Menolak Agama = Menolak Selamat dan Bahagia

Oleh : Umi Diwanti (Pengasuh Majelis Qur’an Khodijah Al-Qubro)

"Dipisah betul, sehingga rakyat tahu mana yang agama, mana yang politik," kata Jokowi saat meresmikan Tugu Titik Nol Peradaban Islam Nusantara di Kecamatan Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, Maret lalu (kompas.com 24/03/2017).

Pernyataan ini rupanya tidak sebatas ungkapan. Lahirnya Perppu Ormas pada tanggal 10 Juli merupakan realisasi upaya pemisahan agama dari politik yang digadang-gadang orang nomor satu di negeri ini. Dimantapkan lagi dengan pengesahan Perppu tersebut menjadi UU pada 24 Oktober lalu.

Upaya pemisahan agama dari politik ini nampak pada poin “paham lain…” yang dalam praktiknya telah menyasar ormas Islam yang getol menyampaikan seruan Islam kaffah. Menyeru agar negeri ini mau mengambil hukum-hukum Islam dalam mengatur kehidupan termasuk di bidang politik.

Indikasinya ada pada alasan pembubaran ormas tersebut. Yakni ide Khilafah yang notabene adalah sebutan bagi sistem politik Islam. Jika selama ini perkara akidah dan ibadah yang merujuk pada Islam tidak dipermasalahkan, maka jelas yang ditolak saat ini adalah Islam dalam ranah politik dan pemerintahan.

Padahal Khilafah sendiri adalah ajaran Islam yang tidak terbantahkan lagi. Seruan penegakannya bertebaran dalam kitab-kitab muktabar para ulama besar. Jelas bersumber dari Alquran dan hadis-hadis Rasul serta ijma' sahabat.

Konsekuensi Penolakan Agama Dalam Politik

Sebelumnya perlu diketahui bahwa makna politik dalam Islam bukan sekedar meraih kekuasaan. Esensinya adalah bagaimana caranya agar rakyat hidup sejahtera dan aman, bahagia di dunia dan akhirat.

Jelas hal ini hanya bisa diraih dengan menjadikan aturan Tuhan sebagai rujukan. Dan untuk merealisasinya mustahil jika hanya diserahkan pada individu atau golongan saja. Harus diperankan oleh negara. Di sinilah perlunya kekuasaan.

Di sisi lain, menolak aturan dari Sang Pencipta artinya manusia harus membuat sendiri aturan politik tersebut. Padahal manusia itu makhluk, sifat makhluk itu lemah dan terbatas. Baik bagi sebagian orang bisa jadi buruk menurut sebagian lainnya. Manusia tidak bisa bebas dari kepentingan pribadi, kelompok, atau lingkungan yang memengaruhinya.

Memaksakan penerapan hukum buatan manusia dalam mengatur manusia yang jamak adalah sebuah kesombongan semata. Hanya akan membawa pada perselisihan tak berkesudahan dan kerusakan. Karenanya, menolak agama dari penataan politik ibarat menolak udara dalam kehidupan. Hanya akan menjerumuskan manusia dalam kubangan kesengsaraan. Lambat laun akan mengantarkan pada kebinasaan.

Islam Pilihan Rasional

Manusia memiliki tiga dimensi kehidupan. Pertama, hubungannya dengan Sang Pencipta yaitu aqidah dan ibadah. Kedua, hubungannya dengan dirinya sendiri. Seperti makan, minum, berpakaian, dan akhlak. Ketiga -dan ini yang paling dominan dalam kehidupan manusia- yaitu hubungan manusia dengan manusia lainnya (hablum minannas).

Hablum minannas ini luas. Mulai dari hubungan manusia dengan pasangannya, hingga hubungan antarnegara. Baik dalam bidang ekonomi, sosial, pendidikan, kesehatan, peradilan, pemerintahan, dan politik dalam maupun luar negeri.

Seperti halnya masalah akidah dan ibadah, jika seseorang ingin mendapatkan kebaikan dalam pelaksanaannya, tentu agamalah yang dijadikan rujukan. Begitu juga dalam urusan hablum minannas. Hanya akan beroleh kebaikan jika agama sebagai rujukannya.

