Wednesday, November 22, 2017

Ku Pinang Engkau karena Shalih (Eps. 6 - END)

Oleh : Solehah Suwandi

Perjalanan dakwah kali ini terasa semakin indah. Tak bisa dilukiskan dengan kekata. Hati mereka dipenuhi rasa syukur dan bahagia.
"Boleh aku menggenggam tangan mu?" Lirih Abdullah. Aini hanya mengangguk malu. Sambil menunduk ia tak berani menatap sang suami yang menatapnya penuh cinta. Abdullah meraih tangan Aini, tangan istrinya itu terasa sangat dingin. Jika detak jantung mereka bisa terdengar telinga. Sudah pasti degupan itu bak instrumen musik yang bersahutan indah.

Fabiayialaa irobbikuma tukadziban??

Mereka kembali bercerita. Hingga memasuki azan magrib. Mereka berhenti di salah satu masjid di pinggir jalan raya. Usai salat melanjutkan perjalanan. Mereka sempatkan mampir untuk membeli makan malam. Jadilah makan malam romantis penuh berkah bersama yang halal.

Mobil terus melaju sedang. Melewati gemerlap malam perkotaan. Saat melewati taman, tampak di sana lautan manusia, dari  anak2, remaja, hingga orang tua sedang menghabiskan waktunya untuk sekadar duduk-duduk meminum teh atau kopi.  Di sudut taman juga nampak pertunjukan musik dengan para biduan yang aduhai sedang menyanyi dan menari di atas panggung. Terselip tanya di kepala Aini.

"Mungkinkah dari sekian banyak orang di sana, ada yang sedang memikirkan umat? Memikirkan bagaimana nasib soudara2 di palestina? Suriyah? Rohingya? Soudara2 di Papua yang ingin lepas dari Indonesia?  Memikirkan tentang sumber daya alam yang diberikan kekuasaan pengelolaannya kepada asing? Apakah di antara mereka ada yang sedang  memikirkan bagaimana mencerdaskan umat dengan Islam? Membentuk halaqoh-halaqoh yang membahas tentang dunia akhirat?"

Aini hanya bisa medoakan. Dia juga berharap semoga kehidupan di negerinya segera berubah. Kepemimpinan yang mengurusi urusan umat benar2 peduli dengan umat, bukan pedulinya pas kampanye minta dipilih untuk dijadikan pemimpin saja. Peduli dalam arti memikirkan bagaimana caranya agar umat ini sejahtera dan kelak masuk syurga. Bukan kepemimpinan yang sibuk ngurusi diri sendiri. Wakil rakyat yang seharusnya mengurusi rakyat ini malah tidur ketika rapat yang sedang membahas soal rakyat.

Hati Aini semakin berkecambuk. Rasanya ingin sekali dia menyadarkan orang2 yang berada di taman itu agar sadar akan kehidupan dunia yang sementara ini. Tapi apalah dayanya? Oleh sebab itu inilah yang menjadi motivasi Aini untuk selalu semangat menulis, yang mana ia  berharap tulisannya mampu mencerahkan banyak orang di luar sana bukan yang hanya di dekatnya saja.

Mobil terus melaju. Masjid yang dituju sudah di depan mata. Peserta pengajian akbar sudah terlihat berdatangan. Abdullah dan Aini turun.
"Alhamdulillah, ayo dek" Ajak Abdullah sambil menggenggam tanan Aini. Gadis itu menurut saja. Abdullah disambut oleh panitia, sekaligus mendapat doa selamat dari  mereka. Mereka hanya bisa tersipu.
"Ustadz, ini kunci hotel untuk bermalam ustadz bersama istri nanti malam. Kami sudah siapkan segalanya di sana. Smoga menjadi malam terindah yang tak terlupakan" Seorang menyerahkan kunci kamar hotel sambil menggoda.
"Jazakallah khair Akhi.." Abdullah tersenyum, ia sempat melirik Aini yang tertunduk malu.

Usai salat isya berjamaah pengajian dimulai. Ribuan peserta memadati ruangan masjid agung ini. Di lantai atas ditempati oleh para akhwat dilantai bawah oleh para ikhwan. Berkali-kali suara takbir terdengar menggema saat dengan memggebu-gebu ustadz Abdullah menyampaikan ilmunya. Semangat dan kedalaman ilmunya mampu membakar semangat para hadirin yang datang. Tentang kejayaan Islam yang telah dijanjikanNya. Umat sudah sangat rindu diatur oleh aturan Allah. Umat sudah rindu persatuan.

Acara selesai pukul 22:30 ditutup dengan doa yang sangat mengharukan oleh seorang kiyai di kota ini. Tangisan penuh harap memenuhi masjid.

Aini turun dari atas dan menunggu Abdullah di bawah di samping mobilnya. Tak lama suaminya datang dengan beberapa ikhwan.
"Ustadz biar kami tunjuki arah hotelnya. Lumayan jauh soalnya " Ucap salah seorang mereka.
"Baik. Jazakallah khair" Abdullah menurut. Aini dan Abdullah mengikuti ikhwan itu dr belakang menggunakan mobilnya.

