Memintal Kasih di Penghujung Senja

RemajaIslamHebat.Com - Langit kota Mekkah masih berselimut kelabu. Bias cahaya sang sumber energi bumi masih bersemu malu.  Subuh pun belum lama berlalu.

Kami duduk melingkar pada pelataran Masjidil Haram di depan Zamzam Tower.  Menikmati hiruk pikuk ribuan manusia dalam geliat aroma subuh. Seorang perempuan dengan sekotak kue kering menghampiri.

"Halal.. halal.. " ucapnya meminta kami mengambil kue yang ia sodorkan.

Kami mengambil kue yang dibagikan perempuan bercadar itu.  Kuepun habis.

"Mak,  ni kue nya. Buat kamu aja. Aku kan sudah dapat yang pembagian tadi pagi. " Kata seorang lelaki berusia sekitar 45th menghampiri istrinya yang tidak kebagian jatah kue.

"Nggak,  buat Bapak aja. Nanti Bapak lapar,  ini masih mau ke Tan Im. " kata istrinya menolak penawaran suaminya.

"Buat Ibu saja,  aku makan kurma sama air saja sudah kenyang. Ni. " Sang suami tetap menyodorkan kue kepada istrinya. Sang istripun tak kuasa lagi menolak pemberian pasangan hidupnya.

Ah haru. Perhatian yang kecil namun terasa manis di pagi hari ini. Sepasang mata yang tak saling menatap mesra,  tak ada peluk manja namun aura sayang terasa menelusup sukma.

Peluh bercucuran,  ini bukan lagi panas namun sungguh Matahari telah garang memanggang.

"Pak,  sudah dapat air? Ini ambil punya Emak." Seorang perempuan dengan keriput di wajah menghampiri seorang kakek berusia sekitar 70tahun.

Kakek itu menggeleng, mengusap peluh yang menetes.  AC pada bis yang membawa kami meninggalkan Jabal Rahma tak cukup mampu mendinginkan udara siang ini.

"Masih ada ni. " jawab sang kakek menunjukkan sebotol air mineral didalam tasnya.

"Ambil saja Pak.  Aku sudah punya,  Bapak kan cepet haus." Nenek itu menyodorkan air mineral ke pangkuan sang kakek.

Ah nyess.  Ada dingin merambati keping hatiku, menyaksikan sepasang kekasih dalam usia senja yang saling memanja.

"Pak Asdimo mana ya,  sudah naik belum.  Pak ustad, suami saya mana? " suara seorang perempuan lanjut usia berteriak-teriak mencari suaminya ketika bis perlahan melaju meninggalkan pelataran Majid Ji'nara. Ada kecemasan pada nada suaranya.

Kontan suasana dalam bispun penuh tawa.

"Duh,  nenek ini sayang banget sih sama Pak Asdimo. Ada kok nek,  dibelakang tu suaminya. " Seorang perempuan berjilbab putih menjawab kekhawatiran sang nenek.

Istri Pak Asdimo itupun bersemu merah. Dia tersenyum lega,  melihat suamu tercintanya melambaikan tangan kepadanya dari deretan bangku belakang bis.

Duhai.. beginikah cinta diusia senja? Memintal kasih tanpa perlu saling menatap mesra.  Menyulam sayang meski tidak saling berpelukan.

Ada setangkup haru kala cinta diungkapkan tidak dengan cara yang tabu.

Perihal cinta diusia senja bukanlah tentang rindu menderu, bukan pula tentang kata manis manja merayu ataupun bukan tentang genggaman erat pada jemari yang berpadu.

Cinta pada penghujung senja adalah lebih dari semua itu. Kecemasan yang berbalut perhatian. Kekhawatiran yang tersulam kasih sayang. Keinginan memberi yang berselimut keikhlasan.

Dari mereka aku belajar,  bahwa mencintai itu sangat sederhana.

#Kapankitakesinibarengya?
#Masihnunggupanggilanceuna
#30DWC9
#Day23

Sumber:

Fb: Deasy Febrianti

Post a Comment

0 Comments