Liberalisasi Menghancurkan Ketahanan Keluarga, Tokoh Muslimah Bogor Siap Membendungnya

RemajaIslamHebat.Com - Cuaca mendung di Ahad pagi tanggal 29 Oktober 2017 tidak menyurutkan langkah para Tokoh Muslimah Bogor untuk menghadiri acara Silaturahmi dan Bincang Santai yang diselenggarakan oleh Paguyuban Muslimah Bogor. Tidak kurang dari 60 orang Tokoh Muslimah Bogor turut hadir di Aula Rumah Makan Warung Kondang, Bogor Barat untuk sama-sama memahami adanya  upaya sistematis penghancuran keluarga lewat proses liberalisasi.  Ibu-Ibu yang rata-rata tidak muda lagi nampak bersemangat untuk hadir dan menunjukan komitmennya dalam perjuangan menyelamatkan keluarga Indonesia.

“Fakta mengerikan tentang kejahatan dan kemerosotan moral remaja itu ada dan makin menggila. Walaupun tidak lagi menjadi headline di media massa. Bukan karena tidak ada beritanya, tetapi hal tersebut sudah menjadi hal biasa. Saking seringnya terjadi ”, demikian Ibu Asri Supatmiati, S.Si, Jurnalis, mengawali perbincangan.  Selaku narasumber pertama acara yang mengangkat tema perbincangan “Membendung Liberalisasi Keluarga dan Generasi” , Ibu Asri menambahkan bahwa fakta ini tidak alamiah terjadi. Tetapi hal ini disebabkan oleh adanya upaya sistematis untuk merusak keluarga. Upaya itu adalah proses liberalisasi yang menyasar setiap anggota keluarga. Seiring dengan penerapan ideologi kapitalis sekuler oleh pemerintah Indonesia, upaya liberalisasi terus berjalan dan mengikis nilai-nilai Islam yang ada dalam sendi-sendi keluarga.

Upaya liberalisasi keluarga ini begitu halus. Bahkan tidak terasa. Dia menerkam umat muslim lewat 3F :  Food, Fun, dan Fashion. Dalam 3 hal inilah proses liberalisasi kaum muslimin bersembunyi. Budaya rusak barat dicekokkan ke benak-benak kaum muslimin tidak hanya lewat penawaran gaya hidup dalam memilih makanan, kesenangan, dan pakaian saja. Tetapi, dia merupakan proyek sistematis yang diupayakan berdampak masif kepada umat dengan memaksakannya lewat penerapan Undang-Undang berazaskan liberalisme sekuler. Sebut saja UU Kesehatan Reproduksi dan UU Perlindungan Anak. Beberapa pasalnya mengarah kepada liberalisasi perilaku umat. Terkesan, kemaksiyatan dan pelakunya ditumbuhsuburkan dan dilindungi oleh Undang-Undang tersebut. Bagaimana tidak, pelaku perzinaan seakan dibebaskan dan dilindungi oleh Undang-Undang. Lalu, jika terjadi kehamilan, kalau itu tidak diinginkan, maka aborsi dipersilahkan. Walhasil,perilaku seks bebas dan  kejahatan seksual kian hari bukan kian surut. Malah, makin banyak dengan pelaku yang semakin muda usia.
Keluarga pun tidak luput dari imbas penerapan sistem hidup bebas ala barat. Kehidupan bebas ala binatang membuat peran masing-masing anggota keluarga tidak berjalan. Sehingga mengakibatkan ketidakharmonisan dalam keluarga yang tidak sedikit berujung pada perceraian. Oleh karena itu, fungsi-fungsi keluarga tidak berjalan dengan semestinya. Hal ini akan berdampak negatif pada  generasi muslim. Mereka menjadi generasi muslim yang lemah.Mereka  kehilangan identitas keislamannya dan  hobi berpoya-poya minus daya juang.  Jika generasi dan keluarganya lemah seperti ini, maka kebangkitan Islam pun pasti akan teredam. Inilah sejatinya yang kaum kafir inginkan dengan melakukan proses liberalisasi dan sekulerisasi keluarga, demikian penjelasan Ibu Asri Supatmiati.