Mobil melaju sedang. Kini mereka tak banyak bercakap. Hanya genggaman yang semakin erat yang berbicara.
"Dek"
"Iya" Jawab Aini lembut. Dan membalas tatapan suaminya yang penuh cinta.
"Aku mencintaimu karena Allah" Ucap Abdullah sambil menunduk malu. Ini kali pertamanya mengutarakan rasa cinta pada seorang perempuan.
"Aku juga mencintaimu karena Allah sayang" Balas Aini dengan suara bergetar. Aduhaii di setiap detiknya mereka merasa bahagia dan nikmat yang begitu besar.

Genggaman mereka tak lepas. Mobil petunjuk memberikan sen belok ke kanan. Hotel yang di tuju sudah di depan mata. Abdullah mengikuti dengan memberi lampu sen. Namun tiba-tiba saat mobil kecil itu mau menyebrang ada truck yang berlari kencang dan
Blassh Dummm!!! Serrttt... Prakkk!!
"Allahuakbar!!" Jeritan itu seiring dengan terpelantingnya mobil yang dibawa Abdullah. Truck yang menabrak mobil Abdullah terbalik. Sedangkan mobil Abdullah terjungkal beberapa kali di jalan raya itu. Sempat mengenai trotoar jalan dan tiang listrik.
"Ya Allah... astagfirullah.." Suara Aini merintih. Kerudung pernikahannya yang putih itu mulai dibasahi warna merah karena darah. Mata wanita itu terpejam rapat. Namun bibirnya masih terus berkomat kamit menyebut asmaNya. Sedangkan Abdullah, bagian belakang kepalanya pecah. Darah membanjiri seluruh tubuhnya.
"Astagfirullah! Cepat cepat bantu!"
"Ya Allah.. ustadz Abdullah dan istrinya!" Suara heboh dari luar mobil terdengar. Tak lama mobil ambulan datang.
"Cepat tolong mereka, masih bernapas!" Kata seorang ikhwan yang menunjuki jalan. Tubuh yang terkulai lemah tak berdaya itu dimasukan dalam ambulan yang sama. Mobil polisi juga terdengar ramai. Pertigaan hotel macet.

Aini dan Abdullah langsung ditangani oleh dokter. Para panitia pengajian satu persatu berdatangan bahkan para hadirin yang tidak sengaja  melewati tempat kejadian ikut membesuk. Suasana jadi heboh. Kabar kecelakaan mereka tersebar sangat cepat.

Pukul 03:24 keluarga Abdullah datang dan tak lama ibunya Aini.
"Bagaimana kondisi mereka Bu?" Tanya Ibunya Aini cemas.
"Abdullah meninggal dunia Bu, dan Aini masih koma"
"Innalillahi" Kabar itu seperti halilintar yang menyambar telinga ibu. Wanita tua itu terkulai lemas dilantai yang segera ditopang oleh ibunya Abdullah. Isak tangis masih memenuhi ruangan itu. Tidak ada yang menyangka lelaki yang sehat bugar, tampan, cerdas dan pengantin baru akan meninggal secepat itu.

Pukul 06:00 jenazah Abdullah akan dibawa pulang. Pada saat yang sama Aini sadar.
"Dimana suamiku Bu?"tanya wanita itu lemah.
"Aku ingin bersama Abdullah Bu.." rintih Aini. Ibu hanya bisa terisak.
"Aini, kamu gadis yang tegar kan?" Tanya mertuanya.
"Kamu tahu? Semua yang ada di dunia ini adalah titipan? Suamimu sudah diminta sama Allah Nak.." ucap ayah mertuanya tenang. Aini tak bisa mencerna kata2 itu. Ia tak percaya dengan ucapan ayah mertuanya.
"Aini ingin bertemu Abdullah pak. Tolong antarkan Aini untuk bertemu kakak" pinta Aini. Akhirnya dengan kursi roda ia didorong menuju kamar jenazah. Mata Aini menatap kosong sepanjang jalan. Air matanya tak bisa mengalir.
"Aini ini Abdullah.." Ayah mertuanya membuka penutup wajah Abdullah. Tampak wajah Abdullah yang bersih, dan beberapa lebam di sana.
Aini terpaku menatap wajah lelaki yang beberapa jam baru saja jadi suaminya.
"Kak.. ini Aini, Aini mencintai kakak. Bangun kak. Jangan tinggalkan Aini kak. Aini janji akan jadi istri yang shalihah, yang akan menemani perjuangan dakwah kakak. Bangun kak. Bangun.." Suara Aini lemah. Tapi tak ada respon. Tak ada tatapan penuh cinta dan senyuman mendamaikan lagi.
"Kak! Bangun kak!!" Ia guncang-guncang tubuh suaminya. Tangis Aini akhirnya pecah. Ia menyadari bahwa suaminya memang telah tiada. Aini menciumi wajah suaminya itu.

"Kak.. jangan tinggalkan Aini kak.. ya Allah.." Gadis itu terkulai lemah dan tubuhnya hampir jatuh kelantai. Ayah mertuanya menopang segera.
"Aini sabar Aini. Ini adalah ujian mu.." sambil merembes air mata.
Semua yang ada di situ termasuk kakaknya Abdullah ikut menangis tak kuat melihat kondisi adik iparnya itu.

"Dari miliaran manusia, kau adalah wanita yang dipilih Allah untuk menanggung ujian ini. Artinya kau pasti mampu melewatinya... " Lirih Ibu mertuanya.

Aini tak mampu mengucapkan apapun. Ia hanya bisa menatap ranjang jenazah itu di dorong oleh para petugas.
"Ya Allah.." Aini menghela berat menemani rintikan air matanya..

END..


Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!