Memakai Cadar Tak Perlu Konsisten

PERTANYAAN :

Saat ini memakai cadar telah menjadi trend di kalangan kaum muslimah. wajibkah hukum memakai cadar dalam pandangan islam?

JAWAB :

Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai hukum memakai cadar. Sebagian berpendapat wajib, seperti mazhab Syafi’i dan Hanbali. Sebagian yang lain berpendapat mubah seperti para ulama mazhab Hanafi dan Maliki.

Para ulama yang mewajibkan cadar, menggunakan surat al ahzab (33) ayat 53 sebagai dalil. “Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri- isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir (hijab).”

Mereka berpendapat berdasarkan kaidah babul aula, bahwa istri-istri nabi saja yang suci dan terjaga diwajibkan berhijab, maka kaum muslimah secara umum lebih utama untuk diwajibkan.
Namun pendapat ini tidak bisa diterima, karena ketidak tepatan penggunaan kaidah babul aula.

Demikian pula dalil surat al ahzab (33) ayat 59 tentang wajibnya kaum muslimah mengulurkan jilbab. Makna mengulurkan dalam ayat ini, diartikan oleh para ulama yang mewajibkan cadar sebagai mengulurkan ke wajah. Pendapat ini lemah, sebab jilbab itu tidak sama dengan kerudung. Hingga mengulurkan jilbab diartikan mengulurkan ke wajah.

Menurut kamus al Muhith makna jilbab adalah gamis yaitu pakaian luas yang dikenakan kaum perempuan. Maka, makna mengulurkan jilbab dalam ayat ini lebih tepat diartikan sebagai memanjangkan jilbab hingga menutupi mata kaki, bukan menariknya hingga menutupi wajah.

Dengan demikian, penggunaan surat al ahzab ayat 59 ini untuk menunjukkan wajibnya memakai cadar adalah tidak tepat.

Demikian pula dalil-dalil dari as-sunnah yang biasa digunakan sebagai landasan wajibnya cadar tidak satu pun mengarah pada kesimpulan wajibnya cadar bagi seluruh kaum muslimah. Tapi, mengenai cadar diwajibkan bagi istri-istri nabi, ya.

Sementara itu dalam al-qur’an dan as sunnah, kita justru menjumpai bahwa wajah dan kedua telapak tangan wanita bukanlah aurat. Misalnya dalam surat an-nur (24) ayat 31, “Dan janganlah mereka (wanita-wanita mu’minah) menampakkan perhiasan (aurat) mereka kecuali yang biasa Nampak dari padanya.”
Dan aurat yang biasa tampak di hadapan nabi ketika ayat tersebut turun adalah muka dan telapak tangan.

Demikian pula sabda nabi SAW, “sesungguhnya seorang wanita, apabila telah haid, tidak layak untuk tampak darinya kecuali wajah dan kedua telapak tangannya hingga pergelangan.” H.R. Abu Daud.

Inilah perdebatan seputar hukum memakai cadar. Dan pendapat yang terkuat adalah bahwa memakai cadar hukumnya mubah.

Mengenai takut fitnah yang sering dijadikan landasan seseorang untuk mewajibkan cadar, maka alasan semacam ini batil. Sebab, seorang muslim wajib mengikatkan seluruh perbuatannya pada hukum syara’. Seruan dari Allah mengenai perbuatan seorang hamba. Dan hukum syara’ wajib bersumber dari dalil-dalil syara’ yaitu al-qur’an, assunah, ijma’ sahabat dan qiyas. Takut fitnah bukan sumber dalil syara’.

Persoalan berikutnya, bagaimana mengaplikasikan hukum mubahnya cadar? Mubah artinya seruan syaari’ (seruan Allah) bi takhyir (dengan pilihan). Seruan mubah tidak memiliki tuntutan sama sekali untuk mengerjakan atau meninggalkan. Sehingga melaksanakan sesuatu yang mubah tidak mengharuskan kekonsistenan.

Seperti seseorang memakai kaca mata. Ia boleh memakainya kapan saja dan melepasnya kapan saja, sesuai kebutuhannya tanpa ada kehawatiran apa pun. Seseorang yang melaksanakan kemubahan secara konsisten seakan-akan ada tuntutan tertentu kalau ia tidak melakukannya, maka ia telah menggeser makna mubah menjadi sunnah atau wajib. Sebab, hukum yang mengandung tuntutan mengerjakan adalah sunnah dan wajib.

Dengan demikian, bila kita mengambil pendapat bahwa cadar adalah mubah, semestinya kita melakukannya tanpa ada tuntutan sedikit pun. artinya kita tidak perlu konsisten melakukannya. Dipakai saat berangkat ke pasar misalnya, lalu saat bertransaksi jual beli dilepas. Lalu dipakai lagi saat naik kendaraan, dibuka saat bertemu satpam penjaga kompleks perumahan dan seterusnya.

Satu hal lagi yang mesti kita fahami, hukum mubah cadar sangat berkaitan dengan pola interaksi masyarakat. Islam memerintahkan kaum muslimin, laki-laki dan perempuan saling tolong menolong dalam kebaikan dan taqwa sebagaimana firman Alah dalam surat almaidah (5) ayat 2, “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.”

Perintah untuk tolong menolong meniscayakan wajah dan kedua telapak tangan perempuan terbuka sebagai identitas untuk dikenali. Dan terbukanya kedua anggota tubuh ini sangat penting bagi berlangsungnya mu’amalat. Dalam jual beli, sewa menyewa, hutang piutang, wakalah, upah mengupah dll. Keduanya juga penting terbuka dalam berlangsungnya peradilan. Dalam persaksian, penuntutan dan pembelaan. Juga penting dalam pelayanan kemanfaatan umum.

Alhasil, hukum memakai cadar adalah mubah. Silahkan dipakai sesuai kebutuhan. Tapi, bukalah cadar saat mu’amalat dan saat melangsungkan berbagai aktivitas yang membutuhkan dikenalinya identitas kita.

Wallahua’lam.[Muslimah Cinta Islam]

---
Rubrik Ruang Konsul Muslimah Diasuh oleh Ustadzah Deasy Rosnawati, Komunitas Perempuan Peduli Keluarga, MHTI Lampung. Layangkan pertanyaan Anda seputar muslimah ke Inbox FP Muslimah Cinta Islam. Insya Allah pertanyaan Anda akan kami tanggapi.

Post a Comment

0 Comments