Wednesday, November 22, 2017

Ku Pinang Engkau Karena Shalih

Oleh : Solehah Suwandi

ENTAH sudah berapa puluh kali, gadis itu menyobek kertas. Hingga menumpuk di sudut ruang kamarnya. Sesekali ia mengusap dahinya yang berkeringat. Dia memang terbiasa menulis, tapi untuk kali ini ia membutuhkan pemikiran ekstra dalam menuangkan kata-kata. Padahal sebelumnya ia sudah melakukan istighoroh. Apakah tidak berlebihan menulis surat saja pakai istighoroh segala? Ah dia tak peduli.
"Huuufftt" Ia kembali meremas kertas dan membuangnya di tempat yang sama.
"Ya Allah, mudahkanlah jari-jari ini untuk menuliskan niat baik ini.." Ia tengadahkan tangannya sambil memejamkan mata.

Ia kembali mengumpulkan konsentrasi. Dengan tangan bergetar ia menulis dari hatinya.

"Assalamualiakum akhi, maukah kau menikah denganku? Cukup Ayat kursi sebagai maharku"

Selesai! Ia melipat kertas itu lalu memasukannya ke dalam amplop putih. Dadanya berdegup kencang, menepis semua kecemasan dan rasa malu. Nama lelaki itu adalah Abdullah. Gadis ini sudah lama jatuh hati karena keshalihan lelaki itu. Dia tak pernah mengenal Abdullah secara langsung. Tapi ia tahu dan paham, sepak terjang dakwah dan ibadah yang dilakukan oleh Abdullah.

Dia ingin memiliki pendamping hidup yang shalih,  dan tidak mau kehilangan kesempatan.

Surat itu segera ia sampaikan kepada musrifahnya. Jelas, sang guru terkejut bukan main. Gadis sederhana yang tak banyak omong itu tiba-tiba mengirim surat untuk seorang pria. Yang berisi tentang ajuan lamaran. Musrifahnya juga tahu betul kualitas lelaki yang dituju, si Abdullah.
"Mi, dari pada hatiku kotor karena kerap memikirkannya, selalu terbayang saat melihat orasinya, sudah lama Ummi aku memikirkan untuk memutuskan hal ini" Ungkap Aini dengan tersipu. Ummi hanya tersenyum dan berkali-kali mengangguk, paham bahwa Aini sedang jatuh cinta. Dan dia tak mau cintanya itu jadi kotor bila lama-lama didiamkan.
" Baiklah, nanti akan Ummi sampaikan ke Abi, yang sabar ya" Kata musrifahnya tersenyum.

Usai mengahntarkan surat ia pulang dengan perasaan yang begitu berat. Berbagai perasaan berkecambuk di hatinya. Bagaimana bila ditolak? Dia sudah terlanjur mengirim biodata.
Ah, bagaimana?? Bagaimana?? Mau ditaro mana muka??
"Astagfirullah!" Ia usap wajahnya sambil mengusap dada.
"Ya Allah, jodoh adalah takdirMu. Aku hanya ingin berusaha untuk mewujudkan harapanku memiliki suami yang shalih, bimbing aku selalu ya Allah"

Bersambung...


Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!