Pribumi Flight or Fight?

Oleh : Nur Baya

Sound familiar about pribumi menggelegar dan menggelepar seperti ikan yang sudah disembelih ke seantero pelosok negeri pasca pelantikan Gubernur/Wagub DKI Jakarta, Om Anies dan Om Sandi.

Keharuan menyeruak melihat bapak begitu santun menyampaikan pidato pelantikan.

Energi kesantunan bapak sungguh menghipnotis kami, meskipun hanya mengindera via kotak kaca ajaib.

Hati berdesir melihatmu berangkulan penuh kesyukuran. Saling menguatkan penuh rasa kekeluargaan dgn om Sandi. (Pemandangan langka pemirsa. Terima Kasih atas pemandangan indah itu om Anies-Sandi)

Dengan pidato hikmat nan memikat itu mengasosiasikan kepada kita semua bahwa kebesaran jiwa yang dimiliki om Anis tak diragukan lagi.

Om Anies-Sandi tidak serta merta jumawa bak di awang - awang lalu lupa untuk kemudian turun kembali menapaki tanah tempat berpijak. (Nuansa kerendahan hati begitu terasa, terima kasih untuk pelajaran keluhuran budinya pak :) )

Tapi siapa nyana dan siapa sangka, seujung kuku dari pidato om Anis mendatangkan ''malapetaka''. Betapa kata pribumi dianggap racun yang bisa menarik ulur benang kematian.

Hastag tentang pribumipun menggurita demikian massif sampe-sampe menjadi trending topic dan hiper viral.

Lantas, saya yang awam ini tak begitu tersentil dengan sepotong diksi pribumi.

Tapi anehnya? Ia, ada yang aneh.Anehnya, gegara kata pribumi ini, sukses membuat beberapa friend list dalam akun FB saya termutilasi alias saya blokir.

Bukan apa-apa, mereka koq macam kebakaran lahan beribu-ribu hektar menanggapi pidato politik om Anis?

Tersinggung apa tersungging siiihhh??

Menurut hemat saya, biasanya ketika ustadz ceramah tentang larangan minum khamar, atau menasehati tentang pentingnya shalat 5 waktu, jamaah yang merasa itu yaaaaahh paling mereka yang peminum dan gak shalat.

Sama halnya ketika om Anies menyebut kata pribumi, koq emosinya tersulut seketika?

Hmmmm, nampaknya perlu sedikit ditelisik pake pendekatan analitik sederhana niiihh.

Baiklah...

Btw batang otak disebut juga otak reptil atau otak refleks. Nah bagi yang dikit-dikit sensi ketika mendengar istilah pribumi berarti otak reptilnya lebih dominan dibanding korteksnya.

Jadi, wajar aja gampang meradang. Gak jauh-jauh dari manner reptil tuh.

Sebenernya bagi saya pribadi, pribumi dan prilangit, eh maksudnya non pribumi gak ada masalah. Sepanjang kita sama-sama dalam rel kebaikan dan kebenaran, sah-sah saja kita saling memautkan jemari.

Kita bisa seiring tanpa salah satu dari kita ''menggiring''. Pelan-pelanlah dalam melangkah agar kita bisa bersinergi dan seiring. Karena sesungguhnya kami ingin seiring bukan digiring, digiring untuk pindah ke Junikarta (baca,Meik*rta) #mulaingelantur   

Janganlah terlampau dikepung nafsu birahi menggagahi bumi pertiwi. Tak elok mewariskan duka dan perselisihan. Pun juga tak indah menambatkan luka dan lara pada penduduk pribumi.

Tengoklah sejarah tentang pribumi di tanah Jogja sana. Perlakuan kalian telah menjadi artefak abadi dalam kenangan, plus ditunjang bukti fisik hitam di atas putih.

Kelakuan non pribumi ditahun 1948 silam telah menetaskan sejarah kelam. Betapa kala itu etnis Tionghoa lebih memilih membantu pasukan Belanda saat para pejuang pribumi tengah ngos-ngosan mempertahankan kemerdekaan pasca dijajah 350 tahun oleh Belanda.

Makanya sangat wajar dan manusiawi jika Gubernur Jogjakarta mengeluarkan ultimatum bahwasanya kaum nonpribumi tidak berhak atas kepemilikan tanah di Jogja.

Ingin kutekankan bahwa pribumi itu bukan fighter, ia tak akan ''memblendermu'' sampai ketar ketir.

Pribumi dan nonpribumi sama-sama dilepaskan oleh Allah ke bumi untuk mengabdi.

Btw eh be te we, sini saya bisikin..

Sebenarnya saya agak stuck menulis tema tentang pribumi ini, namun apa daya karena tugas negara sehingga saya harus menulisnya. #tsaaaaahh, colek teman-teman squad 8

Awal peletakkan 1 huruf  pertama tulisan ini, saya menelpon anak saya yang berumur 4 tahun. Saya menelpon dari Banjarmasin, iseng-iseng tanyakan tentang apa itu pribumi? Kali aja bisa nemu ide .

Lalu anak saya berkata, pribumi itu = peri yang turun ke bumi, hehehe.

Mengakhiri tulisan ini, saya ingin sedikit menyelipkan wejangan untuk diri saya pribadi dan kalo Anda juga berkenan boleh direnungkan.

Berhentilah mempermasalahkan pribumi dan non pribumi. Usah menyuburkan kebencian dengan atribut apapun.

Ketahuilah bahwa kebencian bisa membuat nalar menjadi lumpuh. Ketika nalar lumpuh maka tubuh akan cenderung merespon dengan mengejawantahkan onar dan makar.

Sadarilah bahwa yang membuat diri kita berkelas adalah kualitas, kapasitas dan kapabilitas yang kita miliki, bukan ''atribut'' atau barang yang kita kenakan.

Akan sangat indah jika kita berpunya lantas tak berkoar-koar mengabsen kepunyaan kita yang berderet-deret.

Percayalah, kerendahan hati akan membuat orang lain lebih menghargai dan menghormati kita.

Jadi berhentilah grasak grusuk saling seruduk mempersoalkan pribumi. Okay??

#30DWC9Day22
**Nurb@y@ Tanpa Siti

Post a Comment

0 Comments