Merangkai Sabar Dengan Berlari

RemajaIslamHebat.Com - Siang yang sangat terik,  peluh menetes tak berbilang.  Sepanjang mata memandang hanya hamparan gurun pasir dan bukit berbatu. Anak laki-laki itu menangis sedari tadi. Tangis yang melantunkan suara kehausan dan kelaparan.

Kantung berisi kurma sudah kosong. Tidak ada air sedikitpun menetes dari kantung persediaan yang dibawa. Perempuan itu tak lagi bisa menyusui anak lelakinya,  air susunya telah kering karena tak ada asupan makanan yang ia makan.

Ia berdoa kepada Robb nya,  meminta pertolongan.  Dia meinggalkan anaknya yang menangis dibawah pohon kurma. Langkah kakinya berjalan menuju bukit Shafa,  menaiki dan mengharap akan bisa menemukan sumber air untuk meredakan hausnya.

Tidak ada apapun disana,  yang terlihat hanya lembah dan bukit.  Tidak ada mata air,  tidak ada seorangpun yang tinggal disekitar daerah kering itu.  Perempuan itu kembali berlari menuju bukit Marwah,  mendaki hingga ke puncaknya.

Berharap bisa menemukan mata air untuk melanjutkan kehidupan dirinya dan anak lelaki yang dilahirkan beberapa hari lalu. Sepi dan kosong.

Ia kembali berlari,  memupuk harapan menuju bukit Shafa. Menyelipkan doa bahwa Rabb nya akan memberinya pertolongan. Namun semua masih sama,  hanya terlihat hamparan pasir.

Sabar itu tak pernah pupus, doa itu tak pernah henti terlantun. Ia pun kembali berlari menuju bukit Marwah,  memeluk keyakinan bahwa Tuhannya tidak akan membiarkan dirinya mati kehausan di tengah gurun pasir. Namun kosong,  tak ada apapun yang ia temukan disana.

Langkahnya sudah mulai kelelahan,  namun ia terus berlari mendaki bukit Shafa kemudian menuju bukit Marwah.  Kesabaran yang disertai keyakinan bahwa akan ada jalan keluar dari semua ujian yang diberikan Tuhan kepadanya.

Setelah berlari tujuh kali putaran, menaiki Shafa dan Marwah namun tidak ada apapun yang ia dapati,  perempuan itu pun kembali menghampiri anaknya yang masih menangis.

Kebesaran Tuhan,  dari tanah dekat kaki-kaki mungil anak lelakinya yang sedang menangis keluar air.  Ia pun berteriak "Zam.. zam.. " yang artinya berkumpullah. Perempuan itu membuat kolam untuk mengumpulkan air yang keluar dari tanah.  Mengambil dan memberikan kepada bayinya yang sedari tadi menangis kehausan.

Dari kisah Siti Hajar beserta Nabi Ismail kecil itu kita belajar bahwa pada setiap ujian yang diberikan Tuhan,  Dia selalu menyertakan jalan keluar selama kita sabar dan yakin akan pertolongannya.

Siti Hajar yang menyulam sabar,  mendaki Shafa Marwah hingga tujuh kali,  bermandikan panas terik matahari serta debu gurun pasir. Namun keyakinan bahwa Rabb nya tak akan meninggalkannya terpancang kokoh dalam hatinya.

Kesabaran itu telah merubah kota Mekkah. Daerah dekat Baitullah,  yang semula sepi dan hanya ada lembah dan bukit berbatu tanpa penghuni,  kini dikunjungi kaum muslimin dari berbagai negri.

Siti Hajar tidak hanya merubah kota Mekkah,  tapi ia telah merubah peradaban dunia. Atas keyakinan dan kesabarannya,  Tuhan memberi anugrah kepadanya. Upayanya menemukan mata air bagi putra tercinta diabadikan dalam rukun Haji dan Umroh yang dikerjakan oleh setiap kaum muslim yang berkunjung ke Masjidil Haram.

Sungguh,  tidak bisa kubayangkan bagaimana Ibunda Nabi Ismail AS tersebut memupuk sabarnya kala itu.  Lintasan Shafa Marwah yang sekarang menjadi ibadah Sa'i memiliki total jarak tempuh hampir 3 Km. 

Saat ini, lintasan itu diberi fasilitas AC dan kipas angin sehingga suhu di ruangan menjadi sangat dingin. Ditambah adanya kran air zamzam di beberapa titik lintasan, untuk memberikan kenyamanan kepada para kaum muslimin yang sedang beribadah. Hal demikian tetap saja terasa letih dan berat bagiku.

Bagaimana dengan Siti Hajar,  yang berlari mendaki Shafa Marwah di siang terik yang panas dan berdebu?? Pantaslah Allah memberinya anugrah yang luar biasa atas sabarnya.

Maka yakin saja,  akan ada buah baik dari setiap kesabaran yang tersulam.  Teruslah meyakini bahwa Tuhan tidak akan memberimu masalah tanpa jalan keluar. 

Bukankah Dia adalah yang sangat setia? Ketika kita membutuhkanNya,  Dia selalu ada. Ketika kita merasa tak membutuhkanNya, Dia pun tetap saja ada. Saat kita meminta,  Dia selalu memberi. Pun saat kita tak meminta,  Dia tetap saja memberi.

Untukmu perempuan,  yang saat ini sedang didera masalah bertubi,  hingga lebam hatimu dan hancur harga dirimu,  bersabarlah.

Sulam benang-benang sabar itu untuk anak-anakmu. Pintal kesabaran menjadi kebahagiaan bagi jiwa-jiwa mungil mereka yang jauh lebih membutuhkanmu.

Teruslah mendekap masalahmu dengan kekuatan doa dan keyakinan akan Rabbmu. Tuhan tak akan membiarkanmu menangis selamanya,  akan ada buah dari kesabaran yang kau tanam. Percayalah..

#30DWC9
#Day28
#Squad9

Sumber:

Fb: Desy Febrianti

Post a Comment

0 Comments