Qadha Shaum bagi Orang Meninggal

Oleh: Ustadz Muhammad Rivaldy Abdullah

Apabila seseorang meninggal, dan ia memiliki hutang shaum, maka ia tidak berdosa membawa hutang shaumnya jika memang ia tidak memiliki kesempatan untuk menunaikan qadha.

Sedangkan jika ia berkemampuan untuk qadha namun ia wafat sebelum sempat menunaikannya, maka disunnahkan bagi walinya untuk meng qadha shaum almarhum, sebanyak hari yang ditinggalkan. Jika wali merasa berat, boleh menggantinya dengan fidyah.

Maksud dari wali ialah yang terdekat dari kerabatnya almarhum/almarhumah. (Al Fiqh Al Manhaji, Jilid 1/Hal. 350)

Dalilnya ialah, hadits dari 'Aisyah r.anha, bahwa Rasul shallallaahu 'alayhi wasallam bersabda :

"Barangsiapa wafat, dan baginya kewajiban shaum, maka shaumnya dibayar oleh walinya". (HR. Bukhari No. 1851, Muslim No. 1147)

Dari Ibn Abbas r.anhuma, ia berkata : "Datang seorang laki laki kepada Nabi shallallaahu 'alayhi wasallam dan berkata:

"Wahai Rasulullaah.. Sesungguhnya ibuku wafat dan ia punya hutang shaum selama sebulan. Apakah aku mesti meng qadha untuknya?. Rasul SAW menjawab, "Ya. Hutang Allaah lebih berhak untuk ditunaikan".  (Muttafaq 'Alayh)

Dalam hal ini boleh saja sebetulnya bagi wali/keluarga almarhum mewakilkan orang lain yang bukan keluarga untuk mengqadha shaum almarhum, jika merasa berat untuk meng qadha. Dalam kondisi ini jika tanpa izin wali, maka qadha shaumnya tidak sah. (Al Fiqh Al Manhaji, 1/351)

Jika walinya lebih memilih untuk fidyah, maka  wajib dibayarkan fidyah dengan setara 1 mud(600 gram beras). Tiap tiap hari yang ditinggalkan shaumnya, diganti memberi makan satu orang miskin. Kalau diganti makanan jadi(bukan berupa beras), maka senilai dua kali makan seorang miskin.

Pembiayaan untuk ini diambil dari peninggalan almarhum, sebagaimana wajibnya membayar hutang sesama manusia. Jika almarhum tidak memiliki peninggalan, diambil dari harta walinya sendiri.

Dasarnya, adalah apa yang diriwayatkan dari Ibn 'Umar r.anhuma :

"Barangsiapa yang wafat dan ia memiliki hutang shaum selama sebulan, maka wajib memberi makan atas namanya setiap satu hari diganti dengan fidyah satu orang miskin" (HR. At-Tirmidzi No. 817)

Syaikh Al Khatabi menerangkan, bahwa sebagian ulama justeru menafsirkan hadits-hadits di atas dengan "wajibnya wali dan keluarga almarhum membayarkan fidyah". Bukan shaum. Karena, "shaum" di dalam hadits tersebut dita'wilkan sebagai bahasa majaz(ungkapan) saja. (Ma'alim As-Sunan Syarh Sunan Abi Dawud, 2/122).  Namun yang shahih adalah di coba untuk diqadha terlebih dahulu oleh walinya. In Sya Allaah lebih afdhol. Wallaahu a'lam.

Post a Comment

0 Comments