Wednesday, November 22, 2017

Ku Pinang Engkau Karena Shalih (Eps. 4)

Oleh : Solehah Suwandi

Aini berlajan pelan menuju pintu rumah. Dadanya berdegup kencang. Wajahnya semakin terlihat menglilap. Ia lap dengan sapu tangan miliknya sebelum memasuki rumah.
"Assalamualaikum.." ucapnya pelan.
"Walaikumsalam.. warahmatullahi wabarakatuh!" Serempak semua yang ada di dalam menjawab salam Aini. Aini menganggukan kepala kepada mereka tanda menyapa. Lalu menyalami ibunya dan satu wanita asing yang ada di ruangan itu.
"Ini ya Aini?" Tanya wanita itu sambil memperhatikan wajah Aini dengan seksama. Gadis itu mengangangguk pelan sambil menunduk malu.
"Sini duduk di samping ibu saja" perintahnya. Aini memandang ke arah ibu, lalu beliau mengangguk. Aini pun duduk di samping wanita itu.
"Nak, ini orang tuanya Abdullah, dan itu Mas Hafiz kakaknya Abdullah masih kuliah di Cairo, tapi ini sedang libur musim panas" Kata ibu mengenalkan. Aini mengangguk, sambil berusaha menegakan kepalanya. Gadis itu tak sengaja melihat Hafiz yang sama-sama dari tadi menunduk. Kemudian kembali menunduk dan tersenyum. Dada Aini berdegup kencang, karena Hafiz mirip sekali Abdullah. Hanya saja lelaki di hadapannya itu lebih terlihat dewasa, wajahnya teduh, dan mendamaikan.
Orang tua Abdullah menjelaskan kedatangannya yang tiba-tiba. Tersebab nanti malam ada agenda keluarga mendadak. Jadi kedatangan mereka sore ini adalah sekalian menghitbah dan taaruf. Mereka juga meminta maaf karena Andullah tidak bisa ikut sebab dua hari ini harus mengisi trening remaja di luar kota. Aini diberi surat berisi pertanyaan dari Abdullah dan harus dijawab saat itu juga.

"Assalamualaikum wr wb. Ukhti saya menikahimu karena Allah. Kita sama-sama menikah karena Allah. Tidak ada keraguan sedikitpun tentang keimananmu pada Allah. Hanya saja, ada satu pertanyaan yang harus aku tahu jawabannya sekarang. Apakah ukhti siap menjadi yang ketiga dalam hidupku? Pertama adalah Allah dan rasulullah, kedua orang tua dan dakwah dan ketiga baru engkau?"

Surat itu selesai dibaca oleh Aini, matanya berkaca-kaca. Lalu tangannya mengambil pena dan selembar buku dari tasnya.
"Walaikumsalam wr wb. Bismillahirrohmanirrohim saya siap akhi!" Tak ada sedikitpun keraguan dalam hati Aini, karena ia menikah orientasinya adalah akhirat. Tidak ada yang lebih membahagiaan dibanding bertambahnya keimanan dan ketakutan kita pada Allah Swt.

Aini memberikan jawaban itu pada Bu Anisa. Mereka berbincang panjang lebar. Bu Anisa sangat menyukai Aini, sebab tutur katanya halus, sopan dan tertata rapi saat berbicara. Wajahnya selalu terlihat tersenyum.

Selesai salat magrib berjamaah di masjid yang tak terlalu jauh dari rumah, keluarga besar itu pamitan. Sebelum pulang, Aini diberi cincin dan seperangkat kebutuhan wanita serta uang tunai untuk persiapan pernikahan.
"Jaga kesehatan ya" Nasehat Ibu Anisa. Aini kembali mengangguk dan tersenyum.
"Insyaallah Bu.." jawab Aini.

Mereka pulang. Aini dan ibu menghela lega. Rasa syukur memenuhi hati. Gadis itu terus berdoa mohon kemudahan dan kelancaran untuk semuanya.
***
Hari ini adalah hari kamis. Waktu begitu terasa cepat berputar. Matahari telah kembali ke peraduannya. Siang telah berganti malam. Aini masih bersimpuh di hadapanNya. Usai salat isya ia tatap gaun pernikahan yang diberi oleh keluarga Abdullah. Sederhana namun syari, gamis warna merah muda dipadu dengan kerudung merah. Dan aksesoris sederhana lainnya. Aini tersenyum. Ia teramat bahagia dan bersyukur.

Wajah Abdullah tiba-tiba terlintas di  benaknya. Ia malah tersipu dan tak mau berlama-lama mengingat Abdullah. Ia segera bangun dan bersiap-siap untuk tidur. Ia sengaja setelah isya tidak bantu-bantu para tetangga di dapur.

Saat mata mulai terpejam ponselnya berdering, satu pesan dari nomor  baru.
"Assalamualaikum. Afwan ukhti mengganggu waktunya. Saya Amirudin. Benarkah Besok Anti menikah?" 
Pesan itu membuat Aini terkejut. Karena yang mengiriminya pesan adalah Amirudin. Kawan yang pernah satu kelas sewaktu semester 3. Lelaki itu dulu pernah mengutarakan isi hatinya pada Aini. Tapi sayang, waktu itu Aini belum siap diajak menikah. Sehingga, Aini memilih untuk menjauh dan memutus semua koneksi terhadap Amirudin. Dia tidak mau terjebak rasa yang belum halal.

Bersambung...


Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!