Para peserta turut mengamini setiap penjelasan Ibu Asri Suptmiati. Lebih dari itu mereka menginginkan jalan keluar dari permasalahan tersebut. Mereka menyatakan siap untuk berjuang membendung upaya liberalisasi keluarga, guna menyelamatkan keluarga, generasi dan  negara ini. Menyambut antusiasme peserta, Ibu Ir. Dini Sumaryanti, seorang Trainer Nasional dan Pemerhati Masalah Pendidikan Keluarga dan Generasi, mengatakan bahwa kita butuh untuk mengoptimalisasi fungsi-fungsi keluarga guna membendung proses perusakan keluarga muslim oleh orang kafir.

Fungsi-fungsi keluarga yang ada 8 itu harus berjalan secara optimal seluruhnya. Baik itu fungsi reproduksi, ekonomi, proteksi, pendidikan, afektif, religi, rekreasi, dan sosial harus berjalan bersinergi hingga terbentuk keluarga ideal yang melahirkan generasi Qurani. Generasi yang mampu membangkitkan umat ini. Lalu, memimpin dunia dengan Islam. Bukan generasi tawuran atau seks bebas seperti saat ini.  “ Sekali lagi, kedelapan fungsi ini harus berjalan seluruhnya secara optimal “, tegas Ibu Ir Dini Sumaryanti.

Kedelapan fungsi keluarga ini harus dikembalikan pada khiththohnya. Untuk mengembalikan fungsi-fungsi itu harus ada sinergi dari ketiga pilar penyangga bangunan masyarakat.  Tidak seperti saat ini, yang terkesan kontradiktif dan tidak komprehensif. Jika terjadi masalah pada anak-anak maka solusinya selalu dikembalikan pada keluarga. Lalu, Ibu diminta untuk ekstra mengawasi anaknya. Tetapi, negara tidak menjamin berjalannya fungsi-fungsi keluarga tersebut dengan memberikan suprastruktur dan infrastruktur yang memadai. Ibu harus total memperhatikan anak, tetapi negara mendorong Ibu untuk berkarier di luar rumah membantu menyelamatkan perekonomian keluarga. Karena negara tidak mampu menyediakan lapangan kerja yang layak dan memadai untuk para Bapak. Hal ini sungguh kontradiktif.

Untuk memperbaiki keadaan ini, kita harus kembali kepada aturan Ilahi. Kita wajib menerapkan syariah Islam secara kaffah. Untuk penerapan syariah Islam kaffah ini, kita butuh membentuk ketaqwaan pada individu-individu Muslim. Agar mereka sadar bahwa terikat kepada hukum-hukum Allah secara keseluruhan merupakan kewajiban. Sehingga, tidak tergerus oleh arus liberalisme yang membuka simpul-simpul ketaatan kepada syariat-Nya.

Pilar yang kedua  adalah menyuburkan proses saling nasihat-menasihati dalam masyarakat. Masyarakat yang peduli akan menjadi benteng lapis kedua bagi pertahanan masyarakat dari proses jahat liberalisasi dan membuat umat manusia tetap berada dalam jalur ketaatan kepada Tuhannya. Terakhir yang tidak kalah penting adalah adanya penegakan hukum-hukum Allah SWTsecara kaffah yang akan menjadi soko guru bagi ketahanan keluarga. Hukum-hukum Allah SWT akan menjadi suprastruktur penunjang berjalannya semua fungsi keluarga hingga mewujudkan ketahanan keluarga-keluarga muslim. Inilah yang harus kita wujudkan untuk hadir di tengah-tengah umat. “ Siap menjadi penolong Umat dari serangan liberalisasi keluarga ? “ pertanyaan penutup pemaparan Ibu Ir Dini Sumaryanti disambut  teriakan ‘ Siaaaaap... Allahu Akbar !” dari para peserta yang menggema di seluruh ruangan. Komitmen untuk siap berjuang membendung arus liberalisasi dan sekulerisasi keluarga ini tetap terasa hingga doa tutup acara dibacakan. Bahkan dibawa pulang oleh para tokoh yang telah datang. (rs)[Wadah Aspirasi Muslimah]

Post a Comment

0 Comments