Wednesday, November 22, 2017

Ku Pinang Engkau Karena Shalih (Eps. 2)

Oleh : Solehah Suwandi

Sudah tiga hari Nur Aini tak enak makan, tak nyenyak tidur. Ia terus saja memikirkan hal itu. Rasa malu dan gelisah terus bergelayut di hatinya. Ia terus menambah amalan ibadahnya. Memohon yang terbaik menurut Allah.
"Ya Allah, aku ingin baik menurutMu. Bukan menurut aku seorang hamba yang memiliki napsu. Tapi ya Allah, aku mohon kuatkan aku jika nanti aku ditolak"

Ia menghela napas. Hari ini adalah jadwalnya mengunjungi sahabat baru yang ingin hijrah. Aini tak mau berlama2 di dalam kamarnya. Ia bergegas pamit pada ibu. Hanya ibu satu-satunya harta berharga yang ia miliki. Ayahnya sudah meninggal sejak ia duduk di bangku sekolah dasar.

Sebelumnya ibu sudah tahu rencana Aini melamar seorang ikhwan shalih, dan ibu merestui.
"Tenang saja, kalau jodoh tidak kemana?" Goda ibu melihat kecemasan di wajah putrinya beberapa hari ini.
Aini hanya tersenyum. Ia pamit pada ibunya.

Dengan sepeda pinknya ia mengayuh menempuh perjalaanan hingga 2km.

Sepanjang jalan, ia melafazkan ayat2 suci Al-Quran yang pernah ia hapal. Aini sangatt senang menggunakan waktu perjalnannya untuk murojaah atau mendengarkan murotal pake headset mungil di telinganya.

Karena hanya dengan mengingat Allah lah hati akan tenang. Kadang di dalam hati Aini sering berbicara sendiri. Keinginannya untuk hidup sesuai dengan syariat Islam, menggelora di dadanya, sehingga ia rela menempuh jarak yang jauh hanya untuk menyampaikan syariat Islam kepaada teman jauhnya. Aini ingin tak hanya kehidupannya saja yang Islami, tapi juga negerinya Islami.

Membutuhkan waktu 45 menit, akhirnya Aini sampai di rumah kawannya. Sebelummya ia sudah membuat janji dengan Karina. Temannya itu.
Karena menyambut Aini dengan senang. Mereka berbincang-bincang ringan. Tapi ada yang aneh, ayah dan ibu Karina seperti mengawasi pembicaraan Aini. Kelihatannya dari penyambutan tadi pun kurang bersahabat nampaknya. Tapi Aini tetap tenang dan mencoba berbaik sangka.

"Itu apa?" Tanya ayah Karina dengan nada menyelidik. Sebuah buletin keislaman yang ada dibtangan Karina pemberian dari Aini.
"Oh ini Pak, buletin dakwah"jawab Karina sesuai yang diucapkan tadi oleh Aini. Bapak menarik buletin itu agak sewot.
"Judulnya ko ngarah-ngarah ke radikal ya?" Protes bapak sambil menatap Aini tajam.
"Masa radikal pak?" Tanya Aini gugup.
"Ya ini bawa-bawa pemerintah, pake kritik2 segala pemerintah itu wajib kita taati. Lah wong dia ulil amri kita"

Jawab lelaki itu besengut. Aini tersenyum sambil menelan ludah.
"Besok Karina gak usah dikasih kaya neginiann lagi!!" Jelas bapak sambil melempar kertas itu di hadapan Aini. Ia berlalu dengan perasaan marah.
"Duh, maaf ya bapak emang kaya bgitu. Maaf ya Ai" Pinta Karina tidak enak. Nur Aini hanya tersenyum.
"Besok-besok mending kita ketemuan aja kalau mau ngobrol. Lagian aku juga tertarik dengan ucapanmu tadi. Bahwa kita harus taat pada pemimpin tapi pemimpin yang taat pada Allah dan Rasulullah. Tapi ini sebelumnya maaf ya, suasana hati bapakku lg ga enak. Tuh kamu dengar sendiri kan, barang2 itu jatoh bukan dengan sendirinya. Melainkan bapak yang membanting2. Duh maaf ya"
"Iya Rin, ga papa. Aku pamit dlu ya"

Aini segera pulang. Barang2 yang seolah2 jatuh itu masih terdengar sampai ia keluar dari pagar rumah. Aini hanya mengehla napas. Ia jadi seudzon sendiri dengan jenggot panjang bapaknya Karina.
"Astagfirullah, Aini!!! beliau belum paham. Jangan berburuk sangka"

Gadis itu terus mengayuh sepedanya dengan terus beristigfar. Di tengah perjalanan. Ponselnya memekik keras. Ia kaget sendiri.
Sebuah telefon dari musrifahnya umi Sharla. Jantung Aini berdegup kencang. Ia ragu mengangkatnya. Bagaimana dengan hasio keputusan akhi Abdullah?

Aini menarik napas. Tangannya beegetar menekan tombol terima telefon.
"Assalamualaikum umi" Aini tercekat.
"Walaikumsalam, nduk sedang di mana?"
"Masih di jalan Mi baru pulang dr rumah kawan. Gimana umi?" Bibiilr Aini pucat pasi.
"Iya Alhamdlillah, Abdullah menerima nduk. Barakallah. Insyaallah minggu depan akan datang ke rumah untuk menghitbah mu"

Ucapan umi memyusup membawa hawa kesejukan di hati Aini. Air mata wanita itu menetes perlahan. Ini adalah hari yang sangat membahagiakan menurutnya.
"Aini.. Aini, kau dengar umi kan?"
"Iya umi, Aini dengar ..." Suara Aini parau.
"Ya sudah kalau begitu, persiapkan dirimu"
"Iya umi"

Umi Sharla menutup telefonnya. Aini masih terpaku di tepi jalan. Hatinya bergema takbir. Ia malah menangis tersedu. Menangis bahagia.

Rasanya ingin cepat-cepat sampai rumah dan mengabari ibu. Ia percepat langkah sepedanya diiringi hati yang penuh syukur.

Bersambung...


Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!