Ku Pinang Engkau Karena Shalih (Eps. 3)

Oleh : Solehah Suwandi

Aini sampaikan berita bahagia itu pada ibu. Seorang janda tua yang hidupnya sangat sederhana. Alangkah bahagianya ibu mendengar berita itu.
"Alhamdulillah, semoga Allah mudahkan semuanya Ai" Ucap Ibu matanya berkaca-kaca.

Waktu seolah lama sekali berputar. Meski Aini sudah menyibukan harinya dengan dakwah dan menuntut ilmu, tetap saja ia tak bisa melepaskan ingatnya dari akhi Abdullah. Seiring bertambahnya perasaan yang menggebu semakin ia mendekatkan diri kepada Allah. Semakin penuh juga rasa cintanya pada  Allah.

Pulang kuliah, Aini segera mampir ke rumah Umi Sharla. Ini adalah jadwal kajian Aini bersama ke dua sahabat baiknya. Ika dan Hasna. Sepeda pinknya setia menemani kemana ia pergi termasuk ke rumah umi Sharla yang lumayan jauh.

Peluh di wajahnya semakin mengucur deras, siang yang teramat terik meski begitu hati Aini tetap bahagia, ia berdoa semoga setiap tetes keringat dan ayuhan sepedanya menjadi saksi di hadapan Allah ketika ia menghadapNya.

Aini tidak pernah iri pada kawan2 yg memiliki motor, baginya ia bisa kuliah dengan gratis sudah lebih dari cukup, sebab ia menyadari keadaan orang tua yang pas pasan.

Sebenarnya, bisa saja sih dia hidup bermewah2. Sekarang mudah bagi seorang wanita. Apalagi wajah Aini yang lumayan cantik. Tinggal nongkrong saja di tempat2 hiburan dan siap melayani pria hidung belang. Bisnis prostitusi yang sedang marak di kalangan mahasiswi dan siswi. Sebenarnya ini adalah fakta yang menysakan dada. Kesucian wanita seolah tak bermakna apa2.

Bagi Aini, kenikmatan dunia itu sebentar saja, jadi dia tidak mau menghabiskan masa mudanya hanya untuk memenuhi kebutuhan jasadiyah semata. Mencari kesenangan fana. Aini sangat miris melihat kondisi di sekitarnya yang luar biasa hancurnya. Tuntutan food feshion dan fun seolah menjadi kewajiban atas pemuda masa kini.

Sedih, semua ini akan terus berlanjut sampai adanya sebuah aturan tegas dr pemerintah atas perilaku menyimpang itu. Selain itu kewajiban pemerintah/pemimpin adalah mengurusi umatnya. Sebuah urusan yang jelas nyata melanggar norma2 negara, seperti prostitusi, korupsi, pembegalan, pemerkosaan, pembunuhan dan segudang kejahatan yang ada di negeri tercinta. Bukan hanya mengurusi atau memasalahkan atau mengada2 sesuatu yang sejatinya sudah sejalan dengan nilai2 dan norma negara. Contoh setiap warga negara berhak memeluk dan melaksanakan ajaran sesuai agama masing2. Hal itu seharusnya tak perlu dipermasalahkan.

Aini hanya bisa menghela dan terus berjuang semampunya. Setidaknya dia tidak berdiam diri, atau memiliki ilmu untuk dirinya sendiri.

Aini sudah sampai di rumah ustadzahnya,kedua temannya sudah dtang sejak dua puluh menit lalu. Kajian pun segera dimulai. Seminggu sekali, waktunya hanya dua jam ia mengikuti pembinaan ini. Supaya keimanan dan ketaqwaan semakin terpupuk. Kajian dua jam sekali ini ibarat carger yang akan menghidupkan semangat dakwah dan ibadah.

Usai kajian, Umi sharla menahan Aini.
"Nanti malam, Abdullah akan datang dengan keluarganya"
Aini terkejut, seharusnya hari minggu tapi ini masih hari rabu.
"Apa mi? Nanti mlem? Loh ko tiba2 mi?"
"Iya, soalnya hari jumat Abdullah ada jadwal mengisi kajian di luar kota, dia ingin sekalian mengajak istrinya untuk ikut menemani perjalnan dakwahnya. Jadi dia akan menikahimu setalah shalat jumat di masjid terdekat dengan rumahmu"

Mendengar itu, Aini tersipu malu. Pipinya merona senyum bahagia tak bisa ia sembunyikan dr wajahnya.
"Umi, apa yang membuat Akhi Abdullah mau menrima Aini? Padahal Aini tidak pernah kenal sebelumnya"
"Nah, Aini ga pernah kenal kan dengan dia?? Tapi Aini selalu cari tahu ttang dia? Ya begitupun dengan Abdullah, ternyata selama ini dia pun mencari tahu tentang mu. Kau memang tidak faforit dibanding kawan2 mu yang lebih cantik, tapi kau berprestasi, karya tulisanmu sudah di mana mana, kau juga terkenal pandai menjaga diri. Nduk, lelaki itu matanya awas (bahasa jawa, jeli, tajam) jadi dia tahu mana saja gadis yang pantas dijadikan istri dan mana yang tidak pantas. Jadi ga usah khawatir jd wanita yang shalihah tetap jadi pilihan para lelaki"

Aini menganggukan kepala bertanda paham. Selama ini dia tidak merasa melakukan apa2 agar lelaki tertarik padanya. Yang ia lakukan hanyalah mentaati perintah Allah dan Rasulullah.

Usai bercakap panjang Aini pamit. Kali ini ia percepat ayuhan sepedanya ingin segera pulang dan menyiapkan semuanya. Udara sore sudah mulai sejuk. Sepoi sepoi angin menemani perjalnannya. Sampai tiba di depan rumah. Ia dikejutkan dengan adanya mobil di pekarangan. Jantungnya berdegup kencang. Siapa yang dtang? Bukannya Abdullah dan keluaganya nanti malam datngnya??

Siapakah gerangan??
Bersambung....

Post a Comment

0 Comments