Pemuda, Pahami Hakikat Persoalan Bangsa!

Oleh: Adinda Putri, S.T., M.T (Aktivis Intelektual Muslimah Aceh)

Direktorat Kewaspadaan Nasional Kemendagri untuk pertama kalinya mengadakan pelatihan keterampilan bagi pemuda di Kabupaten Waropen Provinsi Papua. Agenda ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman pemuda tentang dampak negatif masuknya paham dan pengaruh asing sekaligus untuk meningkatkan keberdayaan pemuda terkait potensi lokal yang dapat dikembangkan dan bernilai ekonomis. Kegiatan ini menurut pemerintah mampu memanfaatkan peluang arus globalisasi ke arah yang produktif. (merdeka.com/22/10)

Selain itu, narasi wawasan kebangsaan melawan radikalisme juga sangat masif disosialisasikan kepada pemuda mahasiswa civitas akademika kampus se-Indonesia. (antaranews.com)

Secara empirik, sebenarnya dampak negatif masuknya pengaruh asing di negara kepulauan ini telah tampak jelas di depan mata. Negara sepertinya tidak benar-benar serius ingin mengantisipasi dampak negatif dari pengaruh asing. Buktinya, Freeport telah mengeruk kekayaan tambang mineral emas dan tembaga sejak tahun 1967 di Papua dan berhasil menjadi perusahaan pertambangan kelas dunia hingga sekarang tetap berjaya.

Tidak hanya di Papua saja, hegemoni asing telah mendominasi pengelolaan sektor strategis milik negara yang menjadi hajat hidup masyarakat luas dan ini sangat merugikan negara. Cukup mudah pula untuk membuktikan bahaya asing yang mengancam kedaulatan bangsa. Hampir seluruh kebutuhan masyarakat dipenuhi melalui impor dan pembangunan sangat tergantung pada modal dan kemauan asing.

Kunci persoalannya, negara seharusnya dapat memahami hakikat permasalahan bangsa ini dengan benar sehingga solusinya relevan. Penerapan sistem sekuler kapitalisme inilah biang kehancuran dan penyebab seluruh dampak negatif pengaruh asing yang ada di Indonesia. Pengaruh negatif asing yang sangat berbahaya adalah penjajahan terselubung yang dilakukan negara-negara imperialis, mengganti sistem politik negara-negara muslim dengan akidah sekuler dan sistem kapitalisme-neoliberal. Hingga akhirnya negara hadir dengan seluruh kebijakan neoliberalisme sesuai dengan kemauan asing, mengusung kebebasan beragama dalam kehidupan masyarakat dan kebebasan kepemilikan menjadi prinsip sistem ekonomi kapitalisme. Transaksi ekonomi (motif materi) sebagai satu-satunya landasan interaksi antar manusia dalam aspek politik, ekonomi, sosial, budaya, dan hubungan antar bangsa. Inilah motif penjajahan asing yang sangat berbahaya, bukan penjajahan secara fisik, namun terbungkus dalam kerangka globalisasi, pasar bebas, investasi, privatisasi, termasuk demokratisasi dalam ranah politik, liberalisasi agama dan sosial budaya masyarakat.

Karena itu, semestinya bila negara serius mengantisipasi dampak negatif pengaruh asing, negara mengambil solusi yang relevan untuk mengakhiri penerapan sistem kapitalisme yaitu sistem kehidupan Islam yang mampu menaungi manusia bebas dari penjajahan manusia.

Pemuda sebagai penerus bangsa ini wajib memahami bahwa Indonesia saat ini masih dalam penjajahan, bukan lagi penjajahan fisik, namun penjajahan gaya baru, neoimperialisme dan neoliberalisme. Tidak tepat bila pemberdayaan pemuda justru diarahkan oleh negara untuk melawan paham radikalisme yang dilabelkan pada syariat Islam kaffah khususnya ajaran Islam tentang khilafah.

Pemuda harus memberdayakan diri dengan berpikir mendasar dan menyeluruh, menyentuh pembahasan pada level sistemik. Membahas perbandingan sistem kehidupan yang ada di dunia, kapitalisme, Islam, dan komunisme. Mengaitkannya dengan asal munculnya ketiga sistem kehidupan ini. Bagaimana fakta sejarah yang benar tentang penerapannya. Faktanya, satu-satunya sistem kehidupan yang berasal dari Sang Pencipta hanyalah Islam, penerapan hukumnya secara kaffah akan menebar rahmat bagi seluruh alam. Khilafah Islam akan menaungi manusia dalam keadilan hukum Pencipta dan meniadakan campur tangan penjajah yang serakah. Menghapus penindasan sesama manusia. Menghilangkan segala bentuk hegemoni.

Sangat perlu untuk dipahami seluruh pemuda bahwa keberadaan Khilafah Islam adalah sebagai penjaga kaum muslimin. Hubungan erat khilafah dengan nusantara, khususnya Aceh menunjukkan bahwa Khilafah Islam adalah kepemimpinan yang melindungi manusia untuk membebaskan diri dari penjajah. Tahun 1565, Khilafah Turki Ustmani mendukung pengusiran penjajah Portugis di Malaka dengan mengirimkan dua armada lengkap bersama pasokan senjata meriam dan ahli militer ke Aceh. Sumbangan monumental dari Khilafah saat itu ialah akademi militer Ma’had Baitul Makdis yang dibangun di Aceh. Instruktur dari khilafah Utsmani mendidik langsung taruna darat dan laut Aceh. Laksamana perang muslimah pertama di dunia yaitu Laksamana Keumalahayati adalah salah satu lulusan dari ma’had ini. Inilah gambaran keseriusan peran Khilafah Islam dalam menyelamatkan Indonesia dari penjajahan asing. Maka, semestinya narasi spirit keislaman, menegakkan kembali Khilafah Islam menjiwai setiap pemberdayaan pemuda.[]

Post a Comment

0 Comments