Mampu Karena Dimampukan

RemajaIslamHebat.Com - Kubagi kisah ini untuk menjadi pengingat dan memberi keyakinan kepada sebagian dari hambaNya yang merasa tak cukup mampu untuk mengunjungi Baitullah,  sementara rindu sudah dipuncak ubun-ubun.

Pagi itu aku berdiri dibawah jembatan layang,  berjajar bersama seorang ibu berkerudung putih.  Kami sedang menunggu taxi yang akan membawa ke Masjid Tan Im. Sambil menantikan Ustadz bernegosiasi harga taxi,  Ibu itu memulai ceritanya tanpa kuminta.

"Kata orang-orang,  yang bisa ke Mekkah itu cuma yang punya sawah banyak Mbak. Saya pernah datang ziarah ke rumah saudara, terus dia bilang kalau mau ke Mekkah harus jual tegalan atau sawah,  kalau ndak punya ya ndak usah mimpi." Mata sang ibu menerawang menatap jalanan kota Mekkah yang ramai.

"Aduh mbak,  saya yang denger langsung sedih. Saya ini orang ndak punya,  gimana cara saya bisa ke Mekkah. " katanya dengan mata berkaca-kaca.

Aku terdiam,  menunggu si ibu melanjutkan kisahnya.

"Saya cuma bisa berdoa Mbak,  tapi ndak berani bermimpi padahal pengen sekali bisa solat didepan Ka'bah." Ibu bertubuh kurus itu mulai meneteskan airmata perlahan.

"Alhamdulillah ibu sudah sampai disini,  pasti seneng ya Bu? " ucapku sambil mengelus lengan si Ibu. Dia mengangguk tersenyum.

"Iya Mbak, Saya gak kaya harta tapi saya kaya anak." suara lirih si Ibu yang belum aku ketahui namanya ini.

"Anak saya dua Mbak,  yang satu jadi dosen di Pesantren yang satu lagi jadi guru.  Umroh ini yang bayar anak saya. Saya sama bapak malah tidak tahu kalau sudah didaftarin. Ketika anak saya minta foto untuk paspor baru dia bilang. Subhanallah Mbak,  saya bersyukur sekali." Kedua netra perempuan berusia 50 tahunan itu kembali berair.

"Dulu,  semua keluarga saya meremehkan saya,  mencaci. "Orang ndak punya kok sok-sok an nyekolahin anak sampai tinggi." pada bilang begitu. Saya cuma diam Mbak,  karena nyekolahkan anak itu kan kewajiban. " lanjutnya.
"Sekarang saya petik buah kerja keras saya,  anak-anak saya Alhamdulillah sukses menurut saya. Semua biaya untuk keberangkatan Umroh anak-anak yang tanggung. " si Ibu mengusap air mata yang menetes dipipi tirusnya.

Aku tersenyum,  luar biasa skenarioMu Ya Rabb. Engkau memudahkan orang yang merindukan Baitullah meski ia tak pernah sedikitpun berani bermimpi untuk mengunjunginya.

Siang itu cukup terik. Bis yang membawa kami menuju Masjid Ji'nara berjalan pelan. Kedua mataku hendak mengatup perlahan saat seorang ibu duduk disebelahku. Dia tersenyum kemudian menyapaku.

"Sendirian ya Mbak? Suaminya gak ikut? " wajahnya tersenyum kearahku.  Aku menggeleng membalas sapaannya.

"Saya juga sendirian Mbak. Suami sudah lama meninggal. Saya orang ndak mampu Mbak,  nyekolahkan anak-anak hanya karena pengen liat mereka sama kayak yang lain." ia membanahi letak kerudungnya.

Aku mengalihkan pandanganku padanya,  menepis sisa-sisa kantuk dari wajahku.

"Siapa yang sangka saya bisa Umroh. Saya ndak menikah lagi sejak suami meninggal.  Pontang-panting sendirian ngurus anak. Sejak anak-anak sudah menikah semua,  baru saya nabung buat Umroh Mbak." Ia bercerita sambil menunduk.

"Iya Bu,  Alhamdulillah sudah terwujud keinginannya ya." ucapku menanggapi ceritanya.

"Iya,  setelah nabung lama sekali. Saya sendiri ndak nyangka Mbak. Hanya karena pengen, pengen sekali." matanya masih menunduk memperhatikan tas plastik yang ia pangku erat sedari tadi.

Aku mengangguk,  ikut mensyukuri mimpi dan harapannya yang sudah terwujud. Mimpi yang ia retas setelah sekian tahun. Keinginan yang terpancang kokoh dalam sanubari yang disertai dengan upayanya menabung meski harus menunggu cukup lama hingga tabungannya memadai.

Masih banyak kisah menakjubkan lainnya yang rasanya terlalu panjang untuk ku urai satu persatu. Kisah seorang pembantu ataupun tukang pijat yang juga dimampukan oleh Allah untuk bisa beribadah di Masjidil Haram.

Namun semua kisah itu memberikan sebuah pembelajaran yang sama bahwa jika Allah berkehendak mengundang hambaNya untuk menjadi tamu Allah,  maka Dia akan memudahkan semuanya.

Tidak ada yang tidak mungkin bagiNya. Pun tidak ada yang mudah jika Ia yang mempersulitNya.

Sekarang aku percaya,  bahwa mimpi mengunjungi Baitullah tidak hanya layak dimiliki oleh orang-orang berduit tapi juga bagi mereka yang rindu.

Jika ada yang beranggapan bahwa Umroh hanya urusan plesir dan rekreasi,  mungkin ia belum bertemu dengan mereka-mereka yang memupuk mimpi dapat mencium Ka'bah, bahkan saat semua kenyataan disekitar mencaci dan melarangnya bermimpi.

Untukmu yang merindukan Baitullah bermimpilah, sertai mimpimu dengan doa dan usaha. Bersabarlah dan tunggu saat Allah memudahkan semuanya untukmu.

#30DWC9
#Day27

Sumber:

Fb: Desy Febrianti

Post a Comment

0 Comments