Tentunya yang dimaksud adalah agama yang datangnya dari Sang Pencipta. Dan satu-satunya agama sempurna yang datang dari Sang Pencipta hanyalah Islam (QS. Al-Maidah: 3).

Oleh sebab itu, memilih Islam sebagai rujukan sistem politik bukanlah sebuah penyimpangan. Melainkan sesuai fitrah manusia apapun agamanya. Karena dalam Islam tidak ada paksaan dalam berkeyakinan. Justru politik Islam akan memberi jaminan pelaksanaan ibadah bagi setiap agama.

Selain itu, Islam sebagai tatanan politik telah terbukti sukses menciptakan kehidupan gemilang di masa lampau. Meski ada upaya masif pengaburan sejarah Islam, namun masih ada yang menuliskannya dengan jujur.

Salah satunya adalah Will Durant dalam bukunya yang berjudul “The Story of Civilization”. Banyak hal ia tuliskan, di antaranya adalah pemerintahan Islam telah mampu memberi kesejahteraan dan keamanan pada seluruh rakyatnya selama berabad-abad. Yang tidak pernah ditemukan dimasa selainnya (Masa Depan Peradaban Islam, Eramuslim.com 5/2/2010).

Karenanya sebagai manusia normal yang menginginkan kebaikan untuk negeri ini, mengambil sistem Islam adalah sebuah keniscayaan.

Islam Sebagai Landasan Politik adalah Konsekuensi Iman

Selain itu, sebagai muslim saat bersahadat sejatinya kita telah berikrar. Bahwasanya tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad utusan Allah. Kita menyatakan iman kepada keberadaan Allah beserta seluruh sifat-sifat-Nya. Sekaligus berjanji bahwa tiada yang patut disembah dan diikuti selain Allah dan segala ketetapan-Nya.

Dengan sangat jelas Allah memerintahkan kita untuk masuk Islam secara sempurna (kaffah) sebagaimana termaktub QS. Al-Baqarah ayat 208. Dan dalam QS. An-Nisa ayat 65 Allah mempertanyakan keimanan kita jika tidak menjadikan apa yang dibawa oleh Rasul-Nya sebagai pemutus perkara kehidupan. Ini merupakan indikasi apapun aktivitas manusia harus berlandaskan Islam, tak terkecuali dalam berpolitik.

Selain itu Allah juga memperingatkan bahwa siapa saja yang menolak menata kehidupan ini dengan apa yang telah ditetapkan-Nya maka kesempitan hiduplah yang akan didapatinya. Dan sungguh segala macam problem yang menyelimuti negeri ini sudah cukup jelas sebagai penampakan dari kesempitan hidup tersebut.

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. (QS. Thaha: 124)

Karenanya, jika kita masih menginginkan kebaikan untuk negeri ini, semestinya kita merasa perlu untuk memperhatikan segala ketetapan Sang Pencipta negeri ini. Dan menjadikannya sebagai aturan dalam seluruh aspek kehidupan dalam negeri.

Jika kita yakin Islam datangnya dari Allah, maka tidak perlu ada ketakutan dan kekhawatiran akan ada manusia yang terzalimi atas penerapannya. Adanya ketakutan dan kekhawatiran itu sama saja dengan kita tidak percaya dengan sifat Allah Yang Mahaadil dan Mahabijaksana pada seluruh makhluk-Nya. Dan ini artinya ada cacat dalam syahadat kita.

Ketaatan Berbuah Keberkahan

"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya." (QS. Al A'raaf: 96)

Tidak ada definisi lain pada kata takwa kecuali menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Karenanya mengambil agama (Islam) dalam mengatur seluruh kehidupan adalah satu-satunya garansi untuk mendapatkan keselamatan baik dunia maupun akhirat. Sebaliknya, menolak agama berarti menolak selamat dan bahagia.

Maka, jika ingin selamat dan bahagia yang harus dilakukan bukanlah menolak agama. Melainkan sebaliknya, apapun yang berusaha menjauhkan apalagi menolak agama hadir dalam tatanan kehidupan manusia itulah yang wajib ditolak dan ditinggalkan. Allahu’alam. []

Post a Comment

0 Comments