Men-DESAIN

RemajaIslamHebat.Com - Mukena merupakan salah satu alat penutup aurat paling pavorit di Indonesia. Meski sudah berpakaian yang menutup aurat Muslimah Indonesia pada umumnya akan tetap melapisinya dengan mukena. Bahkan saking lumrahnya, justru saat ada yang sholat tanpa mukena dianggap aneh. Parahnya jika sampai menduga aliran tertentu yang dipandang miring. Padahal syart sholat itu menutup aurat, pakai apapun bisa tak harus mukena. Faktanya di negara selain Indonesia tak ada yang mengenal mukena. Jika mukena wajib bararti cuma muslimah Indonesia dong yang sholatnya sah.

Beda lagi kalo sholatnya di luar rumah maka berlaku hukum pakaian wanita di luar rumah. Yakni jilbab (gamis) yang tidak nerawang, tidak ketat dan terulur hingga ke dasar (Al-Ahzab:59). Plus khimar (kerudung) yang terjulur hingga menutup dada (An-Nur: 31). Tentunya kedua potong pakaian tersebut (jilbab dan khimar) dipakai di atas pakaian rumahan kita. Dan dikarenakan aurat wanita itu seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan. So, di zaman now kita bisa dimudahkan menunaikan seruan itu dengan memakai kaos kaki.

Kalo sudah lengkap begitu sebenarnya tidak perlu lagi memakai mukena. Hmmm, kalo ga pake jilbab dan khimar tapi menutup aurat dengan pakaian selainnya termasuk salah satunya mukena saat sholat di tempat umum, apa sholatnya sah?

Sholatnya sah karna sekali lagi syarat sah sholat adalah menutup aurat, bisa dengan apapun. Hanya saja ada hisab lain di sisi muslimah tersebut. Yakni hukum pakaian di tempat umum (luar rumah) yang dia tidak penuhi. Eh, kok jadi panjang ya. Sebenarnya bukan ini yang mau saya obrolkan. Tapi semoga  juga memberi pencerahan karna kadang masih ada yang salah-salah sangka tentang mukena ini.

Jadi begini, masalah mukena ini biasanya adalah bau apek dan jamur berupa bintik-bintik hitam (tahilambuan,red Banjar) khususnya di seputaran dagu dan kepala. Pasalnya bagian itu lebih rentan basah karena bersentuhan langsung dengan anggota wudhu. Apalagi bagi sebagian masyarakat Banjar sebaiknya air bekas wudhu jangan dilap. Konon katanya biar wajah bercahaya berkah air wudhu.

Dalam kondisi basah jika dilipat atau malah cuma digulung-gulung di dalam sajadah lama-lama itulah yang bikin jamuran dan baunya tak nyaman. Jadilah solusi yang baik untuk mukena adalah digantung pake hanger/kapstok saja. Masalahnya lagi di daerah tertentu (yang nyata di rumah ulun pang, heee) nyamuk paling suka bersarang di kain-kain yang bergelantungan di kamar.

Alamiahnya manusia akan berpikir mencari solusi. Maka sayapun berpikir gimana supaya mukena bisa ga jamuran tapi kamar juga ga jadi markas nyamuk. Masukan ke lemari! Yup masuk lemari gantung. Tapi di sinipun masih ada kendala karna lemari gantung saya sudah ada penghuninya, jilbab-jilbab saya. Kalo dicampur rasanya gimanaaa gitu. Berarti harus ada lemari lain. Nah masalahnya lagi kamar saya akan semakin sempit kalo harus menambah satu lemari lagi.

Maka akhirnya saya mulai membayangkam sebuah lemari yang mampu mengakomodir semua pakaian termasuk ada tempat khusus mukena dan baju Sholat Abinya anak-anak. Tapi tetap irit tempat. Walhasil saya mendesain sendiri dan jadilah seperti yang di pict ini.

Gantungan sayap kanan untuk jilbab saya. Sayap kiri baju (hem dan koko) suami. Karena tidak sepanjang jilbab maka bagian atas bisa dikasih satu rak buat celana dan sarung beliau. Nah yang tengah itu sengaja didesain agak sempit karna cuma buat gantung mukena dan koko Si Abi, bawahnya buat sajadah. Sedangkan Rak-rak yang di bawah itu satu untuk pakaian harian saya, satu pakaian harian suami satu lagi buat seprei, selimut, dll. Jadilah lemari ini tinggi dan lebarnya tidak standar sperti lemari pada umumnya. Alhamdulillah, kamar kecil kami lebih terasa lapang dan mukena saya ga jamuran.

