Monday, November 20, 2017

Menulis Terus, Teruslah Menulis

RemajaIslamHebat.Com - “Ngapain sih ribet-ribet mikir, capek-capek cuma buat bikin rangkaian kata-kata? Sok puitis. Emang ada yang mau baca? “
“Tadi nulis tentang apa? Ngajak orang bersyukur? Nulis pesan kebaikan, motivasi, dan hikmah? Coba liat ke diri sendiri…Kayak udah jadi orang baik aja!  Sendirinya aja masih sering galau…banyak masalah...banyak dosa…”

Kalimat-kalimat itu seringkali menghampiri pikiran saya setiap kali selesai membuat tulisan dan mempublikasikannya. Agaknya ia datang sebagai reaksi dari bagian diri saya yang saya namakan sendiri sebagai “Si Self Critic”. Sisi diri yang sukanya menyemburkan penilaian dalam wujud hawa-hawa negatif dalam diri. Sebenarnya niatnya baik, ia ingin saya menjadi lebih banyak berefleksi dan memikirkan kembali apakah yang saya lakukan, yang saya bicarakan, tentang suatu hal,  sudah tepat dan sempurna. Namun kehadirannya yang terlalu dominan juga ternyata malah bahaya, karena bisa membunuh semangat dan keyakinan diri untuk terus berproses dan menganggap kekurangan sebagai bagian dari pembelajaran. 

Oow… saya pun merasakannya. Meskipun sadar peranan si self critic itu, tetap aja pengaruh yang didengungkan olehnya seringkali membuat diri saya meresapi menjadi ragu. Ragu dan bahkan merasa takut untuk tetap menulis. Saya merasa menyelinap pula perasaan bersalah dan menyesal. Apa mungkin benar ya, saya tidak pantas dan tidak seharusnya menulis tentang hal-hal yang sesungguhnya terkadang berkebalikan dari kenyataan diri dan hidup saya sendiri. Kalo udah gini, biasanya ide jadi buntu. Gak tahu mau nulis apa. Mau nulis takut. Mau nulis malu. Mau nulis males. Hiks.

Saya kemudian mencoba untuk merenungkan kembali perkataan si self critic. Ada benarnya, memang. Tapi, saya sadar bahwa tidak bisa bersepakat dengannya. Sebab justru dengan menulis, saya seperti memiliki alarm pengingat pribadi. Apa-apa yang telah saya tulis adalah tentang bagaimana saya menerapkan dan melatihkannya dalam diri sendiri. Menulis menjadi media pengingatan bagi saya belajar untuk menjadi, belajar untuk mencoba, seperti apa yang saya tuliskan. Saya menulis tidak untuk menggurui siapa-siapa, melainkan terutama kepada diri sendiri yang memang masih harus banyak belajar dalam berbagai hal.

Menulis bagi saya bagai cermin ajaib. Ia dapat memantulkan gambaran bayang dan imajinasi diri penulis apa adanya sesuai realita maupun berupa ekspresi harapan yang diinginkan atau ia juga dapat menembus keduanya. Saya pun menguatkan tekad untuk terus menulis, menulis terus. Sebab terlampau banyak hal yang saya pelajari darinya. Terutama terkait keteguhan, keberanian, dan semangat untuk berbagi meski tentang sesuatu yang sederhana sekali.

Sebagaimana ungkapan salah seorang sahabat terbaik Rasulullah SAW, Ali bin Abi Thalib ra.

“Ajarkanlah sastra kepada anak-anakmu
Agar mereka berani melawan ketidakadilan.

Ajarkanlah sastra pada anak-anakmu
agar mereka berani menegakan kebenaran.

Ajarkanlah sastra pada anak-anakmu
agar jiwa-jiwa mereka hidup.

Ajarkanlah sastra kepada anak-anakmu.
Sebab sastra akan mengubah yang pengecut menjadi pemberani.”

Sastra dalam kalimat itu bagi saya salah satunya dapat diartikan menulis. Ya, menulis menjadikanmu berani. Berani mengurai rasa ragu. Berani menggilas rasa takut. Berani membebat ketidakberdayaan. Berani menyampaikan kebenaran, menghalau keburukan. Karena saat engkau menulis, percayalah bahwa salah satu jalan menebar kebaikan masih dan akan selalu terbentang. 

#Day21
#30DaysWritingChallengeJilid9

Sumber:

Fb: Devi Saufa Yardha


Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!