Ku Pinang Engkau Karena Shalih (Eps. 5)

Oleh : Solehah Suwandi

Aini menghela. Sekali lagi ia membaca pesan dari Amirudin. Dulu bukan Aini tak suka padanya, karena Amirudin adalah lelaki shalih yang berniat mengajaknya menikah bukan pacaran, Aini saat itu benar-benar belum siap menikah.

Bagi Aini, menikah itu ibadah  yang mana membutuhkan ilmu yang luas. Tidak sembarangan menikah. Karena menikah adalah ibadah paling lama seumur hidup. Oleh sebab itu, Mengaji Islam adalah hal paling utama dalam menyiapkan pernikahan. Makanya tak heran dia gemar menuntut ilmu, ikut pengajian-pengajian. Hari-harinya selalu disibukan dengan menuntut ilmu. Saat itu, ia tak khawatir tentang jodoh, karena yakin Allah sudah menyiapkan jodoh terbaik menurutNya. Manusia hanya bisa berupaya dan berdoa. Dan ia memperbaiki diri semata-mata hanyalah bentuk cintanya pada Allah Swt.

Trett trettt.. ponsel di tangan bergetar.
Aini terperanjat. Kenangannya di masa lalu buyar seketika.
"Astagfirullah.." Ia mendesis. Lalu membuka pesan dari nomor yang sama. Amirudin.
"Afwan ukhti. Apakah benar besok anti menikah? Dengan siapa?"
Aini menghela lalu tangannya mengetik balasan cepat.
"Walaikumsalam. Iya insyaallah besok bada salat jumat. Dengan Akhi Abdullah. Mohon doanya"
Pesan itu terkirim. Tak lama ada balasan.
"Masyaallah, barakallahulaka semoga menjadi keluarga Sakinah Mawadah warahmah dirahmati Allah.. salam untuk Akhi Abdullah"
"Insyaallah"

Aini kembali menghembuskan napas panjang. Hatinya jadi gelisah sendiri memikirkan Amirudin yang tiba-tiba mengiriminya pesan. Ia cepat-cepat beristigfar.
***

Pagi ini begitu cerah, wajah Aini  berbinar ia terlihat begitu cantik dengan gaun pengantin sederhana itu. Ibu dan Aini sepakat, tidak mengadakan pesta walimah yang besar. Hanya mengundang para tetangga saja dalam acara pengajian walimah. Orang-orang sudah berdatangan kerumahnya. Jam pun terus berputar. Suara murotal terdengar dari corong-corong masjid. Matahari mulai berada di atas kepala. Menandakan akan memasuki waktu zuhur. Tak lama, panggilan azan salat jumat berkumandang.

Dan sampai di telinga Aini, bahwa pemelai pria sudah berada di masjid yang tak jauh dari rumahnya. Aini digoda oleh kawan2 yang sedari pagi sudah bersamanya. Gadis itu hanya tersenyum manis, pipinya merona. Ia tersipu shalihah. Penantian panjang dengan penuh kesabaran sebentar lagi akan ia tunai hasilnya. Seperti orang yang menunggu berbuka puasa. Ia sedang merasakan kebahagiaan karena menanti kenikmatan yang dijanjikanNya.

Usai salat jumat. Pemelai wanita bersama2 menuju masjid. Aini diarak oleh warga sekitar dengan diiringi tabuhan rebana dan salawatan.

Aini disambut oleh para ibu, di lokasi yang terpisah. Kaum wanita menempati  tempat salat wanita biasanya. Hanya sekatnya yang di perlebar.
Suara penghulu, mulai terdengar. Serangkaian acara walimah mulai berjalan. Paman Sinin adik laki-laki almarhum ayah Aini mulai menikahkan Aini dengan Abdullah. Aini terisak keras. Ia teringat ayahnya. Rasa  rindu pada Ayah tiba-tiba menyeruak di dalam hatinya.
"Pak, Aini berhasil menjaga diri hingga Aini menikah Pak, semoga amal Aini selama ini bisa membantu menerangi kuburan bapak. Aini rindu bapak.. " Hati Aini menjerit sedih. Sudah belasan tahun, ia hidup tanpa Ayahnya. Namun sang ibu mampu mendidik Aini hingga menjadi shalihah. Didikan itu tak lepas dari ilmu-ilmu agama yang senantiasa ibunya tanamkan pada Aini.

Suara paman bergetar, perlahan disambut dengan suara Abdullah mengucapkan perjanjian berat itu. Ia terisak saat membacakan mahar ayat kursi. Selesai membaca. Pak penghulu membacakan doa.