Tapi maaf lagi, sebenarnya juga bukan lemari ini yang mau saya sampaikan sesungguhnya. saya cuma mau menggambarkan bahwa saat kita punya keinginan kita akan sungguh-sungguh mendesain agar keinginan kita terpenuhi.

Saat kita jualan OL dimana foto salah satu daya tarik pertama bagi konsumen maka pastinya hp kita akan kita isi dengan berbagai aplikasi yang bisa kita pake buat pict yang ajiib.

Begitu juga saat kita misalnya bergelut di dunia kuliner maka segala peralatan dan perlengkapan yang memudahkan kita berkreasi di dapur akan kita beli. Berbagai kursus menambah skill pun pasti akan kita jabanin. Dapur kita pun akan disesuaikan dengan kebutuhan yang memudahkan kita. Dan masih banyak lagi yang kita desain agar menghantarkan pada apa yang kita inginkan.

Sayangnya kadang kita kurang maksimal dalam mendesain hal yang lebih penting. Bahkan kadang tidak terpikir dan mebiarkannya berjalan apa adanya. Ingin punya anak sholih/ah misalnya. Maka harusnya kita desain sedemikian rupa. Dimulai dari memilih pasangan, memilih lingkungan tinggal sampai pada desain kebiasaan kita sebagai suami istri di rumah.

Jika hari-hari aktivitas kita yang terindra oleh anak-anak adalah mengutamakan materi. kesibukan kita berkutat untuk mencari harta saja. Meski dengan dalih ini untuk mereka juga. Maka tidak heran jika mereka akan lakukan hal yang serupa. Saat kita tua perlu dijaga. Mereka pun sungkan membersamai kita. Saat kita perlu mereka, dengan ringan mereka berkata "Maaf Ma, Pa saya sibuk  bekerja". Dan mereka merasa tidak ada yang salah karna begitulah dulu kita pada mereka. Jadi jika kita ingin hari tua bahagia desainlah anak kita dengan kesungguhan kita. Termasuk desain waktu kita dalam membersamai mereka.

Terlebih lagi jika kita ingin kehidupan akhirat kita nyaman. Harus kita desain dan realisasikan semaksimal mungkin seumur hidup kita. Sungguh-sungguh dan tak boleh main-main. Dan tentunya desain yang kita buat harus sejalan dengan petunjuk dari Sang Penguasa akhirat itu sendiri.

Kita harus serius memikirkan bagaimana caranya agar waktu, tenaga, pikiran dan harta yang kita miliki cukup untuk melaksanakan seluruh kewajiban. Masih lowong untuk memperbanyak amalan sunah. Dan bagaimanacaranya agar bisa bersih dari keharaman dan kemakruhan serta hal-hal yang subhat. Dan mampu mengambil pilihan tepat dalam ke-mubah-an.

Pastinya semua itu perlu kesungguhan dan pengorbanan. Semakin ingin hasil maksimal harus semakin banyak pengorbanan yang harus dicurahkan. Untuk sebuah mukena dan kamar yang nyaman saja saya memerlukan pengorbanan uang, tenaga dan pikiran. Maka sangat wajar untuk segala kebaikan di Syurga perlu pengorbanan segala-galanya.

Toh jika tidak kita investasikan untuk merancang kehidupan akhirat. Tetap saja waktu, tenaga, pikiran dan harta kita akan habis. Bahkan otomatis baik sadar atau tidak justru ia akan terpakai untuk desain kesengsaraan abadi. Karna kesudahan manusia hanya dua. Jika tak ke Syurga pastilah ke neraka. Dan itu berdasar apa yang kita perbuat di dunia ini. Nastagfirullah wa naudzubillah...

#YukDesainAkhiratKita
#IslamKaffahRahmatanLilalamin
#BelajarNulis
#AkademiMenulisKreatif
#SharingMenulisUntukPerubahan

-WuD- 30.10.17

Sumber:

Fb: Wati Umi Diwanti

Post a Comment

0 Comments