangan para guru yang bertaqwa kepada Allah SWT.

Wallahu a'lam bish showwab

*Didedikasikan untuk semua guru di Indonesia
*Selamat Hari Guru 25 Nopember 2017

Penulis : Laila Thamrin

Post a Comment

0 Comments