Aini telah sah menjadi istrinya Abdullah. Tak lama Abdullah di suruh ke tempat Aini berada. Rasa rindu dan malu bercampur jadi satu. Tampak di wajah keduanya binaran kebahagiaan.
Aini pertama kali menyentuh tangan Abdullah, dan juga sebaliknya. Kebahagian dan kenikmatan perlahan mereka reguk. Pernikahan yang sakral. Inilah janji Allah. Menikah tanpa pacaran akan lebih membahagiakan dan mendebarkan. Jadi tak perlu kita tergoda dengan nikmat pacaran yang sesaat.

Pengajian walimah dimulai, Aini dan Abdullah duduk bersanding bak raja dan ratu di lokasi akhwat. Hanya senyuman yang mereka lontarkan tiap kali digoda habis-habisan oleh para tamu. Tangan Abdullah berkeringat saat mencoba menggenggam tangan Aini. Aduhai. Sekali lagi, itulah kebahagiaan menikah tanpa pacaran.

Serangkaian acara sudah terlewati. Tiba azan ashar acara sudah selesai. Namun mereka menjalankan salat ashar berjamaah terlebih dahulu.
"Dek, saya solat dulu" Suara Abdullah malu-malu.
"Iya kak. " Jawab Aini malu. Genggaman tangan Abdullah terlepas.
"Kak.."  Panggil Aini lirih, Abdullah berhenti dan nengok sebentar.
"Iya"
"Jangan lama-lama" Jawabnya tersipu seraya menunduk. Abdullah hanya mengangguk dan sama-sama tersipu. Beberapa teman Aini yang mendengar bersorak senang. Mereka tambah malu.

Aini dan para akhwat pun ikut salat berjamaah. Selesai salat dan zikir, seperti permintaan Aini tadi Abdullah sudah menunggu Aini di pintu keluar para akhwat. Mereka saling senyum saat menatap satu sama lain.

Keluarga besar Abdullah menganntarkan mereka ke rumah Aini. Lalu pulang dan meninggalkan  Abdullah di rumah barunya.

Kondisi canggung dan rikuh masih bergelayut pada perasaan mereka masing-masing. Kadang ibu yang dehem-dehem sendiri melihat mereka selalu salah tingkah.
"Kamar kita di mana Dek?" Tanya Abdullah memecah hening.
"Di sini kak" Jawab Aini malu. Mereka masuk bersamaan.
Kamar sederhana itu tercium harum. Bukann ditaburi bunga-bunga, tapi ibu yang menyemprotkan parfum tadi pagi.

Suasana mulai mencair, perlahan perisai malu itu diurai satu persatu. Usai salat sunah dua rokaat. Ponsel Abdullah berdering. Sebuah telefon dari ustadz Hanan.
"Assalamualaikum ustadz. Bagaimana?" Begitu teleefon itu diangkat.
"Nak, saya mau minta tolong menggantikan untuk ngisi pengajian malam ini bada isya di kota. Anakku masuk rumah sakit" Suara ustadz Hanan terdengar sedih.
"Innalillahi, lalu bagaimana kondisinya ustadz?"
"Ya mohon doanya. Maaf ini mendadak. Semua ustadz tidak bisa menggantikan karena ada agenda juga. Jadi saya minta tolong ya Nak"
"Insyaallah ustadz. Kirimkan saja alamatnya"
"Baik"

Komunikasi terputus.
"Ada apa.?" Tanya Aini.
"Dek, aku harus menggantikan mengisi pengajian malam ini. Di kota, dan kemungkinan besar harus menginap di sana karena jarak yang jauh" Suara Abdullah terdengar berat. Aini tersenyum.
"Apakah aku boleh ikut menemani mu?" Pinta Aini menunduk. Abdullah tersenyum. Ia usap rambut Aini lembut.
"Sangat boleh, sayang" balas Abdullah. Mata Aini berbinar mendengar panggilan itu. Abdullah tersenyum puas melihat istrinya bahagia.

Senja mulai memerah. Aini dan Abdullah pamitan. Membuat ibu terkejut.
"Loh, kenapa harus malam ini? Kalian kan baru saja menikah?" Ibu setengah protes. Mereka malah tersneyum.
"Ibu, memang kenapa kalau kita pengantin baru? Yang utama adalah urusan akhirat kan?" Jawab Aini tersenyum. Ibu hanya menghela.
"Ya sudah kalau kalian saling ridho. Semoga selamat sampai tujuan"
"Aamiin Bu"

Mereka pergi dengan mobil Abdullah yang sengaja ditingal oleh keluarganya. Perlahan mobil itu bergerak menjauhi rumah, melewati jalanan bebatuan, sawah-sawah yang mulai menguning. Sore ini terasa begitu berbeda. Bagi mereka berdua. Sepanjang jalan mereka bercerita banyak hal, proses mengenal mulai mereka tapaki. Ada kebahagiaan di setiap detiknya.

Bersambung....

Post a Comment

0 Comments